Demi kepuasan pembaca, Penerbit Serambi telah berupaya untuk mencetak setiap bukunya di perusahaan percetakan profesional. Akan tetapi, bila dalam kenyataan masih terdapat kesalahan dalam pencetakan dan/atau penjilidannya seperti halaman terbalik, tidak urut, kurang, atau tidak terbaca kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Selanjutnya, kami persilakan Anda untuk mengembalikan buku tersebut ke alamat kami: Penerbit Serambi, Jln. Kemang Timur Raya No. 16, Jakarta 12730 dan kami akan menukarkannya dengan buku baru. Selama Anda berada di wilayah Indonesia, maka ongkos kirim untuk pengembalian dan penukaran buku tersebut menjadi tanggungan kami.




   Menu Utama

TV SERAMBI

Dr. Jeffrey Lang - From Atheism To Islam (bag. 2)

     Kabar
Pemenang Lomba Menulis Sahabat Buku "Terampil Bersahabat dengan Siapa Saja
LOWONGAN EDITOR STRATEGIS
Simak! Talk show Libri di Luca @ RRI Pro 2 FM

DOWNLOAD
Pencerahan dari "Quran Berjalan"

Ustadz Quraish Shihab
 Sekelumit Keadaban Islam di Tengah Purbasangka
 Download:zip [441 KB]


   Gagas Terbaru
EXECUTIVE POWER
Penerbit Serambi
Alpha Male Syndrome: Virus Baru dalam Kepemimpinan dan Penyembuhnya
Satrio Wahono*
Teladan Mandiri Benjamin Graham

   Resensi Terbaru
Pamuk dan Istanbul
Berinvestasi Saham Secara Syariah
Sejarah Indonesia Modern 1200-2008
Azazil, Godaan Raja Iblis: The Arabic Da Vinci Code
Dewey: Kucing Perpustakaan Kota Kecil yang Bikin Dunia Jatuh Hati Condividi

Resensi
Cari Resensi:  

Arsip Resensi | Resensi Terbaru

Serambi, 29-Agustus-2006

123 Tahun Lalu Dunia Berguncang
Sumber: Media Indonesia

Oleh: Gugun El-Guyanie
Judul Buku: Krakatau, Ketika Dunia Meledak
Penulis: Simon Winchester

