Membaca Curhat Para Ibu

Oleh          : Fenny Aprilia

Judul Buku : Whoever You Are, I Love U Mom, Kisah Nyata 116 Anak Perempuan                   Tentang Suka Duka Hubungan Mereka dengan Sang Ibu

Judul Asli   : I Am My Mother’s Daughter; Making Peace With Mom Before It’s                       Too Late

Penulis      : Iris Krasnow

Penerjemah : Rahmani Astuti

Penerbit      : PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta

Tebal Buku  : 319 halaman

Edisi            : Cetakan Pertama, Oktober 2008. Cetakan Kelima, Februari 2009

No. ISBN      : 978-979-1275-45-3

Harga          : Rp. 60.000


      Pada mulanya, seorang perempuan ialah anak ibunya. Perlahan tapi pasti, status itu bermetamorfosis; perempuan tersebut menjadi ibu bagi anak-anaknya. Takdir menjadi ibu, agaknya, memang tak bisa dielakkan oleh kaum perempuan. Iris Krasnow—seorang ibu dari empat anak lelaki, kontributor untuk United Press International dan ahli ilmu komunikasi—mendedahkan cerita-cerita para perempuan dalam balutan takdir terkait status ibu dalam buku ini.


      Ide penulisan buku setebal 319 halaman ini sederhana. Iris Krasnow merasakan gejolak batin ketika menyadari bahwa ia adalah seorang ibu bagi empat anak lelaki, sementara ibunya telah bersulih diri menjadi seorang nenek. Perubahan status seharusnya menyebabkan tatanan peran yang berganti pula. Namun, realitanya tidak demikian. Helene Krasnow, ibu Iris, kerap bersikap seolah rumah tangga Iris dan Chuck merupakan bagian dari kekuasaannya. Hingga suatu saat, Iris harus mengucapkan “f---k you, Mom,” karena kesal dengan ibunya yang mengatakan bahwa keempat cucunya sangat kurang ajar.


      Beberapa hari setelah itu, Iris menelepon ibunya dan berkata, “Mereka anak-anakku dan akulah yang berhak menegurnya.” Segala basa-basi meleleh. Iris menggelontorkan semua kekesalan yang telah lama dipendam karena merasa gagal menemukan sosok ibu idaman di dalam diri Helene. Kesadaran Iris tersentak ketika ‘daftar kekecewaannya’ hanya dijawab begini oleh Helene, “Kamu toh baik-baik saja. Selalu ada makanan di atas meja dan aku sudah berusaha sebisaku.”


      Sebuah pemahaman baru terbuka bagi hubungan ibu-anak dalam hidup Iris Krasnow. Memimpikan ibu yang sempurna adalah kesia-siaan. Ibu kita adalah perempuan yang mengurusi anak-anaknya sebaik yang ia mampu. Berawal dari kejadian dan pembentukan makna baru dalam hubungan ibu-anak itulah yang membuat Iris mewawancarai lebih dari seratus perempuan yang hidup di usia senja bersama ibunya.


      Perempuan-perempuan yang ‘menitipkan’ kisah hubungan ibu-anak yang mereka lewati sepanjang hidup untuk ditulis Iris dalam buku ini, berasal dari berbagai latarbelakang profesi, budaya hingga orientasi seksual. Buku ini bagaikan lingkaran kalung jiwa perempuan yang amat panjang.


      Ibu merupakan sosok yang tergambar dalam dua jenis arketipe dalam peradaban dunia, yakni positif dan negatif. Arketipe positif misalnya kita lihat pada lukisan Madonna karya Fra Filippo Lippi di tahun 1455. Lukisan yang sering dijadikan contoh karya di zaman Rennaisance itu menggambarkan seorang ibu yang sedang menyusi anaknya. Sedangkan arketipe ibu negatif terlihat dalam sosok Medusa, seorang perempuan berambut ular dengan tatapan yang bisa mengubah seseorang menjadi batu.


      Arketipe ‘ibu yang baik’ dan ‘ibu yang menakutkan’ memang menghiasi lembar lepas lembar dalam buku yang berjudul asli I Am My Mother’s Daughter; Making Peace With Mom Before It’s Too Late. Seorang perempuan boleh saja menganggap bahwa ibunya lebih mirip Medusa ketimbang Madonna. Tapi, ia niscaya menyadari bahwa sosok ibunya sangat memengaruhi kepribadian yang menjadi citra dirinya selama ini. Ketika telah menjadi seorang ibu, perempuan akan merasa bahwa ia pun sama cerewetnya dengan sang ibu.


      Buku ini menjadi lebih kaya warna karena Iris langsung menyalin cerita dari narasumber. Kita, ketika sedang melahap tiap bab dalam buku ini, bagaikan mendengarkan curhat para ibu tentang ibu biologis mereka. Pembaca diajak meresapi konflik, penyatuan dan sikap memaafkan yang terjadi diantara hubungan ibu dengan anak perempuannya. Iris Krasnow mampu menegaskan sebuah pesan sederhana melalui buku ini, yakni setiap ibu adalah anak dari ibunya.


      Iris pun menyarankan agar kita mau menelisik sejarah kehidupan yang pernah diarungi ibu kita. Cerita tentang salah sangka aktris Jane Fonda terhadap sosok ibunya diajukan sebagai salah satu contoh oleh Iris (hlm: 254-255). Frances Fonda mati bunuh diri ketika Jane berumur sebelas tahun. Jane Fonda, bertahun-tahun, menganggap ibunya sebagai sosok yang lemah. Namun, ketika berusia 67 tahun, Jane tercengang dengan pengakuan teman-teman ibunya. “Ibumu adalah perempuan yang bersemangat, suka bersenang-senang. Perempuan setegar batu karang,” simpulan pengakuan yang jauh dari dugaan Jane. Aktris kesohor di Amerika Serikat itu mulai menyadari bahwa ‘bakat ketabahan’ yang mengalir di tubuhnya—ketika berhadapan dengan suami-suami yang tak setia, bulimia dan penghargaan seksual yang rendah—ternyata berasal dari sang ibu.


      Buku ini juga menunjukkan bahwa waktu ternyata merupakan sarana efektif untuk mengobati kekecewaan, mengungkapkan kejujuran dan menghadirkan pengampunan. Iris meyakinkan pembaca bahwa kemampuan teknologi dalam bidang kesehatan yang makin baik dari tahun ke tahun niscaya memperpanjang usia manusia. Hingga sangat mungkin terjadi sebuah peristiwa dimana seorang perempuan berumur 60 tahun masih bisa makan malam dengan ibunya yang berusia 90 tahun.


      Akhirnya, Iris menghadirkan buku ini agar tiap perempuan mampu menerima ibu mereka apa adanya. Ketika usia bertambah tua dan seorang perempuan masih bisa menjalani hidup bersama ibunya, maka tak ada alasan untuk menutup diri seperti seorang remaja.(*) 


*Penulis adalah Alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

dibaca oleh: 1550 pengunjung