Teleportasi ke Tiga Zaman Edan

Judul Buku: Zaman Edan - Indonesia di Ambang Kekacauan
Penulis: Richard Llyod Perry
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Serambi
Tahun: 2008
Tebal: 452 hlm

Saya masih di bus kota saat pertama kali menyentuh terjemahan buku Richard Llyod Perry, Zaman Edan: Indonesia di Ambang Kekacauan ini. Bensin baru naik, orang masih merepet soal macet, dan di awal buku itu saya mendapati sesuatu yang mendorong saya ingin segera menyerahkannya ke gadis di sebelah untuk dibarter dengan nomor telepon.

Maafkan sarkasme ini. Tapi di 10 halaman intro, saya melihat ada satu puisi Goenawan Mohamad tentang dewa dan tikus yang saya tak paham persisnya, lalu ada cerita ini itu soal keindahan Bali, burung-burung bangau, hutan magis, dan nama-nama kota yang, katanya, bisa “bergema dan bergumam”, seperti “lirik dan syair”.

Buru, Fakfak, Manokwari,
Ujungpandang, Probolinggo,
Nikiniki, Balikpapan,
Halmahera, Berebere.

Gorontalo, Samarinda,
Gumzai, Bangka, Pekalongan,
Wotalari, Krakatau,
Weta, Kisar, Har, Viqueque!

Saya masih bisa menerima itu. Tapi saat dia menuturkan perjumpaannya yang berulang dengan seorang bernama Kolonel Mahmud di alam mimpi, saya rasanya ingin menjerit.

Mimpi? Hari begini?

Tapi membaca lagi, saya mendapati sarkasme hanya bisa sampai di situ.

Setelah membuka sebuah halaman berjudul “Musibah Mendekati Aib: Kalimantan 1997-1999”, membalik sebuah peta Pulau Kalimantan yang kekasarannya sepintas mirip kawasan seram di zaman Neanderthal, saya mendadak berhadapan dengan sebuah sensasi aneh.

Lima menit pertama, saya tiba-tiba ragu adakah Mun'im Idris orang pertama yang harus saya temui atau justru Goris Mere. Sepuluh menit berikutnya, saya berpikir untuk segera menelepon dealer senjata di Singapura, bertanya kalau-kalau ada M-16 Armalite yang tersedia untuk pengiriman secepatnya.

Saya tidak mengada-ada. Di bagian itu, Richard mengisahkan pembantaian orang-orang Madura di pedalaman Kalimantan Barat. Ini bukan sekadar cerita banyak yang mati lalu sudah. Ini jauh lebih seram. Pelakunya, orang-orang Dayak, memenggal setiap kepala yang terbunuh. Mereka membelek punggung, mengambil jantung, lalu memakannya selagi segar. Kadang mereka memotong kecil-kecil bagian yang empuk, seperti paha dan lengan, lalu memanggangnya di atas api, lengkap dengan tusukan kayu. Sate. Dan inti dari semua cerita seram itu jadi alasan saya mengkhayalkan M-16: tentara Indonesia gagal mencegah kebiadaban orang Dayak meski “pembersihan etnis” itu terjadi lebih dari sekali.

Teve dan koran telah melaporkan kanibalisme di Kalimantan dan kegagalan tentara menghadirkan ketenteraman di tahun-tahun itu. Tapi Richard berdiri sendiri karena memilih menyampaikan pesan utamanya lewat sebuah mesin penceritaan non-fiksi yang mutakhir.

Anda bisa tiba-tiba merasa berdiri di samping Richard, melihat dengan mata kepala sendiri keberuntungan orang-orang Madura menipis detik demi detik, sebelum “kepala-kepala ditebas dari tubuh dan manusia memakan daging manusia”. Anda juga bisa mendengar pekik seram “Wu—wu-wu-wu-wu” dari dalam hutan dan Richard segera membisiki Anda arti persisnya: ada Madura yang sedang terpojok.

Kelas-kelas jurnalisme modern rutin mengajarkan seni penyajian fakta reportase yang dalam dan memikat (kadang dalam subjek Jurnalisme Sastrawi). Peminatnya selalu banyak, teorinya bisa dua semester meski jika diperas sederhana saja: wartawan seharusnya bisa menyajikan laporan seperti novelis meniupkan ruh pada cerita fiktif.

Teknik ini mengharuskan wartawan meminjam mata sinematografer. Dia harus mencatat detail yang perlu, sebanyak mungkin. Dia harus merekam wajah, warna, ekspresi, suara, tempat, dialog, konflik, drama, ironi, konteks, perspektif, dan masih banyak lagi. Ini asam garam penceritaan, sesuatu yang jika takarannya pas, bisa menteleportasi pembaca ke mana saja.