JAUH sebelum Gunung Merapi, wedhus gembel, dan Mbah Maridjan menjadi perbincangan Indonesia bahkan dunia, Krakatau adalah fenomena mahadahsyat yang mengawal sejarah dunia modern.
     Pukul sepuluh pagi lewat dua menit, Senin, 27 Agustus 1883, ledakan itu menghenyakkan segala perubahan dalam sejarah perjalanan anak manusia. Ia adalah sebuah gunung berapi yang memiliki kombinasi sifat yang menakjubkan, indah sekaligus berbahaya, sulit diramalkan dan tak bisa dilupakan.
     Simon Winchester, penulis berbakat yang memiliki back ground keilmuan geologi dan juga sejarawan, menghidupkan kembali peristiwa yang sudah mulai memfosil itu. Krakatau yang dihadirkan oleh Winchester bukanlah bencana alam yang biasa.
     Namun, merupakan sebuah fenomena yang memiliki efek domino terhadap perubahan sosial, politik, ideologi, ekonomi, teknologi, bahkan merambah pada pergeseran agama dan kebudayaan. Dengan mengerahkan segala energi dan potensinya yang rumit, bercabang-cabang, melompat dari disiplin ilmu yang satu ke disiplin ilmu yang lain, dengan disajikan dalam gaya bercerita yang indah, telah melahirkan kesadaran baru mengenai geopolitik kontemporer.
     Peristiwa vulkanik yang paling meluluhlantakkan dalam catatan sejarah manusia modern tersebut menghancurkan 165 desa serta menewaskan 36.417 orang. Bukti geologis menunjukkan bahwa banyak gunung-gunung berapi yang lebih besar dan lebih dahsyat daripada Krakatau.
     Namun, ledakan Krakatau dianggap terbesar kelima dalam sejarah geologi planet ini. Gunung Toba dan Tambora di Hindia Belanda, Taupo di Selandia Baru, dan Katmai di Alaska dianggap jauh lebih besar, setidaknya dihitung dari banyaknya material yang mereka lontarkan ke langit dan ketinggian yang dicapai oleh lantaran bahan-bahan itu (hlm 303).
     Teknologi komunikasi pada waktu itu, misalnya (kemajuan telegrafi yang dikenalkan oleh Samuel Morse, pemasangan kabel bawah laut, maraknya agensi-agensi baru) memungkinkan bangsa-bangsa yang paling maju di dunia ini tahu tentang ledakan itu persis pada waktu peristiwa tersebut sedang terjadi.
     Tetapi pada saat yang sama, pengetahuan geologis yang terbatas, dan hanya berkembang dengan amat pelan, yang berhasil mereka capai pada waktu itu tidak mampu memberikan penjelasan yang bisa meredakan kekhawatiran-kekhawatiran mereka mengenai semua hal yang mereka ketahui. Ketakutan dan kekhawatiran juga melanda penduduk yang berada pada radius ribuan mil dari tempat kejadian.
     Dogma keagamaan pada waktu itu hanya mengabarkan sisi mistik-primitifnya yang mencengkeram jutaan manusia, bahkan terhadap masyarakat yang perkembangan pengetahuan dan teknologinya lumayan pesat.
     Nenek moyang mereka yang masih dibelenggu tradisi politheisme akan menjelaskan bahwa letusan Krakatau yang mahadahsyat itu karena para dewa sedang marah. Bagi mereka yang berpijak pada ramalan Alkitab, bahwa dunia mereka akan pecah berantakan, dan bahkan kiamat, menjadi bayang-bayang kegalauan umat manusia pada waktu itu (hlm 21).
     Bencana besar pertama di dunia setelah ditemukannya telegraf bawah laut benar-benar menjadi magnet yang menyedot perhatian manusia sedunia. Koran dan surat kabar membincangkan dan mengurai tentang tragedi yang benar-benar up to date itu. Kata-kata dan frasa-frasa yang selama ini tidak dikenal manusia di belahan dunia jauh (seperti Jawa, Sumatra, Selat Sunda, Batavia) tiba-tiba menjadi pergunjingan lidah seluruh penduduk bumi. Fenomena modern 27 Agustus 1883 yang istimewa juga telah melahirkan apa yang disebut sebagai 'desa global'.
     Berita atas kejadian monumental ini juga ditulis pada abad ke-19 oleh seorang pujangga terkemuka Keraton Solo, Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam Pustaka Raja Purwa. Dalam seratnya, Ranggawarsito menulis, "Setelah banjir mereda, gunung Kapi yang meletus berkeping-keping itu, dan daratan sekitarnya berubah menjadi laut, dan pulau tunggal itu (Jawa-Sumatra) terpecah menjadi dua bagian. Kota Samaskuta, yang terletak di pedalaman Sumatra, berubah menjadi laut, airnya sangat jernih, dan setelah itu disebut Danau Sinkarta. Peristiwa itu menjadi asal usul terpisahnya Sumatra dan Jawa." Gunung Kapi yang disebut di atas maksudnya adalah Krakatau (hlm 167).
     Kendatipun Ranggawarsito banyak diragukan terutama oleh para cendekiawan yang berusaha menjadikannya referensi bagi penelitian historis yang serius, namun merupakan kebanggaan bagi bangsa kita sendiri yang jauh tiga abad lalu telah memiliki seorang intelektual, pujangga yang juga memiliki sensitivitas global. Krakatau ternyata telah mengangkat seorang cerdik pandai pribumi yang sampai kini masih menjadi perdebatan ketika berhadap-hadapan (vis a vis) ilmuwan Barat yang merasa lebih modern.
     Ranggawarsito sebagai simbol kearifan lokal tidak hanya menandai momentum di Kerajaan Solo semata, tapi juga mengembara untuk seluruh Pulau Jawa, bahkan menguasai sejarah-sejarah bangsa Eropa. Kini kita kehadiran fenomena Mbah Maridjan yang meruntuhkan segala arogansi keilmuan Barat modern ketika tak kuasa menjawab misteri Gunung Merapi di Jawa Tengah beberapa bulan yang lalu.
     Letusan Krakatau telah membuat orang Belanda di Hindia Timur kehilangan pegangan. Imperialisme juga telah tergoyahkan, serta keyakinan diri orang Hollander tengah dihajar. Bersamaan dengan itu, novel Max Havelaar yang ditulis Multatuli, seorang Belanda yang simpati atas penderitaan orang pribumi, memiliki pengaruh besar di seluruh Nederland untuk sadar akan tindakan yang di luar batas perikemanusiaan. Orang-orang yang ketakutan dan kehilangan harta menjadi terpisahkan dengan pemerintah Belanda yang paternalistis. Krakatau pula yang mendorong mereka untuk mencari kenyamanan dan stabilitas melalui Islam. Dan Islam yang menentang kolonialisme itu menawarkan pembebasan dari segala ketakutan dan kehilangan harta dengan sepenuh hati.

Gugun El-Guyanie, pustakawan KUTUB, Yogyakarta


dibaca: 1384 kali


Share/Save/Bookmark


Copyright © 2005 - 2010 Penerbit Serambi All Rights Reserved. || contact webmaster

[Resensi RSS feed] [Gagas RSS feed] [Kabar RSS feed]

 

Toko Buku Serambi Online     Little Serambi     Penerbit Atria - Imprint Serambi     Informasi Al-Quran Produk Serambi

TV Serambi     Serambi Podcast     Blog Gita Cerita Utama     Blog Pustaka Islam Klasik