Menjadikan Serambi Leading Publisher

APA yang tersisa dari Gathering Karyawan Serambi awal tahun ini? Tentu saja bukan makanan dan minuman yang sangat mungkin langsung terbuang dari lambung kita pada keesokan harinya, tetapi wacana menjadikan Serambi sebagai leading publisher yang dilontarkan oleh Rektor Universitas Paramadina, Anis Baswedan Ph.D, sebelum acara BBQ dimulai. Kita, Serambi, sekarang sudah mengantongi satu modal yang mudah-mudahan akan memuluskan langkah selanjutnya, yaitu ISO—yang tentunya memberikan angin segar bagi ketertiban administrasi di sini. Di samping itu, setidaknya ada tiga tantangan sekaligus peluang yang menjadi pekerjaan rumah bagi penerbit yang ingin menjadi leading publisher: minat baca yang kurang, jumlah anak muda Indonesia yang terbesar di dunia, dan muncul di muka internasional mewakili Indonesia.       

Di awal sharing-nya, rektor berusia 38 tahun itu bercerita betapa terkejutnya dia melihat kenyataan njomplang-nya  minat baca Indonesia dengan Amerika Serikat. Sewaktu berangkat ke Maryland untuk kuliah S2, dia merasa sudah cukup banyak membaca sebagai mahasiswa. Tapi begitu sampai di sana, dia merasa minat bacanya hanya “setahi kuku”. Sebagai mahasiswa S2 Bidang International Security and Economic Policy di University of Maryland, College Park, dia diharuskan melahap sekitar 1400 halaman per minggu. Dia juga bercerita ketika dia berkunjung ke Library of Congress.

“Dan di sana (Library of Congress) seumur hidup saya belum pernah menyaksikan sebuah koleksi buku yang luar bisa dahsyatnya. Di perpustakaan ini, berbagai macam orang datang, termasuk homeless (gelandangan) ….”

Melihat kenyataan itu, Anis menyimpulkan betapa jauhnya bangsa kita di dalam mengantisipasi kemajuan ilmu pengetahuan dibandingkan Amerika Serikat. Oleh karena itu, dia juga melihat usaha-usaha untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia adalah ikhtiar mulia yang memiliki dampak untuk bangsa ini yang luar biasa besarnya. Inilah hal yang harus disadari oleh para pekerja buku. Anis memperkirakan efek buku-buku yang diterbitkan sekarang baru bisa benar-benar dilihat pada tahun 2020.

“Barangkali, apabila tema-tema dari buku-buku yang dihasilkan itu membuat kita memiliki keterampilan-keterampilan baru, pengetahuan-pengetahuan baru yang mempunyai efek konkret … mungkin akan berefek besar pada potret Indonesia di masa yang akan datang.”

Memang, teramat menggiriskan kalau kita simak beberapa hasil studi yang menunjukkan rendahnya minat dan kemampuan baca di Indonesia. Kemampuan membaca siswa SD di Indonesia berada di urutan ke-38 dari 39 atau terendah di antara negara-negara ASEAN (International Educational Achievement, 2000). Selain itu, Indonesia juga masuk di posisi delapan besar negara-negara dengan populasi buta huruf terbanyak (Global Monitoring Report, 2005). Sejauh ini dari 180.000 SD/MI hanya tercatat sekitar 5.000 sekolah inti yang mempunyai perpustakaan layak. Entah bagaimana hasil survei terbaru. Menurut Anis, kita bisa belajar mengubah lemahnya minat baca dan beli buku dari bagaimana Harry Porter berhasil sedikit mengikis anggapan bahwa buku tebal itu menyeramkan.  

Meskipun minat baca kurang, di sisi lain, ternyata Indonesia memiliki jumlah anak muda terbanyak di dunia. Jelas, ini merupakan lampau hijau yang menandakan betapa besarnya potensi baca dan beli, khususnya bagi buku-buku anak, remaja, dan dewasa muda. Ditambah lagi, resesi global yang kembali mengintip akan menaikkan pamor buku-buku spiritual, motivasi, dan bisnis, mungkin terutama yang menjual tips-tips praktis dan “instan”.  

“Kalau mereka (anak muda Indonesia) ini menjadi orang-orang yang memiliki minat baca yang tinggi, saya ras pantas Singapura, Malaysia, Thailand takut. Tapi kalau kita tidak seperti itu (minat baca tetap rendah), pantas pula apabila mereka merasa pasti selalu bisa menang dengan kita,” kata Anis Baswedan seolah menyimpulkan bahwa ada peluang yang sama besar antara peningkatan dan penurunan minat baca yang juga berarti peluang bagi penerbit.

Di sinilah, seluruh penerbit Indonesia harus mengerjakan fungsi sosialnya untuk terlibat langsung membangkitkan minat baca pemuda Indonesia. Karena, sepertinya selama ini terbentuk anggapan bahwa hanya LSM dan pemerintah saja yang bertanggungjawab terhadap fungsi sosial itu. Sedangkan, penerbit hanya berfungsi sebagai “pabrik buku”. Serambi bisa memainkan peran sosialnya sebagai penerbit yang peduli pada peningkatan minat baca yang akhirnya akan berimbas pada minat beli. Untuk itu, kita bisa bekerjasama dengan sekolah-sekolah (dengan atau tanpa perantara Diknas), membuka jejaring dengan sanggar-sanggar baca, dan  membuka taman baca baru bersama LSM atau perusahaan besar yang memang sudah punya tradisi “nyosial” seperti Indofood, Toyota, Honda. Efeknya paling tidak, di tahun 2020 “kuku” Serambi sudah menghujam tajam di hati para pembaca. Efek seperti inilah yang sepertinya belum disadari banyak penerbit.   

Anis juga mengajak Serambi menjadi leading publisher yang bukan semata-mata dikenal sebagai sebuah institusi penerbit, tapi juga yang diperhitungkan karena efek dari buku-buku yang diterbitkan oleh Serambi.

“Saya rasa sudah saatnya penerbit macam Serambi ini untuk maju dan merepresentasi Indonesia sebagai penerbit wakil Indonesia di tingkat internasional. Diperhitungkan di tingkat internasional,” kata Anis Baswedan mengakhiri sharing-nya.

Jadi, akan seperti apa Serambi 2020 nanti? Semoga bermanfaat.***

Moh. Sidik Nugraha,
disarikan dari rekaman ceramah Anis Baswedan Ph.D dalam acara Gathering Karyawan Serambi, Jumat (18/1/2008).

dibaca oleh: 1344 pengunjung