Richard melakukan semua itu, termasuk saat menuturkan dua bagian lain bukunya: Tragedi Mei 1998 di Jakarta dan Referendum Berdarah 1999 di Timor Timur.

Favorit saya di halaman 123. Di situ dia mengabadikan adegan durjana di luar Montrado, lepas Kota Pontianak, pada Maret 1999. Dia, sebenarnya, lebih dari bisa melukiskannya dalam satu dua paragraf pendek (Dia koresponden luar negeri The Times, yang biasa menulis hard news). Tapi dia memilih sesuatu yang bukan pasaran. Ini contoh sentuhan sastra dalam reportase.

Richard awalnya menyapukan pandangan pada yang tampak di kejauhan. Dia mengajak kita melihat cepat: Selama tiga mil ke depan jalanan lengang. Kemudian pada sebuah pertigaan terlihat api unggun kecil di sisi jalan. Belasan orang Dayak sedang sibuk menjaga nyalanya.

Dia lalu menyuntikkan sedikit ketegangan: Pisau-pisau dan mandau dapat terlihat; di atas api itu, mereka sedang memasang alas untuk memasak. Lalu sebaris lagi: Di belakang mereka beberapa benda berwarna merah muda tergeletak di atas sebuah tembok rendah.

Di dua kalimat setelahnya, dia mengikat semua yang membayang sejak di pertigaan jalan: Saat kami lewat, saya melihat dua batang kaki, badan tanpa tungkai. Sesuatu yang lain, berangkali lengan, sedang diletakkan di atas api.

Sekarang, dia sudah bisa terkekeh-kekeh. Dia tahu persis kalau kita dalam keingintahuan besar dan sedang memperhatikan segala gerak langkahnya. Dia lalu mengganti sudut pandang untuk menghadapi konsekuensi menghidupkan orang-orang Dayak di pertigaan itu dalam buku:

Orang Dayak itu sedang asyik melakukan persiapan barbeque, dan mereka mengabaikan jip kami.

“Jangan berhenti, Petrus,” kata saya.

Richard, setelah meminta supir menjauh dari pertigaan, memunculkan sebuah karakter baru, “seorang kanibal” belasan tahun, yang kebetulan minta tumpangan.

Dia tak berkaus, katanya kembali memperkaya mata kita. Hanya mengenakan celana jeans yang rapi dan sepatu olah raga lusuh. Di tangannya dia membawa mandau tersarung....

Deskripsi mengalir hingga satu paragraf penuh. Richard lalu menempatkan sebuah kalimat dan dua kutipan dari kanibal remaja itu. Isinya mengembalikan mata kita pada adegan api unggul di pertigaan tadi:

Dia ceritakan kepada kami bahwa orang yang sedang mereka masak di jalan itu baru tertangkap pagi tadi. “Kami membunuhnya dan kami memakannya," katanya, "karena kami benci orang Madura.” “Seringnya kami menembak mereka dulu, kemudian kami cincang tubuhnya. Rasanya mirip ayam. Terutama hatinya – persis seperti ayam.”

Ada dialog setelahnya. Richard memasang pertanyaan, mungkin jebakan. Dia ingin kita mengintip jiwa remaja itu. Sebuah ironi besar:

“Kami tidak membunuh bayi! Kalau kami bertemu bayi, kami memberikannya kepada orang lain .....”

“Sampai batas umur berapa seseorang baru boleh kalian bunuh?”

“Sekitar tiga belas tahun atau lima belas.”

“Mengapa kalian membunuh mereka? Mengapa tidak kalian usir saja mereka semua?”

“Karena kami benci mereka.”

Seseorang di Financial Times Magazine kabarnya bilang gaya bercerita Richard ada mirip-miripnya dengan Ryszard Kapuscinski. Bisa jadi. Tapi saya lebih tertarik menyebut sebuah fakta sedih dari buku ini: orang yang mengenang nasib mereka yang mati tanpa bela di Kalimantan, Jakarta, dan Timor Timur di tahun-tahun penuh darah itu adalah seorang wartawan berpaspor Inggris.

Buku ini monumen penghormatannya.

***

Secara keseluruhan, buku ini layak jadi pegangan wartawan. Ia memuat banyak nasihat praktis seputar jurnalisme dasar, meski itu tersamar di antara fragmen dan drama. Jika Anda wartawan, pesannya sederhana: kurangi bergerombol, kurangi mengutip pejabat dan menulis lah untuk mereka yang ternafikan hak-haknya. Yang terakhir akan membantu Anda melewati kesulitan meliput di lapangan, termasuk jika suatu saat Anda harus berhadapan dengan Neandhertal di luar sana.

Alfian Hamzah

dibaca oleh: 2272 pengunjung