Kebangkitan Nusantara dalam Bingkai Novel Detektif

Judul: Negara Kelima
Penulis: ES Ito
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I (edisi terbaru), Mei 2008
Jumlah Halaman: 465

“Indonesia yang mereka (para pendiri bangsa) cita-citakan cuma bertahan sebelas tahun. Setelah itu, Indonesia hanyalah istilah untuk integrasi wilayah bukan integrasi ide dan ga­gasan ....” kata Ilham Tegas, salah seorang anggota KePaRad.

Kegelisahan pemuda selalu menjadi awal perubahan sebuah bangsa, di mana pun itu. Adalah sekelompok pemuda yang menamakan diri mereka Kelompok Patriotik Radikal (KePaRad). Mereka muak menyaksikan para pejabat korup, sementara rakyat semakin miskin. Menurut mereka, Indonesia sekarang tak lebih dari sekadar kesatuan wilayah, deretan pulau mati.

Di tengah kegelisahan itu, mereka menerima berita tentang kejayaan Nusantara lama yang menjadi awal sekaligus pusat peradaban besar dunia seperti India, Mesopotamia, Mesir, Cina, bahkan Yunani. Berita itu membuat mereka yakin Nusantara adalah Atlantis yang tenggelam akibat bencana besar. Atlantis atau Nusantara kuno adalah Negara Pertama.  

Lama setelah Negara Pertama tenggelam, keturunan penduduk Negara Pertama, yang selamat dari bencana besar, kembali ke Nusantara untuk menemukan Serat Ilmu yang merupakan sumber dari segala kebaikan dan kekuatan.. Dari situlah terbentuk Negara Kedua yang diduga merupakan Kerajaan Sriwijaya. Kemudian, musuh dari barat muncul menghancurkan Sriwijaya demi mendapatkan Serat Ilmu. Untunglah para penjemput berhasil menyelamatkannya. Mereka mendirikan Negara Ketiga yang menjadi Imperium Nusantara terbesar. Negara ketiga itu kita kenal dengan nama Majapahit.

Selama ini, kita mengetahui bahwa kejayaan Majapahit mulai runtuh karena masuknya Islam. Tapi, menurut ES Ito dalam novel ini, Majapahit justru hancur karena pengkhianatan dan pertentangan visi antara Jayanegara dan Gajah Mada.

“Visi negara atau kerajaan. Jayanegara mungkin menginginkan imperium yang akan mereka bangun itu adalah integrasi ide dan gagasan sebagaimana darah yang mengalir dalam tubuhnya. Sedangkan, Gajah Mada menganggap imperium itu tidak lebih dari integrasi wilayah lewat Sumpah Palapa-nya kelak. Gajah Mada sadar, Jayanegara satu-satunya orang yang akan meng­halangi cita-citanya itu.” Negara Ketiga berakhir seiring mangkatnya Jayanegara. Setelah itu, Serat Ilmu dilupakan untuk waktu yang sangat lama sampai terbentuknya Negara Keempat.

Indonesia-kah Negara Keempat? Bukan, Negara Keempat bukanlah Indonesia, melainkan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). ES Ito menggugat para penutur sejarah yang seolah mengecilkan arti PDRI Padahal, tanpa pemerintahan darurat itu, mungkinkah negara kesatuan yang kita diami sekarang ini masih bernama Indonesia karena waktu itu Belanda berhasil melumpuhkan Ibu Kota Republik Indonesia Serikat di Yogyakarta dan menangkap Soekarno-Hatta pada 19 Desember 1948?  Tapi, Negara Keempat  hilang dipendam orang-orang yang tidak ingin kehilangan muka. Namun, sejarah akan mencari asalnya. Dan, sekaranglah saatnya sejarah menemukan asalnya.

Negara Kelima adalah kebangkitan masa silam. Ketika matahari hadir tanpa ba­yangan, keputusan diambil pada puncak yang terlupakan. Para Penjemput menuai janji kejayaan masa silam. Itu adalah saat penentuan, ketika Para Penjemput tidak lagi ingat akan masa lalu berbilang tahun tetapi mendamba masa lalu berbilang ribuan tahun.

KePaRad ingin Nusantara kembali berjaya, tapi tidak lagi bernama Indonesia. Mereka akan membentuk Negara Kelima, seperti yang ditulis sang pembawa berita. Para pemuda ini mulai beraksi dengan mengacaukan situs-situs internet milik pemerintah dan beberapa fasilitas umum. Dalam setiap aksinya, mereka selalu meninggalkan pesan provokatif: Bubarkan Indonesia. Bebaskan Nusantara. Bentuk Negara Kelima.

Namun, jejak mereka semakin terlacak ketika putri seorang komisaris besar detasemen khusus 88 antiteror ditemukan tewas di sebuah hotel yang dikenal sebagai hotel mesum. Sang komisaris besar tidak mau karier gemilangnya tercoreng gara-gara kejadian itu tercium media. Namun, di ulu hati korban terdapat sayatan berbentuk piramida dengan belahan diagonal pada alasnya. Itulah lambang yang identik dengan KePaRad. Otomatis polisi pun memburu anggota kelompok itu sebagai tersangka pembunuhan anak polisi sekaligus pelaku teror.

Bukan hanya KePaRad yang menjadi kambing hitam, tetapi juga seorang inspektur polisi bernama Rudi Djatmiko yang mencurigai adanya konspirasi karena kasus pembunuhan biasa seharusnya menjadi tanggung jawab kesatuan reserse dan kriminal. Di tengah usaha membongkar konspirasi itu, Rudi malah ditemukan tewas di kamar asramanya. Tuduhan pun langsung tertuju pada Timur Mangkuto, sahabat Rudi sekaligus anggota densus 88, yang malam sebelumnya diketahui mengobrol bersama Rudi. Dari sini, cerita semakin terbagi menjadi dua: pencarian serat ilmu oleh Keparad dan pelarian Timur Mangkuto yang kemudian dibantu oleh Eva Dhuani (dosen sejarah dan mantan pacar Rudi).

ES Ito membingkai kegelisahan para pemuda KePaRad yang menginginkan kebangkitan bangsanya dengan sebuah novel berjudul Negara Kelima. Dalam karyanya ini, dia meracik sejarah Atlantis dan peradaban awal manusia modern yang bermula dari Nusantara hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan pembentukan PDRI di Bukittinggi. Meski kaya akan informasi sejarah, novel ini tidak membosankan karena kecerdikan penulis menaburkan isu revolusi, konspirasi di balik wibawa seragam korps kepolisian, dan teka-teki penyelidikan serangkaian pembunuhan sebagai bumbu penyedap novel ini.

Ada yang mengatakan novel ini provokatif karena penulis dengan asyiknya sentil sana sentil sini dalam cerita bergaya the Da Vinci Code ini.  Namun, saya kira pihak-pihak yang merasa tersentil tidak perlu lantas kebakaran jenggot seperti Badan Kehormatan DPR ketika mendengar lagu “Gosip Jalanan” milik Slank. Saya pribadi lebih suka jika kehadiran novel ini dimaknai sebagai suluh penyemangat kebangkitan nasional, kebangkitan Nusantara.  ***

dibaca oleh: 1775 pengunjung