Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Sejarah tentang Islam dan Jawa adalah persoalan menarik untuk terus diteliti dan didiskusikan. Di Jawa, penetrasi dan pengaruh Islam tampak semakin dalam dan luas, baik dalam bentuk norma, nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, maupun dalam bentuk institusi atau lembaga. Merambah dalam berbagai bidang dan berlangsung dengan pelbagai cara serta bentuknya yang beragam, dan terkadang mengalami satu konflik antara satu usaha Islamisasi dan usaha lainnya, proses Islamisasi di Jawa berjalan semakin massif.

Proses Islamisasi itu juga memperoleh tantangan, baik internal maupun eksternal. Dalam konteks internal, misalnya, terdapat persaingan dan pertentangan, misalnya antara salafi yang apolitis dan yang cenderung jihadis/radikal, antara Muhammadiyah dan NU dengan PKS dan Hizbut Tahrir, seperti yang akhir-akhir ini terjadi di beberapa tempat.

Buku karya MC Ricklefs ini mencatat, merekam dialektika sejarah, dan bagaimana kontestasi Islamisasi di Jawa yang begitu kompleks itu dari sekitar tahun 1930-an sampai perkembangannya sekarang. Buku Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang ini merupakan karya yang besar dan penting bagi kita untuk memahami bagaimana proses Islamisasi di Indonesia berlangsung dari dulu hingga masa sekarang.

Buku ini tidak hanya mendapatkan paparan tentang sejarah semata. Buku yang terbagi dalam 14 bab ini juga menyuguhkan kepada kita wawasan tentang perubahan sosial, politik, dalam kaitannya dengan terbentuknya politik identitas masyarakat Jawa, hubungan Islam dengan politik dan negara, kontestasi identitas kejawaan dengan ke-Islaman, serta konflik dan toleransi beragama.

Mengapa Jawa dan mengapa tahun 1930? Memiliki jumlah penduduk hampir 100 juta dari 250 juta penduduk Indonesia, Jawa merupakan kelompok etnis mayoritas Muslim terbesar di dunia, kedua setelah etnis Arab. Selain itu, Ricklefs adalah Indonesianis asal Australia yang bereputasi tinggi. Lalu, mengapa tahun 1930-an? Menurut Ricklefs, tahun 1930-an tahun di mana pemerintah penjajah Belanda melakukan sensus untuk kali pertamanya—sekaligus yang terakhir—guna mengetahui pertumbuhan populasi masyarakat Jawa dan reaksinya terhadap Islamisasi yang kian intensif (hal 21).

Menurut Ricklefs, Islam di Jawa dan di Indonesia pada umumnya tidaklah monolog dan satu warna. Ada banyak varian dan aspirasi Islam, yang meski lantaran adanya tekanan politik rezim Orde Baru membuat beberapa di antaranya memilih tiarap. Ketika rezim Soeharto runtuh, barulah kelompok-kelompok itu bermunculan bak cendawan di musin penghujan. Ketika era reformasi datang, kelompok-kelompok agama yang selama ini tiarap karena represi pemerintah, bangkit dengan seketika. Kelompok-kelompok keagamaan baru muncul dengan usaha yang lebih keras yang menuntut pelaksanaan syariah Islam dalam tubuh negara. Panggilan ke arah Islam semakin bervariasi dan menguat.

Tak mengherankan jika lantas pada era ini, di luar kelompok santri NU dan Muhammadiyah yang moderat, kita menyaksikan geliat pertumbuhan dan perkembangan kelompok-kelompok Islamis seperti Lasykar Jihad, Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin, Jamaah Anshorut Tauhid, Khilafatul Muslimin, dan sebagainya. Belum lagi kelompok-kelompok salafi yang banyak jumlahnya dan kelompok-kelompok lainnya. Kelompok-kelompok itu sering kali menjelma sebagai kekuatan yang totaliter. Sering mengabsahkan penggunaan cara-cara kekerasan, kelompok tersebut juga menginginkan pelaksanaan syariah secara lebih mendalam melalui oleh negara secara rigid, baik melalui Perda Syariah maupun ide tentang Negara Islam.

Kita sekarang ini juga melihat beberapa organisasi dan partai Islam yang bermuka ganda. Mendukung demokrasi dari luar, tetapi membunuhnya dari dalam. Mereka mengklaim mendukung cita-cita demokrasi, tetapi enggan dan bahkan memusuhi nilai-nilai dan ajaran dari demokrasi. Kelompok baru dengan model Islam yang beda dengan sebelumnya itu, sering dikatakan memanfaatkan demokrasi untuk tujuan nondemokratis. Jadi, jika NU dan Muhammadiyah menerima ketetapan Pancasila sebagai ideologi dasar NKRI sembari terus mengislamkan masyarakat, tidak demikian kelompok-kelompok baru itu.

Fenomena di atas tentu saja membangkitkan pertanyaan tentang akan seperti apa gambaran serta bentuk masyarakat Islam yang dicita-citakan? Bagaimana hubungannya dengan kelompok minoritas non-Muslim lain yang hidup di Indonesia? Dan bagaimana seharusnya agama berperan di ruang publik?

Buku ini membahas pelbagai upaya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Muslim baik dari NU maupun Muhammadiyah, LSM, dan tokoh-tokoh pro-pluralisme untuk tetap menjaga agar ruang publik sebagai ruang yang netral, bebas dari pengaruh-pengaruh agama. Bersama sejumlah kelompok minoritas non-Muslim mereka berjuang menegakkan keadilan seraya memastikan NKRI sebagai tenda besar yang menaungi semua bentuk agama dan kepercayaan. Dalam buku ini, Ricklefs mengemukakan bahwa “kebangkitan Islam di Jawa atau lebih tepatnya keberhasilan Islamisasi di Jawa bukanlah khas Jawa saja. Melainkan, juga berbarengan dengan fenomena kebangkitan agama-agama lain di berbagai belahan dunia yang lain.”

Kelebihan dan keutamaan buku ini datang dari kejelian Ricklefs dalam menyusun mozaik data sejarah dan menggabungkan, menyambungkan dalam satu mata rantai sehingga menjadi alur yang menarik. Oleh karena itu, buku ini merupakan sumbangsih dan karya penting yang harus dibaca siapa saja yang tertarik untuk mengetahui sejarah jalan berliku Islamisasi di Jawa. Dalam kesempatan ini, diskusi buku menghadirkan Prof Dr MC Ricklefs selaku penulis, Philips J Vermonte, PhD (Ketua Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS), dan Ihsan Ali-Fauzi, MA (Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (Pusad) Paramadina). Acara diskusi dimoderatori oleh Ahmad Fuad Fanani, MA (Direktur Riset MAARIF Instititute). Acara ini diselenggarkan bersama oleh MAARIF Institute for Culture and Humanity, Center for Strategic and International Studies (CSIS), dan Penerbit Serambi.

dibaca oleh: 4491 pengunjung