The Year of Living Dangeruosly

Pengarang          : Christopher Koch

Penterjemah     : Yuliani Liputa

Penyunting        : M. Sidik Nugraha

Hal                      : 493

Penerbit            : PT Serambi Ilmu Semesta

                             Cetakan 1, September 2009

              Asisten Anda, Kumar, Adalah seorang PKI

             Sebuah pesan singkat terketik rapi diatas sehelai kertas segi empat, tanpa nama pengirim,  dimasukan dalam sebuah amplop putih yang  tertutup rapat, tergeletak di atas karpet. Sengaja diletakan ditempat yang mencolok agar Guy Hammilton bisa menemukannya. 

             Guy Hamilton seorang wartawan yang baru dipindah ke Indonesia untuk menggantikan pendahulunya Potter. Saat itu wartawan Inggris dan Amerika dicekal, hingga untuk urusan berita mereka dilayani sebagian besar oleh Australia. Masalahnya Potter meninggalkan Indonesia tanpa memberikan Guy ”Kontak-kontak” yang bermanfaat. Untung saja ia bertemu dengan seorang juru kamera lepas, Billy Kwan. Kwan menjadi mata Guy selama di Indonesia,   sekaligus menciptakan Guy.

             Pertemuan pertamanya dengan  Jill, seorang sekretaris di Kedutaan Besar Inggris juga berkat campur tangan Kwan. Belakangan hubungan tersebut memicu tumbuhnya cinta segitiga diantara mereka.

              Dengan mengambil latar belakang tahun 1965, yang dikenal dengan istilah  "Vivere Pericoloso” (Hidup Penuh Bahaya), novel  yang terdiri dari tiga bagian ini bercerita tentang  banyak hal. Mulai dari situas politik yang tidak menentu, semangat konfrontasi dengan negara tetangga,  persaingan memperebutkan hati seorang wanita, persahabatan dua orang dengan latar belakang yang berbeda, hingga peristiwa  yang dikenal dengan G-30 S PKI.

             Mereka berdua, Bangsawan Guy serta Kurcaci Hitam, julukan untuk keduanya, bersama-sama menyelusuri perkampungan kumuh di Asia, dimana  wangi cengkeh dan pala tajam tercium. Bersosialisasi dengan sesama wartawan asing di Wayang. Wayang   adalah bar orang asing di hotel orang asing, jauh dari jangkauan kecuali mereka yang paling kaya dan paling berkuasa di Indonesia. Berbagi cinta kepada wanita yang sama serta mimpi.

             Dengan bantuan Kwan,  Guy  melakukan gebrakan dengan  wawancara  Ketua PKI, Aidit. Tokoh yang nyaris mustahil diwawancarai saat itu.  Aidit memilihnya sebagai saluran penyampaian topik yang ingin didiskusikan Aidit. Tidak ada komentar untuk yang lainnya, hanya Guy yang dipilih diantara jurnalis lainnya di Jakarta. Dia merasakan kemenangan, tetapi juga seperti diperalat. Walau harus diakuinya, sejak saat itu reputasinya melonjak cepat.

              Bagi mereka yang lahir setelah tahun 1965, banyak tambahan pengetahuan  sejarah yang bisa didapati dalam novel ini. Misalnya tentang Politik Mercusuar yang sering disebut-sebut sambil lalu dalam pelajaran sejarah di sekolah.   Politik Mercu Suar ternyata merupakan sebutan untuk kegiatan Presiden Sukarno menghabiskan uang yang jumlahnya tidak sedikit untuk membangun monumen-monumen megah. Sementara di dalam negeri sendiri kondisi ekonomi Indonesia lemah, lalu pertunjukan wayang yan ditulis ulang dan dipertunjukkan di Istana Bogor sebagai untuk mempermalukan bawahannya.

             Disebutkan juga bahwa Bung Karno memiliki banyak sebutan, selain Pemimpin Besar Revolusi. Antara lain,  Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Pengembang Amanat Penderitaan Rakyat, Gembala Agung dari Gerakan Wanita Revolusioner, Bapak Para Petani, Pemimpin Besar Para BuruhmKomandan Utama Revolusi Mental.

              Banyak kejutan-kejutan yang bisa ditemui dalam buku ini. Tanpa sadar Christopher Koch telah memuja Indonesia seperti yang diutarakan pada salah satu bab nya: ”Tidak ada kerajaan di bumi yang bisa menyamai negara ini, kerajaan yang merupakan gerbang dunia.”

            Kalaupun ada yang mengganggu pada buku ini adalah perihal penyebutan nama. Disebuah kalimat Billy Kwan disebut sebagai Billy, namun beberapa baris dibawahnya menjadi Kwan, padahal diucapkan oleh orang yang sama.

-Truly Rudiono-

http://www.goodreads.com/user/show/1731272-truly

 

dibaca oleh: 1040 pengunjung