Peraih Nobel Galau Reaksi Kaum Sekuler Turki soal Jilbab

Peraih Nobel Budaya asal Turki Orhan Pamuk prihatin dengan reaksi berlebihan negaranya soal jilbab. Padahal, berjilbab tak berarti menjadikan orang radikal, ujarnya

Pemenang Nobel Budaya asal Turki Orhan Pamuk ikut prihatin dengan adanya kontroversi penggunaan jilbab di negerinya. Dia mengaku sangat sedih mengapa masalah penggunaan jilbab di universitas menjadi isu yang begitu besar.

"Menggunakan jilbab bukan berarti seorang fundamentalis. Perempuan Turki sejak dulu pun memakai jilbab, sama seperti perempuan Italia pada masa lalu. Jadi, jika perempuan di Turki menggunakan jilbab, itu bukan sekadar menjalankan ajaran agama atau mengikuti kebijakan politik Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP)," jelas Pamuk.

Masalah menggunakan jilbab menjadi perhatian Pamuk karena dalam novel karyanya yang berjudul My Name is Red dan Snow, pria berusia 55 tahun ini juga mengangkat isu soal jilbab. Bukan itu saja, dua novel yang meraih penghargaan Nobel Budaya pada 2006 ini membandingkan penggunaan jilbab para perempuan Muslim di Turki dan Amerika Serikat (AS).

Dalam novel Snow yang berlatar belakang sebuah kota di Kars, perbatasan antara Turki Timur dan Armenia, Pamuk pun mengangkat isu penggunaan jilbab. Novel yang sudah diterjemahkan dalam 40 bahasa dan menjadi salah satu buku best seller ini, menceritakan seorang pelajar putri mengancam melakukan bunuh diri karena dilarang kuliah hanya karena dia berjilbab.

"Isu soal jilbab memang sangat kompleks sehingga jika ada pelarangan menggunakan jilbab, bisa jadi itu sebuah keputusan yang salah. Idealnya, kita harus selalu menghormati sikap dan keyakinan orang lain. Jadi, masalah itu tak perlu harus diselesaikan melalui keputusan politis," ujar Pamuk, yang jauh hari memberi sinyal masalah jilbab melalui dua novelnya.

Maka itu, Pamuk yang meraih gelar arsitektur dari Istanbul Technical University dan berkuliah di Columbia University, AS, sangat miris dengan isu pelarangan jilbab di negerinya. Pamuk menilai, AS yang dipimpin seorang fundamentalis Presiden George W Bush saja tak pernah mengeluarkan peraturan larangan penggunaan jilbab, baik dalam kehidupan sosial maupun di lingkungan sekolah.

"Buktinya, putri Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan tetap boleh berjilbab meski dia kuliah di AS. Dia bebas menggunakan jilbab sebagai keyakinan yang dipegangnya," tegas Pamuk kepada La Repubblica, harian politik berpengaruh di Italia.

Di Turki larangan menggunakan jilbab pertama kali dikeluarkan pada 1923 ketika dipimpin Mustafa Kemal Ataturk. Hal itu dilakukan Ataturk yang dijuluki sebagai Bapak Bangsa Turki modern untuk menghapus pemerintah berdasarkan agama Islam di Turki dan memilih konstitusi yang sekuler.

Kini, sejak berkuasanya PM Erdogan yang didukung AKP, partai berbasis Islam, isu mengembalikan pemerintahan berdasarkan agama kembali mencuat. Isu itu diapungkan kalangan militer dan nasionalis yang khawatir Erdogan akan mengubah konstitusi Turki yang sekuler menjadi berdasarkan agama.

Terlebih, Parlemen Turki sudah mengesahkan pencabutan larang penggunaan jilbab bagi mahasiswi di kampus. Keputusan itu semakin memicu kalangan nasionalis menggelar demo besar-besar untuk menentangnya. Mereka menilai keputusan itu langkah awal untuk menghapuskan paham sekuler yang lama dijalankan Turki.

Berbagai alasan dikemukakan untuk menolak pencabutan larangan menggunakan jilbab di kampus, mulai mengekang kebebasan perempuan sampai menuding penggunaan jilbab adalah ajaran "fundamentalis" dan "radikal".

Apalagi, kini sedang santer masalah “terorisme” yang sering dinilai dilakukan golongan “Islam fundamentalis”. Padahal, masalah “fundamentalis” dan “radikal” bukan hanya ada di Islam. Pada agama lain di dunia pun dikenal istilah "fundamentalis.”

"Isu fundamentalis dan radikal bak racun dalam kehidupan beragama di dunia. Padahal semua agama, termasuk Islam, tak pernah mengajarkan kekerasan apalagi terorisme," ujar Famile Arslan, seorang jaksa agung di Haque, Belanda, yang mengenakan jilbab.

Arslan yang berasal dari Turki sukses meniti karier di pemerintahan Negeri Kincir Angin meski berjilbab. Bagi dia, menggunakan jilbab adalah sebuah tantangan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa dia bukan seorang fundamentalis atau radikal. Sebaliknya, Muslimah berjilbab pun bisa berkarya dan sejajar dengan wanita karier lainnya.

"Pada awalnya saya banyak menghadapi kesulitan dan sering dipandang negatif oleh tetangga hanya karena berjilbab. Namun, saya menganggap semua sebagai tantangan dan tetap berpikir positif. Akhirnya, saya bisa berkarier sejauh ini. Memang sulit, tapi semua bisa dilakukan," pungkasnya. [snd/www.hidayatullah.com]

dibaca oleh: 2179 pengunjung