Pemenang Lomba Menulis

Tan-tan dan Tien-tien
 
Jikan membuka syal yang melilit lehernya, menggantungkan mantel dingin di belakang pintu setelah terlebih dahulu mengibas-ngibaskan tetes air hujan yang menempel, lalu tergesa-gesa melepas kaos kaki dan setengah berlari ke arah dapur. Air hangat yang terbayang, dipikirnya bisa sedikit mengurangi menggigilnya tubuh. Cuaca hari ini benar-benar turun drastis di luar dugaan, pikirnya.
 
Direguknya air hangat mencairkan kebekuan bibir yang bersemu biru. Tatap matanya perlahan mengelilingi sekitar, sepi. Dari balik kaca dapur dia memang bisa melihat ke bawah, jalan raya yang sudah lengang. Pada musim dingin seperti ini semua orang pasti memilih berada di balik selimut hangat nya, sambil mendengar musik atau membaca buku, barangkali. Jikan menghabiskan tegukan terakhirnya. Kekuatan nya seakan pulih lagi, badan nya terasa lebih hangat..
 
Bergegas dia kembali ke ruang tengah, Jikan ingat akan kucing-kucing nya yang dia tinggalkan seharian bekerja. Di dapatinya kucing yang beranak delapan ekor itu bergumul dan bermain-main. Lucu dan ramainya.... batin Jikan senang.
 
Diperhatikan nya satu persatu anak-anak kucing yang baru terlahir dua hari yang lalu itu. Dirinya teringat saat secara terpaksa selama seumur hidup nya mau tidak mau harus menjadi bidan bagi kelahiran kucing-kucing mungil itu. Tidak bisa dipungkiri dirinya sangat ketakutan sekaligus serba salah ketika bayi-bayi kucing itu masih terbalut kulit ari, sementara selaput tipis yang membungkus nya hampir kering.
 
Tidak ada pilihan lain untuk Jikan selain dengan menguatkan diri sepenuhnya dia memotong selaput tipis itu dan membiarkan bayi-bayi kucing itu segera menyerbu air susu dari induknya. Lega dan seakan tidak percaya akan kemampuan dirinya saat Jikan menyaksikan kedelapan bayi kucing itu semua hidup dan tampak normal. Kedelapan bayi kucing itu Jikan lah yang membidaninya! Luar biasa....
 
Mata Jikan menyapu seluruh aktivitas peliharaan baru nya. Semua tampak sehat dan segar. Tapi, Hei! Jikan hampir menjerit dan langsung memburu salah satu anak kucing yang berada terpisah dari induk dan saudaranya. Tangan Jikan kembali menggigil ketika menyentuh bayi kucing yang tidak berdaya.
 
Oh Tuhan! Bayi kucing itu sepertinya lemas.... Mungkin kelaparan karena tidak kebagian air susu dari induknya? Jikan berusaha menghangatkan si bayi kucing dengan membungkusnya oleh salah satu sweater didekatnya. Mata si bayi kucing masih terpejam... walau tarikan nafasnya masih terlihat, justru Jikan semakin khawatir bila ajal bayi kucing itu sampai pada saat si kucing berada dalam pantauan nya. Jikan benar-benar takut!
 
Bergegas dikenakan nya kembali mantel yang baru dilepasnya, menyambar tas dan syal serta memastikan bayi kucing yang lain cukup aman dalam dekapan induk nya. Secepatnya Jikan menggendong si bayi kucing yang lemah itu untuk segera di bawa ke dokter hewan. Itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan bayi kucing ini, pikir Jikan.
 
Sampai di bawah apartemen rumahnya, Jikan baru sadar ini hampir tengah malam! Sementara dia sendiri tidak ada kendaraan karena mobil satu-satunya di bawa Huban ke Taipei. Duh, bagaimana ini? Jikan resah dan semakin mendekap bayi kucing penuh rasa. Bergegas dia menuju ujung jalan, berharap ada taxi yang lewat bisa ditumpangi. Namun hanya sepi yang dia dapati. Jikan berjalan menembus gerimis dan suhu dingin.
 
