Sahara: Ketika Aladdin, ali Baba, dan Sinbad Bertarung Dengan Jin Sakti

Diambil dari: http://fikfanindo.blogspot.com/2009/10/sahara-ketika-aladdin-ali-baba-dan.html


Data Buku: 

Penerbit: Serambi
Penyunting: Moh Sidik Nugraha
Penyerasi: Eldani
Pewajah isi: Siti Qamariyah
Tebal: 335 halaman


Saat pertama kali melihat sampul novel ini terpajang di toko buku, sempat saya mengira bahwa novel karya Nugraha Wasistha ini bergenre humor atau komedi seribu-satu malam, atau lelucon ala sufi semacamnya kisah-kisah Abunawas, yang lazimnya dikata-pengantari oleh seorang Kyai Anu bin Fulan.

Sampulnya berwarna merah, sedikit ornamen geometris ala Timur Tengah, dan spot hitam membentuk asap dan siluet tiga orang Bhagdad seperti sedang bertengkar memperebutkan tempat parkir onta. Belum lagi judul yang dibuat apa-adanya, tanpa bermaksud bermanis-manis atau bersastra-ish layaknya novel. Liat nih: SAHARA: Ketika Aladdin, Alibaba dan Sinbad Bertarung dengan Jin Sakti. Wooosh, seolah ada 'ayat-ayat abunawas' melintas di latar belakang benak gue.

Tapi sesuatu dalam sinopsis buku yang membuatku menyimpulkan bahwa ini adalah karya novel, yang somehow berusaha membuat suatu alternate situations dimana tokoh-tokoh fiksi Sinbad, Aladdin, dan Ali Baba berada pada ruang-waktu-tempat yang sama.

Aku cuplikkan abstraknya di sini:

Sinbad, petualang yang menjadi mubalig. Dia berkelana ke seluruh dunia untuk berdakwah kepada para penjahat besar dengan pilihan: tobat atau mati!

Ali Baba, masa kecil yang tragis membawanya jadi pencuri cilik yang paling licin di seluruh Arab. Julukannya adalah tikus gurun yang selalu menemukan jlaan masuk maupun keluar dalam semua aksinya.

Seorang sultan muda yang misterius bernama Aladdin meminta bantuan mereka untuk mendapatkan kembali lampu wasiatnya di Sahara.

Ketiganya menjadi kawan sekaligus lawan. Di tengah perjalanan menuju jantung gurun terganas di dunia itu, mereka haru smengatasi bajak laut. Bahkan mereka terjebak dalam permainan Jin Sakti penghuni lampu ajaib

Okey, interesting,...

Tiga karakter terkenal dalam cerita seribu satu malam, bahkan tiga-tiganya udah masuk dalam jajaran film Disney. Tapi tanpa mengaitkan dengan karakter yang udah duluan eksis dalam film, saya menemukan premis yang masih unik dalam karakter besutan mas Nugraha ini. Misalnya si Sinbad, yang punya kredo: Tobat atau mati! Terasa nuansanya jadi beda dengan Sinbad orisinal.

Dan saat mulai kubuka halaman pertama menyimak petualangan ala seribu satu malam dikombinasi aura Indiana Jones,... well, I'm hooked until the last page!

Lagi-lagi, gue ditipu sama Cover. Gak bilang covernya jelek, sih. Cuma menggiring ke arah persepsi yang salah aja. Kupikir novel banyol gak tahunya it's a Fantasy, and a good one.

Cerita dibuka dengan adegan Sinbad di geladak sebuah kapal. Apa uniknya? Hehehe. Sinbad di sini adalah seorang mubalig separo baya. Dan dia sedang berada di geladak kapal bajak laut yang dipimpin kapten Blackbeard, si bajak laut legendaris. Dan si mubalig Arab ini sedang berdakwah untuk mengembalikan para bajak laut ke jalan yang benar. Masalahnya, dia berdakwah dalam kondisi basah kuyup dan terikat erat dengan jaring, di bawah ancaman pedang berkilat para bajak terganas di laut mediterrania.

