Al Falaq

Alfalaq—salah satu surah terpendek dalam Alquran—biasanya diamalkan sebagai doa, wirid, atau jampi penyembuh penyakit . Oleh Achmad Chodjim surah ini dikupas agar dapat digunakan sebagai petunjuk bagi orang-orang yang ingin memperoleh keselamatan, tapi juga mampu menjawab tantangan zaman . Dalam bahasa sehari-hari, mereka yang menjaga keselamatan dirinya itu disebut sebagai orang-orang yang bertakwa.

Kalimat perintah "qul" yang oleh sebagian besar ahli tafsir diterjemahkan sebagai "katakan" , oleh Achmad Chodjim diimprovisasi maknanya. Kita tidak lagi merasa diperintah oleh Tuhan untuk mengucapkan kata "qul". Karena kita ini bukanlah anak-anak kecil yang dituntun untuk mengucapkan kata tersebut. Kata ini sebenarnya sebuah perintah yang harus diwijudkan dalam kata dan perbuatan.

Kita memang harus berlindung kepada Tuhan dari berbagai macam kejahatan yang ada di sekitar kita. Tetapi, perlindungan dalam bentuk merapal wirid di era modern ini sudah tidak memadai lagi. Nah, di dalam buku ini Achmad Chodjim mengupas bentuk-bentuk perlindungan yang masih tersirat dalam surah Alfalaq. Dengan memahami yang tersirat, manusia akan tahu jalan keluarnya. Dan, surah sebagai petunjuk akan terbentang di hadapannya.

Sebagaimana karya-karya bestseller pengarang buku ini —seperti Syekh Siti Jenar: Makna "Kematian", Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga, dan Al -Fatihah , buku ini mengajak Anda untuk tumbuh. G aya penulisannya disajikan mengalir dan enak disimak.

Barang siapa yang tidak mendapatkan nur dari allah, niscaya dia tidak akan memperoleh cahaya sedikit pun (QS Al-Nur [24]:40)

Buku ini berkeinginan mengajak pembacanya untuk hidup bersama Al-Quran atau berperilaku dalam naungan cahaya ( nur ) Allah Swt. Sebagaimana karya-karya bestseller pengarang buku ini -seperti Lentera Hati, Membumikan Al-Quran, dan Wawasan Al-Quran -yang "bercahaya", buku Secercah Cahaya Ilahi ini ditulis dan dikemas secara efektif untuk menyamai kesuksesan buku-buku sebelumnya tersebut.
Keunikan buku ini terletak di antara keistimewaan buku Lentera Hati dan Wawasan Al-Quran . Topik-topiknya dikembangkan lebih luas ketimbang Lentera Hati dan gaya penulisannya disajikan mengalir dan enak sebagaimana Lentera Hati , namun pembahasannya tidak sepelik buku Wawasan Al-Quran . Menikmati buku ini bagaikan menikmati sebuah hidangan yang membangkitkan selera karena diberi "bumbu"-seperti aktualitas masalah, penekanan pada problem sosial yang lebih banyak, dan kekayaan ilustrasi yang tepat mengena-yang amat bervariasi.

Al-Quran adalah sebuah kitab universal. Ia adalah wahyu langit dan bukan hasil pikiran manusia. Orang menyebutnya mukjizat utama utusan paling-akhir Allah, Muhammad Saw. Tapi bagaimana semua keunggulan itu diletakkan oleh manusia-manusia modern yang mengandalkan rasionalitas? Bagaimana mereka menafsirkan pesan-pesan Al-Quran, yang begitu kaya dan banyak menggunakan bahasa simbol, melewati perjalanan masa dan perkembangan zaman dari saat diturunkannya?
Dalam buku ini, kedua penulis - yang semasa kuliah di IAIN Yogyakarta adalah mahasiswa-mahasiswa berprestasi menonjol dan aktif melakukan diskusi mengenai berbagai kajian Al-Quran - mencoba meletakkan problem penafsiran Al-Quran dalam konteks kesejarahan turunnya Al-Quran, konteks susunan ayat-ayatnya, dan sekaligus konteks kekinian. Mereka sepakat dengan aksioma modernisasi Islam, bahwa Al-Quran haruslah menjadi pedoman bagi kaum Muslim, dalam hidup dan kehidupannya. Berdasarkan keyakinan inilah kedua penulis berusaha mengemukakan metodologi penafsiran Al-Quran yang mampu menjawab tantangan zaman, seraya sedapatnya tetap berlaku adil atas Kitab Suci ini, demi menjaga otentisitas pemahamannya.

dibaca oleh: 5020 pengunjung