Tidak dihiraukan nya angin yang meniup rambutnya dan membuat bibirnya kembali bergetar.
Pikiran nya hanya satu bagaimanapun caranya dia menyelamatkan si bayi kucing yang ada dalam gendongan nya itu. Dari ujung jalan ke ujung jalan tidak ada satu kendaraan pun yang terlihat. Hati Jikan semakin takut.
 
Naluri kewanitaan serta keibuan nya sangat besar. Takut bayi kucing itu meninggal dalam pangkuan nya! Pikiran Jikan melayang seiring dengan langkahnya yang bergegas menerjang hawa dingin yang menusuk tulang. Tiba-tiba dia ingat anaknya yang belajar di Amerika. Teringat kembali kisah lama asal mulanya kucing di rumah.
 
Saat anaknya kuliah, dia kost sendiri dan membeli kucing jantan untuk teman di kamarnya. Anaknya memberi nama kucing jantan itu dengan nama Jojo. Seorang teman nya yang lain juga ternyata menyenangi dan mempunyai kucing. Saat teman anak nya itu akan meneruskan sekolah ke luar negeri dan tidak memungkinkan untuk membawanya, maka kucing nya yang kebetulan betina dan bernama Nini itu diberikan kepada anaknya.
 
Lama-lama si kucing betina yang bernama Nini ini hamil! Dan anaknya berinisiatif untuk memisahkan kucing tersebut, takut si kucing betina tergagnggu kehamilan nya karena bila tinggal bareng kucing-kucing itu selalu bermain dan cakar-cakaran!
 
Maka si betina beralih ke rumah Jikan, dia yang mengurus. Kebetulan dia juga tinggal sendiri di kota Taichung. Anaknya bersekolah di luar negeri, sementara suaminya, bertugas di Taipei hanya akhir pekan pulang. Maka sepenuhnya Jikan bisa merawat kucing betina yang hamil itu. Sempurna, hingga pada saat melahirkan nya pun, Jikan lah yang membidani kelahiran delapan bayi kucing yang lucu-lucu itu! Tidak heran bila Jikan sangat menyayangi sepenuh hati akan piaraan nya ini.
 
Lamunan Jikan terpecah saat dirinya merasa sangat senang tatkala di ujung Lane yang entah keberapa dia telusuri terlihat ada taxi yang melaju. Segera tangan nya melambai, memberikan isyarat kepada sopirnya.
 
"Maaf Bu, taxi nya sudah tidak bisa dipakai. Saya mau pulang." Sopir taxsi membuka kaca depan.
 
"Ha? Apa? Adduh! Tolong Pak, saya terburu-buru mau ke dokter. Tolong dech, saya tidak ada kendaraan lain..." Jikan terus memaksa sopir yang tampak bimbang.

"Saya perlu ke dokter atau dia akan mati....." Jikan benar-benar tidak bisa menahan butiran hangat yang bergulir dari sudut matanya. Sopir tersentuh juga perasaannya, "Siapa yang sakit? Ayo saya antar, Ibu mau ke dokter mana?"
 
Tanpa ba bi bu Jikan segera masuk kedalam taxi. Segera membuka gendongan kucingnya yang dia dekap selama di perjalanan. Kehangatan mulai dia rasakan, dan Jikan baru bisa mengatur nafas.
 
"Antar saya ke dokter hewan terdekat ya Pak, kucing saya hampir mati..."

"Apa? Kucing?" Sopir taxsi tidak saja melihat dari kaca spion depan, tapi juga menengok kan wajahnya ke belakang ketika Jikan bilang kucingnya yang mau mati. Tengah malam dengan cuaca dingin yang buruk begini, bela-belain hanya karena seekor kucing? Mungkin itu pikiran sopir, keheranan yang luar biasa.
 
"Iya, tolong bawa saya ke dokter hewan terdekat..." Pinta Jikan. Sopir taxsi tidak bicara. Jikan melihat keluar jendela, tampak pohon-pohin meliukkan daun-daunnya tertiup angin yang cukup kencang. Cuaca memang sedang buruk, batin Jikan. Pantas sopir enggan membawa nya, terlebih karena seekor kucing, Akh! Tapi kucing ini sangat berharga. Kucing juga kan mahluk hidup yang perlu dilindungi. Batin jikan berdebat sendiri dalam perjalanan.
 
