Pemenang Lomba Menulis "Dewey"

JONI, KUCING PERKASA YANG LEMBUT HATINYA

Namanya Joni, lengkapnya Muhammad Joni Jackson. Tidak, aku tidak bercanda. Joni nama pemberian suamiku. Tapi nama depan dan belakangnya aku yang memberi. Kalau ditanya tentang nama belakangnya, aku selalu menjawab, “Anak haramku dengan Michael Jackson.”
Seumur hidup aku hampir tidak pernah tanpa kucing. Dari kucing yang satu berganti kucing lain, sejak aku bayi sampai dewasa dan berkeluarga. Dan Joni adalah salah satu kucing paling berharga yang pernah aku miliki.
Dia bukan kucing ras yang mahal, bukan juga kucing kampung yang lucu menggemaskan. Dia kucing lokal yang secara fisik tidak menarik. Sebagai preman penguasa kampung, dia tumbuh menjadi kucing besar dengan badan gempal dan luka di sana sini. Tapi di mataku dia adalah kucing yang sangat ganteng.

Joni tumbuh bersama keluargaku. Dia datang ke rumah ketika aku baru saja pindah ke kehidupan metropolitan. Ketika itu kami masih miskin, tinggal di rumah kontrakan yang sempit dan pengap, tanpa perabotan sama sekali, bahkan tanpa kasur. Dan kucing kecil putih abu-abu dengan ekor seukuran kelereng itu datang menumpang makan di rumah kami. Dia pemberani sekali. Bahkan ketika makanannya dikerubuti beberapa kucing dewasa, dia dengan berani mencakar mereka dan melindungi makanannya hanya untuk dirinya sendiri. Dan sejak saat itu kami biarkan dia tidur di rumah kami, bersama kami.

Suatu pagi aku mendengar suara anak kucing menangis memohon pertolongan. Seekor kucing kuning kecil yg lucu. Kucoba mendekatinya, tapi ternyata dia masih takut pada manusia. Jadi aku tinggalkan saja sepotong ikan di dekatnya.

Hingga siang hari dia masih saja menangis. Kupikir, mungkin dia haus. Kini aku tinggalkan semangkuk susu di dekatnya. Joni memandang lekat anak kucing itu, seraya duduk di atas tembok tidak jauh darinya, hampir seharian. Kubiarkan saja, mungkin Joni penasaran. Sejak saat itu Joni tidak juga pulang untuk makan.

Tapi betapa terkejutnya aku, ketika jam delapan malam, tiba-tiba Joni masuk lewat jendela sambil menggendong kucing kecil tadi. Ya, menggendongnya, persis seperti induk kucing yg menggendong anaknya. Padahal Joni kan kucing jantan. Joni memanggil kucing kecil itu untuk ke belakang, ke tempat piring makannya berada.

“Wah, Joni, ga boleh. Ga bisa kayak gini. Ga ah, entar aku dimarahin suamiku,” ujarku saat itu seraya mengeluarkan kucing kecil itu lewat jendela. Kucing kecil itu meringkuk ketakutan di bawah jendela, sambil mengeong pelan. Mungkin meminta perlindungan. Joni seperti tidak terima. Dia melongok ke jendela dan memanggil kucing itu. Tapi tidak kuijinkan, jendela sudah kututup rapat. Aku tidak bisa menambah kucing lagi, cukup satu saja di rumah ini.

“Tak kasih makan, deh. Tapi ga boleh masuk ya,” aku mengalah satu poin. Kuambil ikan dan nasi yg seharusnya jadi milik Joni, dan kuberikan pada kucing kecil itu. Tapi Joni tidak ikut masuk bersamaku, sepertinya dia menemani si kucing kecil yang malang itu.
Esoknya, kucing kecil itu masih di depan rumahku. Saat aku membuka jendela, Joni langsung masuk, lagi-lagi, sambil menggendong kucing kecil itu. Kukeluarkan lagi sambil mengucapkan alasan yg sama. Joni memanggilnya, membuat kucing kecil itu seperti ragu, hendak menurut pada Joni atau takut padaku. Joni terus memanggilnya, suaranya persis seperti induk kucing yang memanggil anaknya atau kucing jantan yang mencari betinanya. Suara meraung lembut, seakan-akan panggilan penuh kasih sayang.

Tarik ulur itu terjadi berulang kali. Setiap kali Joni berhasil membawa kucing kecil itu masuk, setiap kali itu pula aku keluarkan lagi. Tapi secara rutin dia kuberi makan. Sehingga kucing kecil itu tidak takut lagi padaku. Bahkan beberapa kali aku biarkan dia masuk ke rumah untuk sesaat, mengikuti Joni di belakangnya, seperti seorang adik kecil yang membuntuti kakaknya saat sang kakak mengajaknya melihat-lihat asramanya.

