Memaknai ulang tahun dan tahun baru

Allah berfirman, Tanda kebesaran Allah bagi mereka adalah kami angkut mereka ke bahtera yang penuh muatan (Ya Sin: 36).

Bahtera tersebut bernama bumi. Kita menaiki bahtera bumi yang berlayar dan berputar mengelilingi matahari. Setiap bertemu dengan titik awal kita memulai putaran, di situlah kita merayakan ulang tahun.
Al-Quran mengisyaratkan kita untuk memperingati kelahiran kita dan mengajarkan bagaimana memperingatinya. Untuk apa?

Satu tahun kita berlayar mengitari matahari. Demikian juga seterusnya, sampai kemudian kita berhenti menaiki bahtera, meninggal, ditelan perut bumi, jejak-jejak kita hilang di pusaran masa. Sementara bahtera akan terus berlayar.

Al-Quran tidak menginginkan kita seperti orang-orang yang ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak-jejak kebaikan. Rasulullah bersabda, “Jika manusia meninggal dunia, pahala amalnya akan terputus kecuali dari tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Rasulullah mengingatkan, sepeninggal kita, apa pun yang kita miliki akan hilang dan yang akan tersisa adalah lisân shidq (buah tutur yang baik) sebagaimana doa Ibrahim yang diabadikan Al-Quran: Tuhanku! Anugerahkanlah kearifan dan masukkanlah aku dalam golongan orang-orang saleh. Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik bagi orang-orang sepeninggalku. Jadikanlah aku pewaris surga yang penuh kenikmatan (al-Syu’arâ: 83-85).

Dan, itu tidak hanya berlaku bagi umat Islam, tapi bagi seluruh umat manusia, apa pun agamanya. Sebab itu, dalam sabdanya, redaksi yang digunakan Rasulullah adalah “idzâ mata ibn âdam …” atau “idzâ mata ibn al-insân ...” atau “Jika manusia meninggal …”, dan bukan “idzâ mata al-muslimûn” atau “Jika umat Islam meninggal …”.

Tiga hal di atas adalah jejak-jejak yang seharusnya kita tinggalkan. Sebab, selama jejak itu lestari, lestari pula kebaikan yang kita dapatkan meski kita telah meninggal dunia. Orang-orang akan tetap menyebut nama kita dengan segenap kerinduan. Tiga hal itulah yang menjadi kenangan indah bagi generasi sepeninggal kita.

Banyak contoh-contoh yang bisa kita berikan terkait dengan tiga hal di atas, antara lain, adalah ilmu yang ajarkan. Imam al-Ghazali meninggal pada tahun 1111 M atau sekitar delapan ratus tahun silam. Namun, sampai saat ini warisan karya-karyanya terus dipelajari. Satu karyanya yang paling masyhur, Ihya Ulum al-Din, telah dibaca orang-orang di penjuru dunia. Orang-orang mereguk ilmu dari warisan kebaikan Imam al-Ghazali.

Kita pun barangkali bisa berbuat seperti itu, dengan membuat kata-kata nasihat, kumpulan-kumpulan puisi, dan sebagainya yang bisa kita wariskan kepada anak-cucu kita.
Contoh lain, kita mewakafkan kebun untuk kepentingan orang banyak. Di Al-Azhar Mesir ada sebuah kebun jeruk yang diwakafkan pemiliknya ratusan tahun silam. Jeruk-jeruk tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa Al-Azhar secara gratis. Selama masih dimanfaatkan dengan baik, orang yang mewakafkan kebun jeruk itu akan terus mendapat aliran kebaikan.

Contoh lain adalah seperti diumpamakan Rasulullah. Seseorang menggali mata air dan airnya dialirkan ke masyarakat. Jauh dari mata air, di jalur aliran air tersebut, seorang tua dengan tangannya kecil membuat aliran lagi untuk kebun-kebun. Orang tua itu kemudian meninggal. Namun, aliran yang dibuatnya terus dimanfaatkan para pemilik kebun. Meski dengan hal sederhana, orang tua itu telah mewariskan kebaikan.

Begitu juga dengan orang yang mewakafkan masjid untuk umat atau rumah singgah bagi orang-orang yang tak memiliki tempat tinggal. Itulah warisan kebaikan yang pahalanya akan terus mengalir tidak putus-putus kepada orang mewariskannya.

Jadi bisa disimpulkan, arti doa Nabi Ibrahim yang diabadikan Al-Quran, Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik bagi orang-orang sepeninggalku. Jadikanlah aku pewaris surga yang penuh kenikmatan, adalah apa pun yang bisa bermanfaat bagi masyarakat. Membangun sekolah, rumah sakit, menulis buku, mengajarkan ilmu pengetahuan, dan sebagainya.
Dan, doa tersebut diakhiri dengan permintaan yang indah, yaitu surga yang penuh kenikmatan. Menyiratkan bahwa jika kita mewariskan kebaikan untuk orang banyak maka Allah akan mewariskan surga sebagai balasan (JR-Zaman).
klik www.penerbitzaman.com (bacaan keluarga muslim era kita)

dibaca oleh: 1135 pengunjung