"Sudah tutup Bu, ini dokter hewan yang saya tahu." Ucapan sopir cukup mengejutkan Jikan. "Aduh, tolong bawa saya ke dokter yang lain ya Pak, saya bayar berapa pun ongkosnya." Pinta Jikan sudah tidak malu lagi merengek seperti anak kecil.
 
"Bu, ini sudah lewat tengah malam, cuaca pun tidak baik, mana ada dokter hewan yang buka pada saat seperti ini?" Sopir memberikan masukan. Jikan semakin bingung. "Hem, gini aja deh Pak, tolong antarkan saya ke kantor polisi terdekat, saya mau minta bantuan darinya saja..."
Sopir taxi langsung tancap gas mengantarkan Jikan.
 
Akhirnya dengan bantuan polisi yang berhasil mengecek dokter hewan yang bersedia menerima "pasien" menjelang dini hari, Jikan berhasil memeriksakan kesehatan si bayi kucing.
 
"Bayi kucing ini hanya lemas karena kekurangan air minum susu induk nya." Jelas dokter muda itu menenangkan Jikan. "Mungkin dari delapan bayi yang menyusu, si induk kucing kehabisan air susu nya dan bayi kucing ini yang tidak kebagian" Seloroh dokter membuat Jikan tersenyum juga.
 
"Mulai besok bisa memberikan susu tambahan kepada bayi-bayi kucing nya, nanti saya kasih resep nya ya..." Jikan hanya mengangguk dan berterimakasih.
 
Sejak di beri susu tambahan, si bayi kucing yang malang itu tumbuh sehat dan lincah. Jikan memberi nama kucing itu Tien-tien. Dari delapan anak kucing, hanya ada dua ekor yang di rawat oleh Jikan. Tien-tien dan salah satu kakak Tien-tien yang bernama Tan-tan.
 
Kucing yang lain nya Jikan bagikan kepada teman-teman nya yang juga suka dan mau merawat kucing sebagai pet kesayangan nya. Sedangkan Jojo dan Nini kembali dirawat oleh anak Jikan yang sudah kembali dari luar negeri, menikah dan mempunyai rumah sendiri beberapa waktu lalu.
 
Cerita seperti itu berkali-kali aku dengar dari Jikan langsung, boss ku. Sejak awal hingga kini Jikan selalu bersemangat bila bercerita bagaimana perjuangan nya dia dahulu menyelamatkan Tien-tien dan kisah serunya itu.
 
Dahulu, pertama datang bekerja di Taiwan, aku kaget juga kok di rumah banyak kucing? Kucing nya jelas beda banget dengan kucing yang sering kutemukan di Indonesia. Kucing ini bagus-bagus, besar-besar dan sangat cantik dengan bulu-bulunya yang sangat panjang untuk ukuran kucing pada umumnya.
 
Jujur aku dahulu tidak menyukai kucing. Tapi setelah mengenal Tan-tan dan Tien-tien, setelah aku menjadi terbiasa merawat dan menemaninya, mereka pun menjadi sahabatku. Lama-lama aku sangat tertarik melihat tingkah laku mereka yang lucu dan patuh kepada perintah.
 
Tan-tan dan Tien-tien mengerti bila aku dan Jikan atau siapa saja sedang membicarakan nya. Sepertinya perasaan nya peka bila kita memujinya walau tidak secara langsung. Mereka bisa marah kalau ditinggal begitu saja dirumah. Seringkali bila semua orang keluar tanpa pamit baik-baik pada mereka, saat pulang akan di dapati keadaan rumah yang berantakan. Namun bila kita menjelaskan kenapa kita harus pergi dan meninggalkan mereka di rumah, saat pulang semua tetap rapih dan tidak ada kotoran sedikitpun.
 
Aku sangat kaget dan takjub menyaksikan kucing-kucing itu banyak membantu dan mengerti layaknya manusia. Pernah suatu hari Jikan membawa banyak arsip dari kantor untuk dikerjakan di rumah. Karena tercecer ada yang di ruang tamu, ada yang di meja komputer, ada yang di kamar tidur, berkas-berkas itu tidak utuh dan Jikan sibuk mencari karena lupa menaruhnya. Tidak diduga, Tien-tien berlari membawa (menggigit) kertas-kertas yang tengah dicari Jikan! Luar biasa! Aku sampai bertepuk tangan saking takjubnya.
 
