Wajah Islam dalam Kaligrafi

Judul Buku : Seniman Kaligrafi Terakhir
Penulis : Yasmine Ghata
Penerjemah : Ida Sundari Husen
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : 208 Halaman
Peresensi: Ahmad Badrus Sholihin)*

Dalam buku Islamic Art and Spirituality (1987), Seyyed Hossein Nasr menyebutkan bahwa kaligrafi Islam adalah manifestasi visual dari kristalisasi realitas-realitas spiritual (al-haqa'iq) yang terkandung di dalam Alquran. Dengan kata lain, kaligrafi menyuarakan wahyu Islam sekaligus menggambarkan tanggapan jiwa orang-orang Islam terhadap pesan Ilahi. Oleh karena itu, kaligrafi memiliki kedudukan istimewa, bahkan bisa disebut sebagai leluhur seni visual Islam. Kaligrafi telah menorehkan jejak abadi sebagai identitas kebudayaan Islam dalam pasang-surutnya peradaban. Kaligrafi yang indah dijadikan sebagai ciri orang berbudaya dan kedisiplinan pikiran, jiwa, serta kekuasaan.

Namun, sejarah mencatat ada suatu masa di suatu tempat ketika kaligrafi secara sistematis diberangus dan disingkirkan. Turki pada paruh pertama abad ke-20 mengalami revolusi besar. Mustafa Kemal Ataturk melancarkan usaha besar-besaran mengganti identitas kebangsaan yang semula pusat imperium Islam menjadi negara sekuler modern. Semua yang berbau Arab dilarang. Alquran tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah. Tradisi dan praktik keislaman tidak lagi menjadi kepentingan umum. Di antara itu semua, seniman kaligrafi menjadi pihak yang paling terluka.

Yasmine Ghata, dengan begitu memesona, melukis ''masa kematian'' kaligrafi ini di dalam buku Seniman Kaligrafi Terakhir (judul aslinya La Nuit Les Calligraphes). Roman pertama penulis wanita Prancis ini diangkat dari kisah nyata kehidupan seorang seniman kaligrafi wanita Turki bernama Rikkat Kunt, yang tak lain adalah neneknya sendiri. Meskipun terkesan begitu personal, kisah hidup Rikkat bisa dianggap sebagai personifikasi dari dunia seni kaligrafi Islam. Di dalamnya tersaji berbagai kekayaan spiritual, keindahan estetis, keanehan mistis, kemurnian cinta, dan keagungan budaya yang bersifat universal.

Rikkat Kunt, lahir pada 1903 di Beylerbey, desa yang terletak di perbukitan pantai Asia Selat Bosporus, di seberang Kota Istambul. Keluarganya termasuk kalangan bangsawan menengah yang cukup dekat dengan istana kekhalifahan Utsmani. Karena itu, Rikkat mendapat kesempatan langka mengenyam pendidikan modern. Di saat yang sama, dia juga dididik untuk menjadi seorang perempuan religius dan muslimah yang taat.

Rikkat tumbuh pada masa peralihan ketika terjadi pergumulan antara tradisi lama dan ide-ide kemajuan dan emansipasi. Pengetahuan modern mengajarkan Rikkat tentang kemandirian hidup. Sedangkan tradisi keluarga menuntunnya kepada keagungan peradaban Islam. Kombinasi keduanya memunculkan ketertarikan Rikkat kepada kaligrafi sejak dia masih remaja. Bahkan, dia yakin dirinya ditakdirkan untuk menjadi seniman kaligrafi, sebuah profesi yang begitu didominasi kaum laki-laki.

Awal mulanya dia belajar sambil bekerja sebagai asisten pakar-pakar kaligrafi tua di sebuah sanggar pengasingan. Dia bertugas menyiapkan kertas, tinta, membersihkan, dan mengemas peralatan, serta menyediakan makan dan minum untuk para pakar itu. Setiap hari dia menyaksikan dan menemani mereka melukis ayat-ayat suci dan sabda nabi. Dia menjadi pendengar setia semua perdebatan, keluhan, dan umpatan yang selalu disertai nada keputusasaan. Secara sadar dia telah menjadi bagian dari golongan yang disingkirkan dan ikut serta dalam perlawanan pasif mereka terhadap pemerintahan Ataturk.

