Malu (Aku) Jadi Orang Turki...

Dalam sebuah wawancara dengan koran Swiss, Tages Anzeiger (2005), Orhan Pamuk terang-terangan bicara tentang “Genosida Armenia” di masa kesultanan Ottoman (1915). Novelis Turki pemenang Nobel Sastra (2006) itu juga mengungkit-ungkit soal perseteruan antara Turki dan minoritas Kurdi sejak 1980-an. “Sejuta orang Armenia dan tigapuluh ribu orang Kurdi dibunuh di tanah ini. Tak ada yang berani menyatakannya, kecuali saya,” ungkap Pamuk dengan kepala tegak. Akibatnya, ia harus berurusan dengan pengadilan. Pemerintah Turki menjeratnya dengan tuduhan menghina negara. Tapi, pengarang yang berhasil menggambarkan konstelasi perbenturan antara sekularisme warisan Kemal Attaturk, militer pro pemerintah, Islam militan dan nasionalisme Kurdi dalam novel-novelnya itu menyangkal bahwa ia tidak sedang menghina negara. Ia hanya meminta pemerintah Turki untuk menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Lagi pula, pernyataan itu bukan isapan jempol belaka, tapi fakta sejarah yang seolah-olah hendak dilupakan begitu saja.

Jalan kepengarangan Orhan Pamuk seumpama “menepuk air di dulang”, makin ditepuk, makin basah muka sendiri. Tengoklah Darkness and Light (1979), Bey and His Son (1982), White Castle (1991), The Black Book (1990), My Name is Red (2000) dan Snow (2004). Banyak yang menuding Pamuk sebagai “pengarang Turki yang gandrung menghina agama dan menyumpah-serapahi tanah airnya sendiri.” Mungkin ini resiko yang mesti ditanggung oleh sastrawan yang hidup di dalam tubuh peradaban yang sedang retak dan nyaris terbelah. Separuh hendak mengembalikan kejayaan Ottoman Empire yang pernah tercatat dalam sejarah, separuhnya lagi digoda oleh denyut modernisasi yang berkiblat ke Eropa. Pamuk seperti terjerembab ke dalam ranah kemenduaan yang kerap membuatnya bimbang dan gamang.

Kegamangan itu tampak nyata dalam Snow, novel karya Orhan Pamuk yang baru saja diedisi-indonesiakan oleh penerbit Serambi. Pusaran kisahnya berlangsung di Kars, sebuah kota kecil di Anatolia. Strategi literer Pamuk seperti sedang menapaktilasi kepulangan penyair Turki, Kerim Alakusoglu (Pamuk menggunakan inisial; Ka) ke Istambul setelah terbuang ke Jerman selama 12 tahun. Ia datang ke Kars untuk menyelidiki sejumlah kasus bunuh diri di kalangan gadis-gadis muda kota itu. Salahsatunya Teslime, siswi madrasah aliah yang bunuh diri karena kecewa dengan peraturan sekolah yang melarang siswi-siswinya mengenakan jilbab. Bila larangan itu diabaikan, Teslime dan kawan-kawan akan diusir dari ruang kelas. Orangtua Teslime sudah berkali-kali menasehati agar ia mematuhi larangan itu, mencopot jilbabnya, hingga ia tetap bisa bersekolah. Tapi, Teslime bersikukuh mempertahankan jilbabnya. Pada suatu malam, ia berwudlu, dan shalat di kamarnya. Selesai shalat, ia mengikatkan jilbabnya ke cantolan lampu, dan gantung diri.

Kasus bunuh diri yang meruyak di Kars hanya pintu masuk untuk menelusuri kompleksitas perbenturan antara militer pro pemerintahan sekuler, kelompok Islam garis keras dan nasionalis Kurdi yang sedang mencuat sebelum pemilihan walikota Kars. Para penghamba Ataturk menunggangi kasus bunuh diri gadis-gadis muda Kars untuk menghantam kelompok Islam yang menurut mereka tidak mampu menyelamatkan para pengikutnya dari tindakan konyol yang sudah pasti berujung di kerak Neraka. Itu sebabnya, Lazuardi, pemimpin kelompok Islam militan yang termashur di seantero Istambul, datang ke Kars. Ka makin sulit melepaskan diri dari lingkaran perseteruan itu sejak ia (secara kebetulan) menyaksikan pembunuhan seorang direktur Institut Pendidikan. Desas-desus pun bergulir, lelaki itu ditembak, karena ia orang pertama yang mengesahkan peraturan pelarangan jilbab. Pemimpin redaksi surat kabar lokal, Border City News, Serday Bey, diintimidasi oleh kelompok tertentu agar ia membangun opini publik bahwa pelaku pembunuhan itu tidak lain adalah kaki tangan Lazuardi.

