Menyelami Hakikat Ibadah

Judul Buku: Psikologi Ibadah
Penulis : Komaruddin Hidayat
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Terbit: Juli 2008
Tebal :156 halaman

Secara tegas dalam Al-Qur'an Allah menyatakan bahwa manusia  merupakan  puncak ciptaan-Nya  dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan-Nya yang prima dibanding makhluk lainnya. Namun, Allah juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya, masih belum selesai atau setengah jadi, sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya. Proses penyempurnaan  ini  amat  dimungkinkan  karena  pada  naturnya manusia  itu  fithri,  hanif  dan berakal.

Sesungguhnya, fitrah yang tertanam dalam diri manusia telah menyadarkan akan kelemahannya dengan mengharapkan agar Tuhannya memberi pertolongan, bantuan, petunjuk, perlindungan, dan pengamanan. Sebab itu, nurani manusia senantiasa ingin menatap Tuhannya. Karena dalam kontak dan kedekatan antara nurani dan Tuhan itulah muncul kedamaian serta kebahagiaan yang paling prima. Namun, fitrah manusia itu sangat bergantung pada sesuatu yang mengitarinya.

Oleh sebab itu, Tuhan menurunkan agama untuk mendampingi manusia supaya mereka tidak salah dalam mengembangkan fitrah (bakat bawaan)-nya itu. Dalam bahasa Al-Qur'an, agama laksana cahaya yang mengusir kegelapan dan menunjukkan jalan terang. Ia juga bagaikan curahan air yang memberikan kesejukan dan kehidupan. Ada banyak sekali norma-norma yang diajarkan Tuhan dalam agama untuk dijadikan pegangan hidup manusia. Dan dari  sekian banyak itu, salah satu yang terpenting ialah ibadah.

Ibadah adalah salah satu ajaran terpenting yang disampaikan oleh para nabi dan utusan-utusan Tuhan. Ibadah juga merupakan salah satu ciri dari ajaran-ajaran seluruh para nabi mana pun. Karena itu, di kalangan umat beragama, ibadah menempati kedudukan yang amat luhur dan tidak dianggap sebagai serangkaian ritual semata yang terpisah dari kehidupan sehari-hari dan hanya terkait dengan alam akhirat.

Dalam Islam, Ibadah ditempatkan dalam konteks kehidupan dan merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan dari filsafat kehidupan Islam. Dalam buku Psikologi Ibadah ini, diterangkan bahwa rangkaian ibadah merupakan kurikulum suci yang sengaja dirancang Tuhan Yang Mahakasih untuk memelihara kesucian dan keagungan ruhani kita. Ketika ibadah sudah mencapai titik puncak, maka tidak akan ada gesekan antara penyembah dengan yang disembah. Jika jalannya lurus maka perjalanannya pun akan mulus. Jika ibadah tidak dilakukan dengan mudah atau tidak selaras, maka ibadah itu hanya bersifat takhayul, sesat, dan ritualistis belaka.

Dengan Mengggunakan pendekatan tasawuf, Komaruddin Hidayat mengulas secara renyah tapi mendalam tahapan seorang mukmin dalam mendekatkan diri kepada Tuhannya. Secara garis besar tahapan seorang mukmin  untuk  meningkatkan kualitas jiwanya terdiri dari tiga maqam. Pertama, dzikir atau ta'alluq pada Tuhan. Yaitu, berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran  hati  dan  pikiran  kita  kepada  Allah. Di manapun seorang mukmin berada, dia tidak boleh lepas dari berfikir dan berdzikir   untuk   Tuhannya.  

Dari dzikir ini meningkat sampai tahapan kedua, yakni takhalluq. Di sini, seorang hamba berupaya menuju proses penyempurnaan diri melalui pengejewantahan sifat-sifat Tuhan yang mulia untuk dapat ditiru dalam sifat-sifat seorang mukmin. Sehingga ia memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-sifat Tuhan. Proses ini bisa juga disebut proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Seperti halnya banyak di antara kalangan sufi yang dalam hal ini menyandarkan Hadist Nabi yagn berbunyi: "Takhallaq bi Akhlaq-I Allah". Yang artinya berakhlaglah seperti Akhlaq Tuhan.

Maqam   ketiga   tahaqquq.   Yaitu,   suatu   kemampuan  untuk mengaktualisasikan kesadaran  dan  kapasitas  dirinya  sebagai seorang  mukmin  yang  dirinya  sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia.  Maqam  tahaqquq  ini  sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi  yang  menyatakan  bahwa  bagi  seorang mukmin  yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya  dengan  Tuhan  maka  Tuhan  akan  melihat  kedekatan hamba-Nya.

Dengan demikian, orang yang menjalankan ibadah mestilah bersikap rendah hati, tidak sombong, menghilangkan egoisme dan istiqomah untuk terus berupaya agar selalu dalam ridla dan bimbingan-Nya. Itulah etos ibadah yang sesungguhnya dan merupakan fitrah manusia yang terdalam. Melalui tiga tahapan itu pula, seorang mukmin akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa tetapi sekaligus penuh kasih dan damai. Seorang 'abdullâh (hamba Allah) yang saleh adalah sekaligus juga wakil-Nya untuk membangun bayang-bayang surga di muka bumi ini.
 
Abd. Rahman bin Mawazi, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tinggal di Batam

dibaca oleh: 2428 pengunjung