Citra Islam Yang Dirusak Muslim

Bagi yang pernah belajar di sekolah-sekolah agama, baik pesantren ataupun madrasah pasti pernah menghafal ahfudhod (kata mutiara) Al-Islamu mahjubun bi mulslimin. Membaca buku yang berjudul (dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia) dahsyat ini maka ingatan kita pasti akan kembali pada kebenaran mahfudhod yang kita hafal pada masa kecil kita itu. Yang menjadikan Islam terbelakang, tidak maju, dan bercitra berantakan itu bukan karena ulah barat, ulah orang Yahudi, ulah orang Nashrani, ulah orang barat, timur, utara, selatan, maupun siapa-siapa tetapi karena ulah orang Islam sendiri.

Buku ini membahas tentang fenomena perkembangan masyarakat Islam yang kemudian dapat dibedakan menjadi dua tipe besar masyarakat Muslim. Muslim moderat dan Muslim tidak moderat. Muslim moderat adalah muslim yang tidak memilih untuk jatuh dalam satu pilihan ekstrem tetapi dalam batas-batas tertentu selalu berusaha mencari formula kompromi untuk menyiasati keadaan. Misalnya kompromi dengan teknologi modern dengan mempergunakan jam untuk menentukan waktu shalat dan waktu berpuasa.

Muslim tidak moderat adalah yang menganut paham absolutisme dan tidak kenal berkompromi. Dalam banyak hal, orientasi kelompok ini cenderung menjadi puris dalam artian tidak toleran terhadap berbagai sudut pandang yang berkompetisi dan memandang realitas plural sebagai satu bentuk kontaminasi pada kebenaran sejati.

Secara kuantitas, jumlah Muslim Moderat jauh lebih besar dari kaum tidak moderat, hanya saja saat ini mereka terus bersuara lantang dan mendominasi media. Saat Amrozi atau siapa pun yang meledakan bom di Bali atau saat sekelompok orang menabrakan pesawat di gedung WTC, mayoritas kaum Muslim di seluruh dunia pasti tidak menyetujui perbuatan itu, meskipun yang melakukan itu mengaku seorang Muslim.

Hal-hal seperti itulah yang diserukan oleh Khaled Abou el Fadl dalam buku ini dengan menyeru kepada mayoritas kaum Muslim moderat untuk mengakhiri kebungkamannya. Tradisi moral Islam yang penuh rahmat dan kedamaian telah dihancurkan oleh kelompok minoritas bersuara lantang. Menurut Khaled Abou el Fadl saat ini Muslim moderat di seluruh dunia harus melakukan jihad defensif: melindungi Islam dari serangan misinterpretasi dan disinformasi kaum “puritan”.
Dalam bagian lain buku ini Khaled Abou el Fadl juga mengulas jejak sejarah perkembangan gerakan Wahabiy dan Salafiy yang selalu dijadikan rujukan kaum puritan. Khaled juga memaparkan beberapa fakta ketidak-konsistenan kaum “puritan” Saudi dalam menjaga “tradisi kenabian” pada masa awal perintisan negara Saudi modern. Tentara ikhwan yang didanai kerajaan Inggris berusaha “menertibkan” tradisi Islam di sekitar tanah suci dengan pedang dan kebrutalannya. Betapa mudahnya mereka mengkafirkan dan membantai sesama Muslim hanya karena perbedaan penafsiran.

Bagaimana dengan keadaan di Indonesia? Tampaknya sama saja, Muslim moderat malahan sering terseret arus retorika kelompok minoritas bersuara lantang yang setiap kali berteriak selalu memperalat kata demi kepentingan umat Islam itu. Dengan berbagai isu yang dikembangkan mereka memainkan emosi kaum Muslim mayoritas untuk ikut arus mereka atau setidaknya tidak membentur kepentingan mereka secara langsung.

Dalam suatu keadaan mereka berusaha dekat dengan Muhammadiyah bahkan mengindentikkan dengan diri dengan Muhammadiyah dengan mempertontonkan beberapa ritual peribadatan yang sama dengan Muhammadiyah (misalnya sama-sama tidak qunut subuh) tetapi menyembunyikan hal yang lebih esensial yang sesungguhnya sangat bertentangan dengan tujuan Muhammadiyah. Mereka juga sering menelikung Muhammadiyah dari belakang dan membodohi kaum awam Muhammadiyah dengan mendelegitimasi dan bahkan menyesatkan dan mengkafirkan beberapa tokoh bahkan (mantan) Ketua Umum PP Muhammadiyah. Mereka secara bergerilya juga berusaha mengalihkan kepercayaan warga terhadap hasil ijtihad Muhammadiyah, misalnya kasus wujudul hilal dalam penentuan awal bulan Qomariah.

Mereka menuduh Muslim yang tidak menyukai budaya poligami sebagai Muslim sekuler dan penentang hukum Islam tetapi mereka biasa mengakali hukum Islam dengan menceraikan salah satu dari empat istrinya hanya untuk dapat beristri lagi. Namun mereka selalu berteriak lantang seakan-akan merekalah yang paling Islami melebihi Nabi Muhammad dan yang tidak sesuai dengan mereka adalah sesat dan kafir atau paling tidak berpenyakit sipilis yang harus dibasmi.
Namun siapakah yang sesunguhnya merusak Islam? Yang suka mempermudah cerai untuk bisa kawin dan menambah koleksi lagi ataukah yang tidak suka poligami?

Judul Buku: Selamatkan Islam dari Muslim Puritan
Judul Asli: The Great Theft; Wrestling Islam from the Extremists
Penulis: Khaled Abou el Fadl
Penerjemah: Helmi Mustofa
Penerbit: Serambi Jakarta / Zulhijah 1427
Tebal buku: 388 (indeks)

Thufail AM., SAg., M.Hum, Alumnus Pondok Pesantren Maskumam

dibaca oleh: 2015 pengunjung