Elizabeth Pisani Mencandu Indonesia

-Kompas, 26 Oktober 2008-

Dalam balutan kain batik pesisiran dan atasan dalam warna ungu terong yang senada, gelang logam, rambut ikal kecoklatan pendek, mata bulat ekspresif, dan sikap hangat, Elizabeth Pisani tidak mengesankan sebagai sosok yang bergulat dengan data statistik.

Namun, begitu berbicara dengan perempuan berperawakan mungil dan ramping kelahiran Cincinnati, Amerika Serikat, itu kesan tersebut menguap. Dia mampu menggambarkan epidemiologi penyebaran virus HIV/AIDS, bidang yang bertahun-tahun menjadi kajiannya.

Apalagi ketika menyinggung buku yang dia terbitkan awal tahun ini di Inggris, Juni lalu di Amerika Serikat dan Kanada, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Kami berbincang di rumah kawannya, tempat dia tinggal selama di Jakarta, di Jalan Lembang, Menteng, Selasa (21/10) siang, dalam bahasa Indonesia yang bagus.

Sorenya, dia bergegas ke Kemang, Jakarta Selatan, untuk peluncuran Kearifan Pelacur. Kisah Gelap di Balik Bisnis Seks dan Narkoba (Serambi, 2008). Buku aslinya berjudul Wisdom of Whores: Bureaucrats, Brothels, Business of AIDS, diterbitkan Granta, London. Buku ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan Italia.

Sebagian buku ini berisi pengalaman dia ketika tahun 2001 bekerja di Jakarta sebagai konsultan bantuan Pemerintah Amerika dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS. Buku ini juga menyinggung negara-negara lain, upaya penanggulangan secara global, dan bagaimana HIV/AIDS menjadi bisnis raksasa.

”Saya memakai ungkapan Indonesia ’ada gula ada semut’ di Bab 8 untuk memperlihatkan bagaimana dana yang begitu besar untuk penanggulangan HIV/AIDS menarik banyak pihak, pemerintah hingga LSM. Begitu rupa, sampai-sampai ada program yang tidak ada hubungannya dengan HIV/AIDS, seperti memelihara ikan untuk meningkatkan pendapatan atau poster yang tidak jelas maksudnya,” kata Eli, begitu teman-temannya, termasuk produser film Shanty Harmayn, memanggil dia.

Berbincang dengan doktor epidemiologi itu sama menariknya dengan membaca bukunya. Wajahnya yang ekspresif sama hidupnya dengan alur cerita buku yang menggambarkan jejaring di kalangan pekerja seks dan pelanggannya yang tidak sederhana di Jakarta. Juga, pengguna jarum suntik di kalangan pemakai narkoba.

Pemahaman itu dia dapatkan melalui penelitian kualitatif yang membawa dia ke tempat transaksi seks di tempat becek di Jakarta Utara hingga para gay elite yang memiliki daftar tempat yang bisa dikunjungi.

Jangan kaget bila menemui dia naik motor bebek di jalanan Jakarta. ”Jalanan Jakarta macet. Saya bukan orang yang sabar menghadapi kemacetan,” kata Elizabeth.

Mencandu Indonesia

Masa sebagai konsultan telah berlalu, tetapi Elizabeth terlanjur cinta Indonesia. Dia sudah menjelajahi Indonesia—kecuali Sumatera Selatan—yang dia lakukan sebagian besar pada masa menjadi koresponden kantor berita Reuters pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.

Setidaknya setahun sekali dia kembali ke Indonesia. ”Untuk bertemu teman-teman,” kata Elizabeth.

Asia telah menarik perhatian Elizabeth sejak berumur belasan tahun, walaupun orangtuanya, eksekutif perusahaan dari Amerika, membawa keluarganya ke negara-negara Eropa sejak dia masih belia.

Pada usia 15 tahun Eli dibolehkan mengunjungi sahabatnya di Hongkong, tempat yang memberi dia kesempatan bertemu dengan kehidupan nyata, di kalangan anak orang kaya, menyusuri gang penuh tong berisi belut dan pedagang kali lima, atau dugem di kelab malam. Itulah yang antara lain mendorong dia belajar Sastra China Klasik secara akademis di Sommerville College, Oxford University (1986).

Pilihan pada epidemiologi tak sengaja. Bekerja sebagai wartawan tidak memberi kepuasan karena berita hanya memberi tempat terbatas untuk kata-kata. Sementara, dia punya banyak pengalaman bersentuhan dengan massa di jalanan New Delhi, Beijing, Hongkong, dan Jakarta.

Tahun 1993 dia melanjutkan pendidikan S-2 demografi medis yang ternyata kemudian menurut Elizabeth ada kesamaan dengan jurnalisme investigasi. Yang diperlukan adalah mengajukan pertanyaan tepat kepada orang yang tepat, mencatat jawaban dengan tepat, menganalisis dengan benar, mengartikan secara benar dalam konteks yang benar.

”Aku menghabiskan waktu terlama dalam hidupku di Indonesia,” kata Eli. ”Tujuh tahun. Dan aku sudah kecanduan Indonesia. Aku paling suka Sumba Barat, entah kenapa. Aku kembali ke London untuk detoks, tetapi selalu keracunan untuk kembali ke sini, ha-ha-ha….”

”Yang aku paling suka dari Indonesia adalah semua bisa diatur. Betul, konotasinya bisa positif bisa negatif,” kata Elizabeth yang lancar juga berbahasa Perancis dan Spanyol.

”Di Inggris hal itu tidak mungkin. Jadwal dibuat enam bulan di depan. Di Indonesia, sangat fleksibel, tetapi juga bisa menunjukkan sebuah persiapan yang kurang kuat,” kata Elizabeth.

Yang juga dia sukai adalah keterbukaan orang Indonesia. Dia mencontohkan waria yang tinggal bersama-sama warga lain di perkampungan dan diterima tanpa timbul masalah.

”Tetapi, juga ada yang bikin frustrasi. Karena bisa terima apa saja, orang juga jadi cuek. Orang baru akan bereaksi kalau masalah sudah sampai ujung. Misalnya, banjir. Sudah bulan Oktober, tetapi kelihatannya semua masih tenang-tenang

Ninuk Mardiana Pambudy

dibaca oleh: 1107 pengunjung