Garis nasibnya sebagai seniman dimulai ketika salah seorang gurunya bernama Selim mati gantung diri. Dia mewarisi semua peralatan lukis sang guru yang kemudian sering mendatanginya lewat mimpi. Dia yakin roh Selim terus membimbing dan mengawasi setiap kali dia menggerakkan kalam. Bersama Selim dia terus berusaha menyempurnakan garis-garis dan goresan huruf-hurufnya untuk menyingkap makna suci ayat-ayat Tuhan. Puncaknya, dia berhasil menjadi pemenang lomba kaligrafi tahunan yang diadakan dewan kesenian Turki. Lomba itu diadakan secara terpaksa oleh pemerintah hanya untuk menunjukkan bahwa Turki masih unggul di atas bangsa Arab.

Kehidupannya sebagai seniman hampir gugur sebelum mekar akibat dua kali pernikahan yang tidak bahagia. Suaminya yang pertama seorang konservatif yang memandang rendah perempuan yang berprofesi sebagai seniman. Setelah sempat bertahan beberapa tahun dan mempunyai seorang anak, dia memutuskan untuk bercerai. Sedangkan suaminya yang kedua seorang ateis dan playboy kawakan yang memperlakukan perempuan hanya sebagai objek seksual. Sebuah tragedi keluarga terjadi ketika si suami menghamili adik perempuannya. Dia kembali bercerai dan harus kehilangan anak kedua yang begitu disayanginya. Hidupnya nyaris hancur seandainya tidak ada kalam yang terus menemaninya melukis di malam-malam yang sunyi.

Kegagalan beruntun ini berakhir bertepatan dengan berakhirnya perang dunia kedua. Kehidupan sosial dan ekonomi Turki kacau balau. Sebaliknya, kehidupan keagamaan kembali bersemi. Di tengah kebingungan dan keputusasaan, rakyat Turki kembali mendekati Tuhan. Inilah titik balik kehidupan Rikkat. Hari-harinya kembali diisi dengan mengajar kaligrafi di akademi. Dia bebas menggerakkan kalam dan menuliskan ''suara'' Tuhan. Namun, dia sadar bahwa kaligrafi tidak bisa berpijak di atas euforia sesaat. Perannya di dunia telah banyak digantikan oleh mesin cetak dan huruf latin yang dianggap lebih praktis. Lalu apa yang masih tersisa baginya dan bagi kaligrafi?

Ketika pertama kali membaca judul Seniman Kaligrafi Terakhir, yang terpatri dalam ingatan saya adalah cerita film kolosal The Last Samurai. Mulanya, saya membayangkan Rikkat sebagai sosok ksatria gagah berani yang mengemban misi sebagai pelindung tradisi agung yang hampir punah. Setelah membaca lembar demi lembar buku ini, kesan itu perlahan berganti. Rikkat hanyalah manusia biasa yang berusaha memenuhi panggilan bakat dan takdir yang selalu mengandung misteri baginya. Profesi resminya adalah seorang guru kaligrafi. Dia bukan satu-satunya dan bukan pula yang terakhir. Berbekal keyakinan bahwa kaligrafi adalah jalan hidupnya, dia baktikan seluruh hayatnya untuk menjalaninya. Inilah yang menjadikan Rikkat begitu istimewa.

Sebelum ajal menjemput, dia berwasiat, ''kini, gambar hadir di mana-mana dalam hidup kita, tetapi tak satu pun akan menggantikan keanggunan tulisan... Keturunan para seniman kaligrafi tak berbatas dan mestinya tetap berlangsung sampai akhir zaman. Hanya merekalah yang dapat membina dialog antara Tuhan dan manusia'' (hlm.179).

Lebih dari itu, buku ini hadir pada momentum yang tepat. La Nuit Les Calligraphes ditulis di Prancis pada 2004, pada saat banyak orang Eropa dan penduduk dunia secara umum mengalami phobia Islam akibat beberapa peristiwa terorisme. Ketika akhir-akhir ini beberapa pihak berusaha menampilkan fitnah dan citra buruk Islam, buku ini memberi suguhan yang elegan. Rikkat Kunt adalah wajah Islam yang damai, penuh cinta, dan toleran. Seni kaligrafi menjadi lambang ajaran Islam yang ramah, lembut dan anti-kekerasan. Jalan hidup Rikkat Kunt adalah bukti yang sahih bahwa dengan semangat itu kita bisa melawan kelaliman penguasa dan ketidakadilan sosial. (*)

*) Ahmad Badrus Sholihin, alumnus Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kalisat Jember

dibaca oleh: 2796 pengunjung