Tentunya dia sanggup meloloskan diri, melalui rangkaian action yang mensignifikansi kekerenan adegan-adegan aksi di dalam buku ini dari awal sampai akhir. Sedap. Membacanya seolah merekaulang sebuah tontonan film laga seribu satu malam yang penuh koreografi loncat-ayun-salto-sana-sini, dipadu ketangkasan bela diri macam film kungfu. Sangat menghibur.

Selain adegan-adegan aksinya, novel ini juga memiliki line dialog yang top punya. Luwes sekali si pengarang ini, membuat dialog antar budaya (ada kebudayaan arab, inggris, amerika) secara pas dan berkarakter. Menggunakan bahasa arab, mantap. Menggunakan setting bahasa Inggris, pas juga. Setiap kalimat dialog tertata dengan penuh perhitungan, memasukkan unsur karakter pengucapnya yang di-infuse dengan perbedaan budaya dan latar belakang kehidupan masing-masing.

So, gaya bicara Sinbad beda banget dengan Ali Baba biarpun sama-sama arab. Saat menghadapi counterpart bangsa Inggris pun, Sinbad punya cara bercakap-cakap yang kelihatan beda. Susunan dialog para tokok-tokohya, cara lempar umpan dan tangkapannya, juga menunjukkan kelas yang Smart dan mengasyikkan. Menurut gue sih, dialog-dialog dalam buku ini adalah termasuk yang terbaik.

Juga karakterisasinya. Tokoh-tokoh yang awalnya digambarkan hitam-putih ini ternyata memiliki kedalaman dimensinya masing-masing. Sinbad tampak perkasa dan tanpa kompromi terhadap orang tak beriman (rada stereotip fanatics juga, sih), dalam perjalanan cerita menemukan pelajaran yang menggoyahkan kekerasan dogmanya. Ali Baba yang super-cerdik, tumbuh dengan egoisme tinggi dari seorang yang survive di alam keras, akhirnya menumbuhkancompassion terhadap orang lain. Bahkan tokoh-tokoh antagonis pun digambarkan memiliki karakter yang berdimensi.

Satu ciri yang kuat dalam novel ini adalah tempo ceritanya yang gesit, cepat. Dan terasa 'visual' banget. Ternyata profil penulisnya menyebutkan bahwa Nugraha Wasistha adalah jebolan Desain Komunikasi Visual yang sering jadi juara komik. Well, pantesan aja.

Setting novel ini adalah dunia Arab tahun 1856. Lumayan eksis zaman itu di tangan pengarang. Area di Turki cukup lengkap dijabarkannya, kehidupan budaya masyarakat, property khas seperti Bazaar (pasar),Hammam (pemandian), dan Caravanserai (drive-in khusus Caravan. Unik nih, bahkan di film-film Indiana Jones aja belum gue temui referensi bangunan kayak gini, padahal masukakal banget) mewarnai penggambaran Istanbul di abad 19. Keren, realistik dan nggak membosankan.

Trus, apa lagi ya? Inilah saatnya semua elemen-elemen kuat digabung menjadi suatu karya yang menarik. Kalau sudah menjadi satu kesatuan, yang matters tinggal gimana plotnya, gimana temanya, gimana missinya ingin disampaikan oleh pengarang.

Mungkin singkat aja kukomentarin, biar gak terlalu spoiler. Jalannya plot cukup mulus dan lurus, semakin masuk dalam suasana fantasy-adventure, aksi filmikal sampai pada plot twist di ujung yang cukup logis gak asal twist doang. Satu hal yang aku suka adalah filosofi yang mendukung character development, terutama terhadap dua tokoh utama, Sinbad dan Ali Baba. Juga detail-detail psikologis masing-masing karakter. Dan konklusi dari segala plot ini adalah: Iman dan Akal yang menyelamatkan segalanya!

Lantas protesnya apa? Well, untuk materi sebagus ini, pengarang (sudah) memilih hanya single edisi (Gasp, surprise!). Gak terlalu kelihatan bakal ada sekuel, kalau pun ada kayaknya juga bakalan beda nuansanya. Itu aja sih, sayang gak jadi serial, hehehe.

Tapi aku yakin, mas Nugraha Wasistha kalo bikin novel lagi, pasti minimal bakal sama kerennya!

Go for it, it's a quite recommended read! 


FA Purawan

dibaca oleh: 2710 pengunjung