The Famished Road: Realita Rangkap dalam Keliaran Ben Okri

Gila! Gila! Gila! Serangkaian kata itu sering keluar dari mulut saya ketika membaca buku ini, The Famished Road. Atau jika membacanya di dalam kendaraan umum, saya sekadar melontarkan serangkaian kata itu dalam hati sambil mengulum senyum karena takut disangka mengatai gila orang yang duduk di sebelah. Namun, yang pasti saya tak pernah mengucapkan satu kata “gila” saja. Harus selalu serangkai (paling sedikit diulangi tiga kali): Gila! Gila! Gila!

 

Dalam kamus pribadi saya, kata “gila” baru akan saya keluarkan ketika saya melihat, membaca, mendengar, atau merasakan sesuatu yang tidak bisa diwakili oleh kata “keren”, “hebat”, atau bahkan “luar biasa”. Buku pemenang Booker Prize 1991 ini pun demikian, tidak bisa diwakili oleh bahkan kata “dahsyat” sekalipun. Dalam keliaran Ben Okri, pembaca akan menggila tanpa harus menjadi gila.

 

Novel ini berkisah tentang Azaro, seorang abiku atau anak roh dalam keyakinan tradisional penduduk Nigeria. Dia tinggal bersama ibu dan bapaknya di rumah sempit di perkampungan miskin. Ibunya adalah pedagang asongan di pasar dan kadang-kadang berkeliling untuk menjajakan dagangannya jika belum habis. Sementara itu, bapak Azaro bekerja sebagai buruh kasar yang rajin dan mulai frustrasi dengan penyakit miskin menahun yang dialami keluarganya. Selain mereka bertiga, ada juga Mak Koto, pemilik kedai minum bertubuh gempal yang dicurigai sebagai dukun berjampi-jampi pemikat oleh ibu-ibu di perkampungan itu karena suami mereka sering menghabiskan uang di sana.

 

Sebagai abiku, Azaro terikat perjanjian dengan teman-temannya. Dia berjanji akan segera kembali ke alam roh. Namun, karena tidak tega melihat ibu manusia yang telah melahirkannya bersedih, dia memutuskan untuk menunda kepulangannya ke alam roh. Oleh karena itu, dia mulai diganggu oleh teman-temannya dari dunia lain.

 

Dari awal sudah tampak jelas bahwa Ben Okri tidak bermaksud menyajikan sebuah kisah horor. Dia juga tidak memaksakan roh-roh dalam cerita ini untuk tampil menyeramkan. Bahkan ada beberapa roh yang menurut saya lucu, seperti hantu berkepala segitiga, hantu pincang, dan kucing berkaki tiga. Dalam hal ini, saya sependapat dengan Okri. Toh, dunia roh adalah alam yang sangat terbuka untuk dibayangkan, dijajaki, digambarkan, dan diceritakan dengan seliar-liarnya atau sebebas-bebasnya. Jadi kenapa alam yang satu ini dan tokoh-tokoh di dalamnya harus dicitrakan sebagai sesuatu yang menyeramkan dan mengancam manusia, seperti yang selama ini diangkat dalam film hantu Indonesia? Okri berhasil menembus alam roh yang lebih dalam daripada sekadar penjelmaan hantu.

 

“Tak ada seorang pun di antara kami (para roh) yang berharap untuk dilahirkan (ke dunia) …. Ada banyak alasan kenapa bayi-bayi menangis tatkala dilahirkan. Salah satunya karena mereka tiba-tiba terpisah dari alam mimpi-mimpi murni, tempat segala sesuatu tercipta dari daya pesona, dan penderitaan tak diizinkan tinggal di sana.” (Hal. 11 dan 13)

 

Dengan imajinasinya, penulis kelahiran Nigeria yang kini bermukim di London ini leluasa memberi warna dan aroma pada udara yang dihirup, gas buangan,  dan pikiran. Misalnya, “Ruangan jadi penuh dengan pikiran-pikiran berwarna ametis dan sepia. Dia juga menghidupkan hutan sebagai kearifan lokal yang digerogoti keserakahan global. Di bagian-bagian inilah saya lebih sering berkata, “Gila! Gila! Gila!”   

 

Dalam wawancara di acara World Book Club radio BBC London, Ben Okri mengatakan tokoh Azaro hidup dalam dua realita (dual reality). Istilah ini dia gunakan untuk meluruskan pendapat audiens yang menganggap Azaro berkepribadian ganda (double personality). Dua kenyataan menyebabkan bocah kurus ini bolak-balik antara alam roh dan dunia.

 

Jika di alam roh Azaro dihadapkan pada kejahilan teman-teman halusnya, di alam dunia dia harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan sebagai keluarga miskin. Di rumah sempitnya yang tidak dialiri listrik, dia tidur beralaskan tikar yang membuatnya selalu menyaksikan tikus-tikus mengerat lemari sebelum dia tidur.

 

Satu hal yang menurut saya paling menonjol di balik keliaran cerita ini terletak pada jalinan kasih ibu-anak antara Azaro dan ibunya. Bisa dibilang, dia lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan bapaknya yang kasar, pemabuk, dan rakus. Sejak awal, pembaca diberi tahu bahwa alasan utama anak-roh ini memilih kembali ke dunia karena tidak ingin membuat ibunya bersedih. Begitupun sang ibu. Dia rela melakukan apa saja demi membawa kembali anaknya yang sudah tiga hari mati suri.

 

Namun pada suatu ketika, sang ibu mengeluh, “Aku lelah dengan hidup ini. Aku ingin mati.” Wajahnya tampak seperti topeng yang kaku dan aneh. Matanya tak bergerak dan keduanya tampak memandang ke jendela dalam sebuah konsentrasi yang misterius.

 

Azaro yang mendengar keluhan ibunya itu menceritakan:

 

“Tiba-tiba aku melihat sebuah visi kematiannya. Visi itu datang dan pergi dengan cepat dan ia meninggalkanku dalam kebingungan. Aku mengingat wajahnya ketika hampir mati setelah aku kembali ke rumah dulu …. Satu dari banyak janji yang kubuat sebelum lahir adalah membuat Ibu bahagia. Aku telah memilih untuk hidup, tapi sekarang ia ingin mati. Aku meledak dalam tangis. Kulemparkan diriku ke lantai dan meraung-raung.” (Hal. 388)

 

Ada juga sindiran untuk dunia politik yang entah kenapa mengingatkan saya pada kondisi Indonesia meskipun novel ini berlatar tempat di Nigeria. Pada halaman 655,  Azaro bercerita bahwa Partai Orang Kaya menjanjikan kesejahteraan untuk semua rakyat, jalan-jalan yang mulus, fasilitas listrik, dan pendidikan gratis. Selain itu, ada Partai Orang Miskin yang menjanjikan hal serupa pada penduduk di perkampungan miskin itu.

 

Saya akui alinea-alinea yang panjang cukup melelahkan mata. Bahkan satu halaman bisa diisi oleh satu paragraf. Namun, saya bisa menyelingi membaca novel yang dibagi ke dalam delapan bagian ini dengan melakukan aktivitas lain. Sekadar menambahkan, novel ini menginspirasi kelompok musik rock alternatif asal Inggris Radiohead untuk lagu Street Spirit.***

 

Moh. Sidik Nugraha

 

Identitas Buku:

 

Judul: The Famished Road

Penulis: Ben Okri

Penerjemah: Salahuddien Gz

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

Terbit: I, Juni 2007

Tebal: 846 halaman 

dibaca oleh: 1560 pengunjung