Mimpi tentang Sebuah Revolusi

Sebuah novel provokatif yang asyik. Data sejarah terasa renyah.


Benarkah peradaban Atlantis terkubur di Laut Jawa? Pertanyaan ini sudah lama muncul dalam sains modern. Sudah banyak buku ditulis para ilmuwan mengupas peradaban manusia pertama di bumi ini. Banyak yang percaya, tak sedikit yang ragu. Satu-satunya bukti otentik paling purba hanya sebuah buku berjudul Timaeus and Critias yang ditulis Plato tahun 360 sebelum Masehi.


Buku ini berisi dialog antara Plato, Hermocrates, Timaeus, dan Critias tentang peradaban ideal. Sisanya, Atlantis lebih terasa sebagai mitos. Anak-anak muda anggota Kelompok Patriotik Radikal (Keparad) memilih percaya. Mereka yakin Indonesia yang telah menjadi negeri pagan ini menyimpan budaya adiluhung warisan Atlantis.


Mereka percaya kebudayaan Atlantis akan datang kembali, kelak dalam bentuk Negara Kelima. Waktu kelak itu harus dijemput dan persiapan harus disusun. Maka mereka menyiapkan sebuah revolusi karena revolusi adalah berjuta pilihan yang paling baik untuk mengubah Indonesia. Sudah tentu novel ES Ito, anak muda kelahiran 1981 yang masih kuliah di sebuah universitas negeri di Depok, ini berbicara tentang sejarah.


Risetnya tentang Atlantis dan tambo Minangkabau mengantarkannya pada satu kesimpulan bahwa Atlantis memang ada, bahkan melahirkan peradaban yang bisa dilacak hingga kini. Budaya Atlantis tumbuh dalam wujudnya sebagai kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (1948-1949).


Ini sebuah novel. Karena itu data sejarah disajikan dalam bentuk dialog antartokoh dengan seting tahun lalu. Data sejarah yang menghubungkan satu negara dengan lainnya disusun dalam teka-teki. Dengan cerdik, Ito meramu persiapan revolusi dengan perburuan teroris oleh Detasemen Khusus Antiteror Kepolisian Daerah Jakarta atas serentetan pembunuhan.


Keparad adalah kelompok yang dicap teroris. Organisasi tertutup ini merekrut anggota dari kalangan intelektual yang kecewa pada keadaan Indonesia. Mereka merusak jaringan komputer pemerintah, mengacaukan sistem perbankan, bandara, dan seterusnya. Seperti umumnya cerita detektif, setiap halaman membujuk karena menjanjikan sebuah penyelesaian tunggal di bab penutup.


Ito sukses membangun plot yang tak membosankan dengan membaginya ke dalam dua alur. Pertama, pelacakan polisi atas peristiwa pembunuhan; kedua, pencarian Pillar Orichalcum sebagai bukti orang-orang Atlantis pernah ke Minangkabau. Kedua plot berjalan bersamaan.


Polisi melacak Keparad dan tahu cita-cita mendirikan negara kelima dari keterangan dua anggotanya yang tertangkap. Dengan bantuan Budi Sasmito, ahli sejarah Atlantis lulusan Universitas Paris, perlahan-lahan mereka bisa mengungkap keberadaan Orichalcum dari hasil interogasi yang mirip mantra. Negara kelima adalah kebangkitan masa silam.


Ketika matahari hadir tanpa bayangan, keputusan diambil pada puncak yang terlupakan. Plot ini menciptakan sub plot lain yakni dituduhnya seorang polisi anggota Detasemen, Timur Mangkuto, sebagai pelaku pembunuhan. Dia jadi buronan paling dicari. Dalam pelariannya Mangkuto terpojok mengungkap dalang pembunuhan dengan memakai bahan yang sama: hasil interogasi.


Untuk mengurai simbol-simbol negara kelima dia dibantu ahli sejarah Universitas Indonesia, Eva Duani. Mangkuto adalah orang Minang sehingga tak sulit mencari sumber-sumber tambo. Eva adalah anak sejarawan gaek, Duani Abdullah, kawan Sasmito yang berseberangan. Kebangkitan Atlantis merupakan tesis kawannya yang lain, Sunanto Arifin dan Amirudin Syah.


