Menatap AIDS Dengan Bijak

Judul Buku     : Kearifan Pelacur Kisah Gelap di Balik Bisnis Seks dan Narkoba
Penulis          : Elizabeth Pisani
Penerjemah   : Bhimanto Suwastoyo
Penerbit        : Serambi, Jakarta, 2008
Tebal Buku    : x+589 halaman

Acquired Immune Deficiency Syndrome atau AIDS merupakan salah satu teror yang menggelayuti masyarakat dunia saat ini. Perkembangan yang pesat dari penyakit itu ternyata tak dibarengi dengan pemahaman komprehensif dan bijak terhadap HIV/AIDS. Elizabeth Pisani, seorang epidemiolog cum wartawan asal Inggris, menjelaskan seluk-beluk HIV/AIDS dengan sangat bernas dalam 589 halaman buku ini.

Sebagai ilmuwan, Pisani tak pernah betah sekadar berada di belakang meja. Ia terjun langsung ke tempat-tempat “berlabel hitam” untuk mengumpulkan data dari kalangan yang berisiko tinggi mengidap AIDS. Maka, sebuah buku yang lahir berdasarkan pengalaman nyata sang penulis ini tentu memiliki keistimewaan. Buku semacam ini tak sekadar menyuguhkan teori, namun pembaca juga diajak untuk memahami dan menyelami pergolakan batin penulisnya.

Awalnya, penyakit itu dinamai Gay-Related Immune Deficiency Syndrome (GRIDS) sebab hanya ditemukan di kalangan gay. Maka, sejak pertama kali ditemukan pada awal 1980-an, AIDS memang dipahami sebagai penyakit yang hanya menghinggapi kelompok perilakunya merupakan anomali di masyarakat.

Pada pertengahan 1980-an, AIDS ditemukan di kalangan heteroseksual dan para konsumen narkoba suntik. Peta penyakit ini pun berubah total sebab varian kelompok berisiko tinggi makin bertambah. Namun, stigma negatif terhadap penderita AIDS masih belum mampu dihapuskan hingga kini.

Kurun 1990-an, dunia mulai merespon AIDS sebagai ancaman terbesar bagi peradaban manusia. Pada 1995, PBB mendirikan UNAIDS sebagai badan yang mengorganisasikan penanggulangan HIV/AIDS. Pisani merupakan salah seorang anggota lembaga itu sejak pertama kali didirikan. Ia menceritakan segala peristiwa yang berlangsung dalam UNAIDS dengan sangat cermat hingga kita bisa mengetahui bahwa pemetaan terhadap epidemi AIDS ternyata tak mudah.

Perjuangan terberat UNAIDS di tahun-tahun awal mereka terbentuk ialah mencari dana bagi program penanggulangan HIV/AIDS. Hal ini disebabkan oleh terikat dan terkaitnya penyakit itu dengan faktor politis, agama, dan ekonomis. Pisani --yang menjadi tulang-punggung di UNAIDS untuk urusan menulis proposal --sering melakukan membesar-besarkan fakta agar dana penanggulangan HIV/AIDS dapat tercukupi (hlm. 56-57).

Jika seseorang mengidap AIDS, hal itu akan diketahui dalam waktu lama (8-10 tahun). Namun orang itu mampu menularkan HIV kepada orang lain. Fakta ini tak hanya berdampak pada pemetaan jumlah pengidap AIDS di suatu negara, namun seluruh dunia. Maka, Pisani berkeyakinan bahwa hal terpenting ialah merumuskan program pencegahan daripada berdebat soal besar-kecilnya angka penderita HIV/AIDS.

Pada perkembangannya, analisis terkait HIV/AIDS kian beragam. Ada yang mengatakan bahwa penyakit ini terkait dengan kemiskinan dan pendidikan yang rendah. Namun, data berbicara bahwa jumlah pengidap HIV/AIDS di Guinea, Mali, dan Sierra Leone --yang tercatat sebagai negara miskin --sangat rendah (bahkan bisa diabaikan) dibandingkan dengan Afrika Selatan dan Botswana yang memiliki banyak kaum terpelajar (hlm. 250).

Bahkan, kelompok yang kini memiliki kecenderungan tinggi tertular HIV (kemudian menjadi pengidap AIDS) bukan hanya kaum homoseksual, para heteroseksual yang sering berganti pasangan, dan penyuntik narkoba. Istri setia pun terancam mengidap AIDS yang ditularkan oleh suami mereka.

Melihat silang sengkarut HIV/AIDS ini, Pisani sampai pada suatu jawaban untuk mencegah penyebaran epidemi itu, yakni penggunaan kondom bagi individu yang sering melakukan hubungan seks dengan pasangan lebih dari satu. Untuk pemakai narkoba suntik, jarum steril menjadi keharusan agar tak tertular HIV. Cara-cara ini, sebagaimana diakui Pisani, memang tidak populer tapi sangat efektif mencegah penyebaran HIV/AIDS.

Buku ini memang melegakan karena berisi himpunan realitas terkait HIV/AIDS. Pada sisi lain, Pisani juga mencuatkan kegelisahan terkait penyakit itu. HIV/AIDS masih sering dipahami secara salah dan, yang paling mencemaskan, penyakit ini telah berubah menjadi bisnis bagi negara maju untuk mengeruk keuntungan ekonomis dan politis di negara miskin.

Bagian paling menarik dari buku ini ialah Bab 8. Pisani memetaforakan AIDS dengan semangkuk gula yang mengundang banyak semut. Bab ini mengulas seluk-beluk pendanaan program penanggulangan, perawatan, dan pencegahan HIV/AIDS yang dilakukan oleh pelbagai lembaga dan negara.

Obat antiretroviral (ARV) menjadi komoditi paling atas yang berada di daftar belanja organisasi penanggulangan AIDS. Padahal, harga obat itu sangat mahal dan diproduksi secara terbatas. Oleh karenanya, di suatu negara, tak jarang penderita AIDS kelabakan mencari ARV dan, berbarengan dengan peristiwa itu, jumlah penularan HIV kian marak.

Kalau saja penanggulangan HIV/AIDS terkonsentrasi pada penggunaan kondom dan jarum suntik steril tentu akan lain ceritanya. Namun kebanyakan negara pendonor kurang menyukai lembaga yang menggunakan uang mereka untuk membeli kedua barang itu dalam jumlah banyak.

Boleh saja kita terkaget-kaget tersebab gaya menulis Pisani yang blak-blakan dalam buku ini. Atau, bisa jadi, kita akan menolak mentah-mentah semua argumentasi Pisani terkait pencegahan HIV/AIDS. Tapi buku ini memang harus dibaca dengan hati yang terbuka.

Pisani mengajak umat manusia di dunia untuk melihat HIV/AIDS sebagai penyakit yang harus dihadapi secara bijak --terutama dalam memperlakukan penderita dan orang-orang berisiko tinggi mengidap penyakit itu. Mungkin komentar dari Harvey Fierstein, dramawan asal Amerika Serikat, ini patut didengarkan dan diresapi: “When you have AIDS, you're judged on how much sex you've had and what kind. There's nothing wrong with putting your arms around someone, holding them, feeling great.”

Fenny Aprilia, alumnus Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran, bekerja di Bandung, anggota Klub Baca Segala Buku (KBSB)

dibaca oleh: 2256 pengunjung