Pada hari ketiga, aku pun menyerah, kubiarkan kucing kecil itu masuk dengan bebas, makan dari piring makan yang sama dengan Joni. Bahkan kalau aku perhatikan, sepertinya Joni sengaja meninggalkan makanannya untuk kucing itu. Selama kucing itu makan, Joni duduk di dekatnya, seperti menjaganya dari siapa saja yang hendak menganggu.

Dan ternyata bukan hanya aku yang menyerah, suamiku pun, yang awalnya sangat tidak setuju kalau kami memiliki kucing lebih dari satu, akhirnya berkata, “Kayaknya harus kita pelihara, nih.” Dan sejak saat itu resmilah kucing kuning kecil itu menjadi bagian dari keluarga kami.

Adik angkat Joni, begitu kami sebut. Adik pilihan Joni sendiri. Kami memanggilnya si Kecil. Bulu kuningnya yang tadinya tipis, berangsur-angsur menebal. Badannya yang awalnya kurus, semakin berisi. Dan tubuhnya yang kecil, semakin tinggi dan panjang. Namun tetap saja kami memanggilnya si Kecil.

Setelah ukuran tubuh mereka cukup imbang untuk bermain bersama, rasanya seperti memiliki dua anak laki-laki di rumah. Setiap hari mereka bergulat dan bergumul seru. Suara benturan-benturan keras terdengar setiap kali mereka menabrak pintu atau lemari. Gordyn yang terlepas dari gantungannya dan kasur yang berbekas cakaran jadi suatu hal biasa. Tidak ada barang yang lolos dari gigitan dan cakaran mereka berdua, mulai dari kasur, sepatu, karpet, sampai sandal karet pun penuh goresan.
Tidak pernah sekali pun mereka bertengkar. Seakan mereka sudah sepakat untuk saling menyayangi dan melindungi. Setiap kali si Kecil diancam oleh kucing garong lain, Joni maju untuk membelanya, sementara si Kecil lari terbiri-birit masuk ke rumah. Sesekali dia mengintip aksi kakaknya. Kalau sudah begini aku akhirnya mengusir kucing garong itu, untuk melindungi mereka berdua.

Karakter mereka merupakan perpaduan yang sangat unik. Joni dengan sifatnya yang kalem, tidak banyak bersuara, pemberani, tapi juga penurut. Sementara si kecil sangat periang. Dia hampir tidak pernah berjalan, selalu berlari atau melompat-lompat. Cerewet sekali, tapi kalau sudah ketemu kucing garong lari terbirit-birit dan berlindung di balik kakaknya. Dan bandelnya minta ampun. Tapi mereka sangat kompak, hampir tidak pernah terpisah. Makan sama-sama, tidur pun berdampingan. Bahkan seringkali mereka saling menjilati saat sedang membersihkan tubuh mereka. Saat si kecil menemukan cara untuk memanjat ke ventilasi, Joni juga ikut. Dan akhirnya mereka berdua duduk di ventilasi seraya memandang keluar rumah. Meski pun seringkali si Kecil tidak bisa turun dan mengeong-ngeong minta pertolongan.

Pernah satu kali aku kehilangan si Kecil. Sejak pagi dia pergi entah ke mana. Aku sudah mencarinya ke seluruh penjuru rumah dan sekitarnya, nihil. Hingga malam hari, barulah aku tahu kalau ternyata si Kecil terjebak di dalam saluran air tempat cuci piring. Lubang saluran air itu sangat kecil, pas sekali dengan ukuran tubuhnya. Entahlah, mungkin dia penasaran dengan lubang itu dan jiwa petualangnya membujuknya untuk masuk begitu saja, lalu dia terjebak di situ dan tidak bisa keluar. Dia mengeong-ngeong panik, dan aku juga panik. Kalau dia terus berjalan maju, bisa-bisa dia terperosok ke septitank. Kupanggil-panggil dia, kuarahkan senter ke lubang itu untuk memancingnya keluar. Tapi ekornya yang panjang tidak juga tampak. Joni berdiri di sampingku tanpa suara. Tapi aku yakin pasti dia juga cemas.
Lalu aku berkata pada Joni, meski pun aku tidak yakin dia bisa mengerti ucapanku, “Jon, bilang sama Kecil, suruh jalan mundur. Jangan maju, nanti makin dalam dia. Suruh mundur pelan-pelan.” Dan Joni pun menurut, dia mengeong memanggil, seperti memberi instruksi pada adiknya. Entah apa yang dikatakan Joni, tapi yang jelas beberapa menit kemudian aku bisa merasakan ekor si Kecil di tanganku. Ajaib, si kecil jalan mundur! Kutarik ekornya perlahan. Dia berteriak kesakitan, tapi aku terus menariknya, karena memang tidak ada pilihan lain. Itu satu-satunya cara. Sampai akhirnya dia berhasil keluar, dengan tubuh hitam penuh kotoran. Aku bernapas lega, dia baik-baik saja. Bahkan ekornya pun tidak patah.  Kuusap kepala Joni sebagai ucapan terima kasih. Dia sudah sangat menolongku malam itu.