Di tempat lain, anggota Keparad sibuk mencari petilasan PDRI di pedalaman Bukittinggi. Mereka menemukan bahwa Menteri Kemakmuran Sjafruddin Prawiranegara pernah bergerilya di sana dan satu-satunya orang luar yang disegani orang Minang. Petilasan itu makin mengukuhkan keyakinan bahwa negara kelima memang akan datang.


Proklamasi sudah ditentukan, seraya menunggu Pillar Orichalcum yang dicuri dari Museum Nasional oleh anggota yang menyusup ke Detasemen Antiteror, pada 23 September 2005 di puncak terlupakan —yang tak lain Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Para ilmuwan yang percaya Atlantis memang memperkirakan Gunung Krakatau adalah puncak tertinggi benua Lemuria.


Plot dan ramuan cerita seperti ini tak pelak mengingatkan pada cara bertutur Dan Brown dalam Da Vinci Code. Duet Timur Mangkuto-Eva Duani mengingatkan kita pada duet Robert Langdon-Sophie Neveu dalam mengungkap anagram dan kode- kode lukisan Leonardo da Vinci, seraya diburu waktu dan uberan polisi Paris. Ito tak memungkirinya.


Saya mungkin terpengaruh, katanya, tapi cerita ini sendiri membutuhkan duet dua orang itu. Dalam kelindan cerita yang penuh kejutan itu, Ito tak lupa menyentil perkembangan terkini. Ia mengambarkan polisi yang korup, ilmuwan yang haus duit, anak-anak muda hedonis, juga sedikit kisah cinta. Ito kembali menyajikan kisah menegangkan setiap kali retorikanya mulai membosankan.


Ia menyajikan teka-teki baru setiap kali misteri lama sudah terbongkar. Terus begitu hingga kita tahu dalang pembunuh, Atlantis yang cuma mitos, Orichalcum hanya benda purba yang didagangkan, revolusi hanya mimpi. Tapi keasyikan membaca terganggu oleh hasil penyuntingan yang payah dan jorok. Banyak kata umum ditulis dengan persepsi yang salah.


Kesalahan itu konsisten hingga akhir halaman. Kata ‘mengubah’ ditulis ‘merubah,’ ‘laptop’ dengan ‘labtop,’ ‘aktivitas’ dengan ‘aktifitas,’ ‘telanjur’ dengan ‘terlanjur,’ ‘risiko’ dengan ‘resiko,’ bahkan satu nama untuk orang yang sama ditulis dalam dua versi. Imam Muhtarom, penyunting novel ini cuma tertawa. Itu mungkin terlewat, katanya, saya hanya memeriksa logika cerita.


Soal lain yang cukup mengganggu misalnya, penyamaan Aleksander yang Agung dengan Alexander the Great dan Iskandar Zulkarnain. Ito tak mengupasnya lebih jauh dengan mendasarkan pada data empiris tentang dua tokoh ini. Al Quran sudah menyebut soal Zulkarnain, literatur Barat juga banyak mengupas soal Alexander. Ini mengganggu karena Orichalcum disebut-sebut dalam tambo sampai ke Sumatera dibawa oleh pasukan Aleksander.


Aleksander yang mana? Juga bolong dalam kisah. Anggota Keparad sangat terdidik. Mereka eksekutif, aktivis yang garang dan militan, pemikir yang tekun tapi teperdaya oleh bujukan sejawaran yang mendasarkan tesisnya pada mitos. Gerakan dan strategi revolusinya jelas tak rasional. Padahal revolusi adalah tulang punggung cerita.


Untuk bagian ini, uraian cita-cita mereka agak tak masuk akal sejak awal karena ideologinya sungguh tak meyakinkan. Saya memang tak menawarkan strategi revolusi. kata Ito. Revolusi masih sebatas mimpi. [1]

BAGJA HIDAYAT

dibaca oleh: 1818 pengunjung