Pernah aku sedang melipat baju, terhenti karena ada bunyi telepon rumah dan aku beranjak menerimanya. Kelupaan, aku malah langsung melihat tayangan TV dan tiba-tiba Tan-tan berlari membawa baju itu ke pangkuan ku! Otomatis aku tersadar dan kembali menyelesaikan melipat baju! Aih, malunya he..he...
 
Kucing-kucing sangat menyenangkan dan menghibur. Sepulang dari kantor, Jikan selalu menyempatkan diri untuk bermain-main dengan mereka. Jikan mengaku bila di kantor merasa jenuh, capek dan bosan, namun akan segera hilang perasaan tersebut setelah bermain dan bercanda dengan kedua kucing nya. Kalau Jikan sedang keluar kota atau luar negeri untuk urusan kantor, dia selalu menyempatkan diri menelepon ke rumah, menanyakan khabar kucing-kucingnya itu.
 
Sewaktu Jojo dan Nini masih berada di rumah, suasana ramai sekali. Apalagi kalau kucing-kucing itu bertengkar. Nini biasanya yang suka mencari masalah. Dia paling suka menghajar Tan-tan. Sepertinya Nini cemburu karena Tan-tan sering dipangku dan disayang-sayang. Tien-tien malah yang sering berusaha membela Tan-tan.
 
Lain lagi dengan sifat Jojo, walau bisa dibilang Jojo paling cakep, dengan muka yang lebar dan mata yang bulat, kebiasaan buruknya sangat menjengkelkan. Jojo suka pipis sembarangan! Termasuk pipis di sofa.. Waktu itu sofa dirumah memang sudah jelek. Anehnya, setelah membeli sofa baru, Jojo tidak lagi pipis di sofa itu. He..he..
 
Kadang tingkah laku Jojo itu seperti manusia, dia suka meniru duduk, terus kalau tidur, Jojo itu terlentang, tidak telungkup melilitkan ekor disamping paha, seperti layaknya kucing yang lain.
Yang paling ku cermati pada saat mereka setelah buang air kecil atau buang air besar. Tempat BAB mereka kan ada tempat khusus menyerupai pasir, mereka suka mencuci tangan dan kakinya dengan cara menggesek-gesekkan kaki dan tangan nya itu ke dinding tempa BAB khusus nya itu!
 
Lain lagi sifat Tien-tien. Dia tipenya kucing yang membuat kita melihatnya sebel dan gemas. Sebalnya, Tien-tien suka memberantakkan barang. Sepertinya kucing ini selalu ingin tahu dan penasaran akan banyak hal. Dalam bahasa Jawa biasanya disebut pecicilan, hehe... Tapi kalau ada orang datang ke rumah, dia langsung ngumpet, takut dengan orang yang belum dia kenal. Gemasnya, Tien-tien itu kucing yang paling manis. Setiap orang yang melihat dia selalu bilang begitu. Dan Tien-tien juga yang penurut kepadaku.
 
Kalau Tan-tan, walah... dia paling malas. Tan-tan paling tidak suka gerak. Dulu, saat masih ada Jojo dan Nini di rumah ini, Tan-tan terpaksa gerak karena sering di hajar oleh Nini. Mau tidak mau dia harus berlari dan melindungi diri dari serangan dan cakaran Nini.
 
Sekarang, setelah tidak ada Nini dan Jojo, weleh-weleh, Tan-tan jadi pemalas sejati! Kerjaan nya bobok melulu. Mirip sekali dengan sifat ayah nya, Jojo. Tan-tan juga suka menirukan gaya duduk manusia, tidur terlentang perut mengadap ke atas, Lucu dan seru! Pokoknya kalau nyeritain masalah kucing ini gak akan ada habisnya dech...

Tahun yang lalu saat pulang ke Indonesia selama 17 hari di kampung rasanya kangen banget sama itu kucing. Terlebih pada awal musim dingin dan awal musim panas, pada waktu itu biasanya kucing-kucing itu digunduli. Bulu-bulunya bisa kepanjangan dan bergumpal jadi satu, kusut. Susah untuk disisir kalau tidak dicukuri selama dua kali dalam setahun.

 
Lilis Linawati, Taipei City 1453 Taiwan ROC


dibaca oleh: 948 pengunjung