Sayangnya si Kecil tidak berusia panjang. Belum genap setahun usianya ketika dia keracunan sesuatu dan mati dalam waktu dua jam. Selama Kecil mengerang kesakitan, Joni enggan mendekatinya. Bahkan setelah kecil tak bernyawa pun Joni terlihat seperti menghindarinya. Entah apa yang dia rasakan saat itu, mungkin dia tidak ingin melihat adiknya kesakitan.
Setelah kematiannya selama seminggu Joni tidak berhenti mencarinya. Ke setiap sudut rumah, ke setiap tempat yang biasa dikunjungi Kecil. Di bawah gordyn, tempat tidur favoritnya; di belakang meja, tempat sembunyi kesukaannya; dan di ventilasi, tempat nongkrong yang paling dia sukai. Joni mengeong keras, menatap ke kejauhan melalui jendela dan ventilasi. Berharap adiknya berlari menghampiri, lalu mereka saling membelaikan kepala, kemudian bermain bersama. Joni terlihat sangat patah hati dan kesepian. Setiap kali dia rindu adiknya, aku mengusap kepalanya dan membelai tubuhnya. “Aku juga kangen sama dia.”
Tidak ada lagi ngeongannya yang cempreng, tidak ada lagi tubuh gendutnya yang tertidur terlentang seraya menyembunyikan kepalanya di bawah gordyn, dan tidak ada lagi suara benturan-benturan keras yang paling aku rindukan. Aku sangat kehilangan Kecil, suamiku juga kehilangan dia, dan Joni lah yang paling merindukannya.

Setelah seminggu Joni tidak pernah lagi mencari adiknya. Dan dia juga tidak pernah berniat mencari adik baru. Terbukti saat aku membawa pulang seekor kucing kecil, kupikir barangkali bisa menjadi pengganti untuk Joni, tapi Joni enggan mendekatinya. Kecil tidak tergantikan hingga saat ini.
Namun hati Joni yang lembut dan penuh kasih sayang tidak pernah hilang. Beberapa kali dia mengajak pulang kucing betina kekasihnya, memberi makanannya, bahkan membiarkan bayi-bayi kucing mendekatinya. Dia tidak pernah membunuh bayi kucing seperti yang biasa dilakukan kucing pejantan pada umumnya. 

Di satu sisi Joni sangat lembut. Tapi di sisi lain dia sangat pemberani dan perkasa. Joni menjadi kucing alpha di sekitar rumahku. Berulang kali kucing jantan mencoba merebut daerah kekuasaannya, tapi tidak ada satu pun yang berhasil. Setiap kali dia berkelahi dengan kucing jantan lain, tubuhnya selalu tegak berdiri mengancam tanpa suara, sementara lawannya meringkuk di bawahnya, merendahkan telinganya, dan mengeong keras-keras tanda bahwa dia adalah pihak yang lemah. Begitu kucing jantan itu lari terbirit-birit, aku memanggilnya dan Joni pun menurut berhenti mengejar.

Joni memang bukan kucing yang tampan secara fisik. Dia tidak memiliki tubuh yang tambun dengan bulu yang lembut. Tubuhya keras dan berotot, bahkan penuh dengan luka dari kepala hingga ujung kaki. Kuku kaki depan sebelah kanan sudah hilang satu, dan jari kaki belakang sebelah kiri ada yang patah separuh. Kupingnya pun sudah sobek. Tapi dia tetap menjadi kucing yang paling aku sayangi seumur hidupku. Dia mengajarkan untuk bersikap lembut dan penuh kasih sayang pada yang lebih kecil dan lemah, namun juga kuat dan tak terkalahkan pada saingan-saingannya. Tidak ada kucing lain yang bisa menggantikan Joni di hatiku.

Fifi Afiah, Depok

dibaca oleh: 1419 pengunjung