Pelarian yang Membawa Manfaat [How The Worlds Makes Love]

 Kira-kira, apa yang anda lakukan ketika calon pasangan anda membatalkan untuk menikah dengan anda? Frustrasi? Stress? Bunuh diri? Atau Balas dendam? Tentu itu semua bukan cara yang positif. Alangkah hebatnya jika kekecewaan anda dijawantahkan kepada hal-hal positif nan manfaat. Seperti yang dilakukan Franz Wisner. Lantaran dicampakkan oleh calon istrinya yang telah dipacari selama 13 tahun, ia bertualang keliling dunia. Hebat bukan?

      Buku ini adalah “oleh-oleh” yang kedua dari hasil petualangannya yang kedua pula. Petualangan periode pertama, diniatkan untuk mengobati luka hati akibat dicampakkan oleh calon istrinya itu, sedang petualangannya yang kedua ini hendak mempelajari lebih dalam kisah cinta dan perilaku-perilaku percintaan di negara-negara lain.

      Ditemani adiknya, Franz bertualang ke Negara Brazil, India, Nikaragua, Republik Cheska, Mesir, Selandia Baru, dan Botswana. Tanpa alasan yang jelas mengapa dia memilih negara-negara itu.

      Dalam meneliti Negara-negara di benua Eropa dan Amerika, seperti Brazil, Republik Cheska, dan Selandia Baru, Franz tidak begitu “sumringah” untuk melakukan identifikasi. Karena, prihal “percintaan” di sana hampir sama, di mana cinta selalu diidentikan dengan seks. Simpel dan praktis. Franz “hanya” menemukan kisah-kisah baru nan unik yang belum pernah didengar maupun dialami sebelumnya di negara-negara di luar benua eropa dan amerika.

      Di India, misalnya, dia mendapatkan informasi bahwa segala urusan cinta dan pernikahan masih dimulai dan diakhiri oleh orangtua. Kebanyakan pernikahan di India merupakan hasil perjodohan, meskipun pasangan yang bersangkutan mendapatkan semakin banyak hak untuk berpendapat dalam hal ini, memperluas kesempatan untuk memveto atau menyarankan, dan waktu tambahan untuk berpacaran atau menjajaki hubungan sebelum mereka menikah. 

      Sedang di Botswana, sebuah negara di Afrika, Franz mengetahui kalau kita mengatakan kepada wanita bahwa dia gendut, berarti kita memberinya pujian besar. Kebanyakan pria justru menyukai wanita yang gendut untuk dijadikan istri, karena dianggap akan rajin mengurus rumah tangga. Dalam pikiran mereka, wanita yang kurus akan lebih mencintai tubuhnya daripada pasangannya.

      Kalau anda ingin menikah dengan orang Botswana, anda akan memerlukan keluarga yang sangat dekat. Seorang abang atau sepupu yang bisa bernegosiasi akan dapat membantu. Yang lebih penting lagi adalah anda harus memerlukan hewan ternak berupa sapi. Di Botswana dan sebagian besar Afrika, sapi penting untuk pernikahan.

      Selama berabad-abad, adat istiadat di sana mengharuskan mempelai pria menghadiahkan sekawanan kecil sapi kepada keluarga mempelai wanita sebagai simbol penghormatan karena mereka telah mengizinkan putri mereka dinikahi. Tradisi itu disebut bogadi atau lobala, sebagai cara untuk memperkuat ikatan antara kedua keluarga dan sebuah keharusan untuk berbagi kekayaan.

      Lain halnya di Mesir, sebuah Negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Franz mendapatkan budaya di sana jika ada seorang wanita yang tertangkap basah sedang memandangi pria akan dianggap sebagai wanita jalang dan dikecam oleh masyarakat di sekitarnya. Mayoritas wanita kelas menengah ke bawah di sana memakai cadar dan jubah. Franz bertanya-tanya dan begitu penasaran, bagaimana para pria memastikan wanita impiannya jika seluruh tubuh wanita itu tertutup cadar dan jubah?

      Saat menanyakan hal itu, para pria Mesir mengatakan bahwa mereka bisa melihat kecantikan seorang wanita meski mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Pergelangan tangan dan kaki, kata mereka, menyembunyikan lekuk-lekuk yang tersembunyi. Dan mata mengungkapkan segalanya.

      Sebagian pria Mesir memperhatikan bagian belakang pergelangan kaki wanita. Jika bentuknya bulat, berarti tubuhnya indah. Jika bentuknya lurus, berarti tubuhnya terlalu kurus. Pria dan wanita Mesir memandang kerampingan sebagai indikasi kemisikinan dan ketidakmampuan menghasilkan keturunan. Oleh karena itu, para wanita saling menyemangati untuk mengenakan pakaian berlapis-lapis dan makan lebih banyak agar badan mereka semakin gemuk.

      Di perkampungan Mesir, masyarakatnya tidak mengenal istilah kencan. Mereka langsung menikah. Ajaran Islam benar-benar mereka pegang. Mereka sering mengutip Hadis Nabi, “Jika seorang pria yang beriman dan berkelakuan terpuji mendatangimu, nikahkanlah dia dengan putrimu.”

      Bagaimana bisa? Franz benar-benar terperangah. Apakah tidak ada penyesalan yang akan datang di kemudian hari? Apakah yang terjadi jika mereka mendapati bahwa mereka tidak memiliki kesamaan?

      Tidak masalah, kata orang Mesir. Itulah gunanya pertunangan. Bagi banyak orang Mesir, ini adalah Rencana B. Pertunangan hanyalah tahap pacaran resmi dengan selubung rencana pernikahan untuk mengurangi peluang kehilangan kehormatan bagi seorang wanita atau keluarganya.

      Uniknya lagi, di Negara muslim ini, Franz menemukan bahwa prihal seks begitu terbuka.

Bagi siapa pun yang memikirkan tentang seks di dunia Muslim adalah bahwa banyak instruksi eksplisit dan dorongan. Tidak ada pesan tersembunyi di sini. Faktanya, sejarah telah membuktikan bahwa umat Muslim jauh lebih terbuka daripada orang-orang beragama lain tentang seks dan peranan yang selayaknya dipegangnya dalam masyarakat.

      Buku hasil observasi ini begitu nikmat dibaca, karena dipaparkan dengan bahasa yang ringan, naratif, dan bertaburan humor. Selain itu, ia menyajikan kesimpulan hasil perjalanannya itu yang dapat kita ambil, di antaranya bahwa di seluruh dunia, nasihat pasangan yang awet ternyata sama: Komitmen, dan pengertian. Dan untuk mencapai hal itu butuh kerja keras. Kita cenderung menyembunyikan emosi di balik harta benda dan menampilkan kesan yang tidak akan dikecam oleh dunia kita. Sering kali, kita lebih mementingkan gaya hidup dari pada kehidupan di belakangnya.

      Bagaimanakah akhir petualangan Franz Wisner? Pelajaran cinta apakah yang di dapatnya dari berbagai penjuru dunia? Lantas, berhasilkah dia menemukan cinta sejatinya? Temukan jawabannya dalam buku ini.[] 

M. Iqbal Dawami, blogger buku di http://resensor.blogspot.com 

dibaca oleh: 1013 pengunjung