Pamuk juga merancang sebentuk ‘romantika tak biasa’ perihal hubungan Ka dengan perempuan masa lalunya, Ipek. Kehadiran Ka di Kars tidak semata-mata untuk penyelidikan kasus bunuh diri yang menghebohkan itu. Diam-diam, ia hendak menyambung kembali hubungan asmaranya dengan Ipek, dan ingin memboyong perempuan itu ke Frankfurt. Namun, kembali mendapatkan cinta Ipek teryata tidak segampang menulis puisi yang kerap dipersembahkannya untuk perempuan itu. Ipek ternyata sudah janda. Ia pernah dipersunting Muhtar, calon walikota Kars yang terus diganjal oleh lawan-lawan politiknya. Persoalan makin runyam ketika Ka berhasil mengungkap bahwa beberapa tahun sebelum kedatangannya ke Kars, ternyata Lazuardi pernah pula menjadi laki-laki yang dicintai Ipek. Maka, kedatangan buronan politik kelas kakap itu ke Kars juga bukan hanya untuk membereskan kasus-kasus bunuh diri. Sebagaimana Ka, Lazuardi juga hendak menyambung kembali hubungan asmaranya dengan Ipek.

Lewat novel setebal 731 halaman ini, Pamuk menggambarkan betapa tidak nyamannya “hidup di tanah orang mati yang terus saja berkuasa.” Tidak hanya sikap politik, ideologi, dan gaya hidup, kesenian pun harus menghamba pada sekularisme. Gejala inilah disuguhkan lewat proganda-proganda politik dalam pementasan-pementasan teater pimpinan Sunay. Di atas panggung, Sunay memaklumatkan bahwa jilbab menghambat kebebasan perempuan. Sudah saatnya, gadis-gadis Kars mencopot jilbab mereka, sebagaimana perempuan-perempuan Eropa. Ketegangan makin memuncak ketika Sunay (didukung oleh agen-agen rahasia dari Istambul) memaksa Kadife (adik Ipek), pemimpin kaum berjilbab Kars untuk tampil menjadi pemain pada pementasan penting di teater nasional. Kadife harus memerankan adegan perempuan yang mencopot jilbabnya, lalu melemparkannya ke hadapan penonton. Dengan begitu, acaman laten kaum berjilbab di Kars dapat dilumpuhkan. Tidak ada yang tahu bahwa Kadife sebenarnya sedang terancam. Ia menerima tawaran itu karena Lazuardi, kekasihnya, sedang disandra oleh Sunay di sebuah tempat tersembunyi. Bila ia ingin Lazuardi bebas, Kadife itu harus mau memainkan peran itu. Dan Ka, adalah orang yang menegosiasikan perjanjian itu dengan Sunay. Agen-agen rahasia yang berada di belakang Sunay berjanji akan membiarkan Ka keluar dari Kars dengan selamat, tentu bersama Ipek, dan mereka akan hidup bahagia di Frankfurt. Celakanya, pada hari yang sudah dijanjikan, tersiar kabar bahwa Lazuardi tewas setelah persembunyian dibombardir tentara. Ipek menuduh Ka telah berkhianat. Sebab, hanya Ka satu-satunya orang yang tahu persembunyian Lazuardi. Ia kecewa dan membatalkan keberangkatannya ke Frankfurt bersama Ka. Lazuardi memang sudah jadi milik Kadife, tapi Ipek masih mencintai pemberontak berwajah tampan itu.

Siapa pelaku pembunuhan direktur Institut Pendidikan? Benarkah Ka berkhianat pada Kadife, Ipek dan Lazuardi? Siapa pula pelaku pembunuhan Ka yang terjadi setelah ia kembali ke Frankfurt? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Tampaknya Pamuk memang sengaja menggantung kisah thriller politik ini. Tapi, ia benar-benar sempurna menggambarkan identitas ‘keturkian’ Ka yang terbelah dua. Menggunakan nama Turki (Kerim Alakusoglu) saja ia begitu terbebani, ia lebih suka menyebut dirinya; Ka. Sebaliknya, alih-alih menghirup udara bebas di Eropa, Ka malah mati bersimbah darah di sana. Agaknya, keberanian mengungkap krisis identitas di Turki inilah yang membuat Pamuk dituding sebagai pengarang yang sedang menguliti wajah sendiri…

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

DATA BUKU
Judul : SNOW (Di Balik Keheningan Salju)
Penulis : Orhan Pamuk
Penerbit : SERAMBI, Jakarta
Cetakan : I, April 2008
Tebal : 731 halaman

dibaca oleh: 1570 pengunjung