Novel Detektif Gaya Jepang

Novel detektif selalu menarik perhatian, dimana pun terjadi kisahnya dan siapa pun pengarangnya. Kita mengenal Agatha Christie yang mengisahkan detektif  Belgia Hector Poirot yang beoperasi dimana-mana, sampai di atas kereta api  The Orient Express yang melintasi daratan Eropa ( Murder on the Orient Express). Kali lain dia kisahnya berlatar sungai Nil. Di Surabaya dulu ada penulis kisah detektif yang menawan yang melahirkan serial Naga Mas dan juga Garuda Putih, yang setiap terbitnya laku bak pisang goreng.

I.J. Parker walaupun bukan orang Jepang, memilih latar Jepang selama periode Heian ( 794-1185). Menurut pengarangnya, beberapa alur dalam novel ini mengikuti kisah-kisah Jepang Kuno seperti Uji Shui Monogatari dan Sannin Hoshi, selebihnya karangan pengarang sendiri.

Kisahnya menyorot penugasan Sugawara Akitada, bangsawan berusia pertengahjan dua puluhan, pejabat pemerintah pusat untuk menyelidiki pengiriman pajak dari Propinsi Kazusa yang raib tanpa jejak beberapa kali. Dalam tugasnya dia ditemani oleh Seimei, pelayan keluarga yang dapat dipercaya, serta Tora, seorang pelarian yang akhirnya menjadi pelayannya pula.

Beberapa kali pengiriman pajak hilang tak tentu rimbanya, entah dirampok atau lenyap ditelan bumi. Karenanya Gubernur Propinsi Kazusa menjadi target kecurigaan utama. Namun, ternyata pembukuan gubernur bersih, dan kecurigaan beralih ke orang-orang lain, seperti Residen Ikeda, sampai Joto, kepala Biara Empat Wajah Kebijaksanaan, sebuah biara dengan pemimpin baru yang melonjak keharuman namanya dan sampai membangun bangunan biara baru yang tentunya menghabiskan biaya cukup besar. Kecurigaan dicoba ditepis bahwa dana pembangunan berasal dari masyarakat, namun kecurigaan Akitada muncul lantaran sejumlah biksu yang berkeliaran di kota memburu wanita cantik, dan pada suatu kesempatan bertarung mengeluarkan senjata naginata, semacam pedang.

Akitada sempat menyaksikan lukisan gulung karya Otomi, puteri bungsu Higekuro, seorang pelatih bela diri yang pincang. Pelukis cantik ini melukis lukisan Badai Naga diatas scroll, kertas atau kain yang dapat digulung, melukiskan seekor naga, namun saat diperhatikan, lukisan tersebut melukiskan sebuah peristiwa perampokan yang dilakukan pasukan dengan penutup kepala, dan mereka bersenjata naginata, serta salah satu peti pembawa harta kelihatan ada bekas terbakar, yang nantinya terungkap karena terbakar lampu yang tumpah.

Dari penelusupan Akitada, Ayako, kakak Otomi, yang guru bojutsu, dan Tora ke biara, melalui jalan rahasia memanjat tebing bukit, mereka menemukan di dalam gudang sejumlah bungkusan yang berisi naginata yang jumlahnya sampai ribuan, peti-peti pembawa emas yang sudah kosong, serta ruangan bawah tanah tempat memenjara kepala biara yang lama dan para pengikutnya yang setia.

Rencana penyerbuan biara disusun rapi bersama gubernur Motosuke, kapten Yukinari, yang awalnya dicurigai terlibat pembunuhan Lord Tachibana, mantan gubernur namun dapat memberikan alibinya, dan sakisi mata yang melihat seorang lelaki berjubah biru meninggalkan rumah pagi setelah pembunuhan.

Operasi penangkapan berhasil, walaupun Joto menyandera bocah cilik yang menjadi rahib muda dan mengancam membunuhnya, dan setelah pembunuhan benar-benar terjadi, ibu si bocah kalap dan membunuh Master Joto.

Kisahnya tentu tak sesederhana itu. Masih ada kisah sampingan tentang terbunuhnya Higeguro yang berhasil membunuh lima penyerangnya, semuanya rahib, yang mencari lukisan Badai Naga karya Otomi, puterinya. Juga kisah terbunuhnya Lord Tachibana, yang melibatkan kekasih gelap Lady Tachibana, yakni Residen Ikeda. Rahasia luka dim kepala Tachibana dengan bekas pecahan jambangan keramik, pecahan hiasan bunga Morning Glory yang berada di tangan  Jasmin, pelacur rendahan, padahal hiasan tersebut milik almarhumah Lady Asago di ibukota yang terbunuh. Seluruh detail tersebut terungkap  menyatu dengan apik pada akhir kisah. Ayako yang penah memberikan dirinya pada Akitada tidak akan menikah dengannya tetapi dengan  bekas sersan Hidesato yang akan aktif kembali bekerja di garnisun.

Kepiwaian Parker menjalin kisah tak diragukan, hanya deskripsi tentang kekumuhan wilayah yang dikisahnya terlalu umum, kurang hidup. Dalam vesi terjemahan, tatami diterjemahkan menjadi tikar, padahal tatami punya ukuran tertentu untuk ruang tertentu, dan deskripsi mengenai ruang-ruang berdinding kertas tak pernah disinggung sama sekali, juga bentuk rumah Jepang seolah pembaca sudah dianggap tahu.

Namun, sebagai kisah detektif, novel ini perlu dibaca, apalagi penerbitnya menawarkan akan menerbitkan kisah petualangan Akitada yang lain.** Sunaryono Basuki Ks, pecinta buku.

Judul novel : The Dragon Scroll

Pengarang: I.J. Parker

Penerjemah: Meithya Rose Prasetya

Penerbit : Penerbit Kantera, Bandung, Februari 2009

Data buku: 484 halaman

 

 

 

dibaca oleh: 2710 pengunjung