Pemenang Lomba Menulis "Midnight's Children"

Aku mendengar kisah ini dari seorang dosenku yang memiliki spesialisasi di bidang DNA. Seorang kepala keluarga suatu hari menghubunginya untuk mengadakan sebuah tes DNA atas anaknya. Saya lupa namanya dan sepertinya tidak etis jika menyebut nama karena sebenarnya ini adalah medical record seseorang.


Beberapa bulan yang lalu, si Bapak baru saja mendapatkan anak pertamanya. Nggak tanggung-tanggung, ia langsung memiliki 2 bayi karena memang istrinya mengandung bayi kembar. Sebut saja nama bayi tersenut Jisu Kantera dan Jang Kantera. Keduanya tumbuh bersama, meski yang satu agak susah makan sehingga terlihat kurus, tapi kedua bayi itu Nampak bahagia.


Suatu ketika, tidak sengaja keluarga ini mampir ke sebuah rumah makan di luar pulau (di Makassar kalau tidak salah). Hanya suami istri saja, sedang dua buah hati mereka tinggal di rumah di Surabaya. Disela kesibukan makan, sang istri—Bu Kantera memperhatikan bayi yang digendong pemilik rumah makan. Ia pun menyenggol suaminya, “Pa, bayinya kok mirip Jisu ya,”. Pak Kantera juga menyetujui pendapat istrinya. Kemudian, ia berbasa basi ngobrol dengan keluarga Pak Sino.

Bayi Pak Sino bernama Dewi, lahir di rumah sakit yang sama dengan bayi kembar keluarga Kantera. Hari kelahiran mereka pun sama. Setelah berdebat, akhirnya keluarga Sino mau melakukan tes DNA dengan meminta pertolongan dosenku yang menceritakan kisah ini. Keluarga Sino sebenarnya enggan melakukan tes DNA. Mereka sudah sangat menyayangi Dewi dan takut jika bayi mereka memang tertukar.


Berkat kecanggihan teknologi, dalam beberapa minggu akhirnya hasil tes DNA itu keluar. Bayi kedua keluarga ini memang tertukar. Akhirnya, Dewi dikembalikan pada keluarga Kantera dan berganti nama menjadi Jang. Sedang Jang, yang semula dirawat keluarga KAntera dikembalikan ke keluarga Sino dan diberi nama Dewi.


Sungguh aneh kejadian ini. Selidik punya selidik, kesalahan ada pasa suster yang bertugas melabeli nama bayi. Suster ini ceroboh dan salah memberikan label sehingga kedua keluarga ini pulang dengan membawa bayi yang salah.


Anehnya, sebenarnya kedua keluarga ini berasal drai etnis yang berbeda. Keluarag Kantera adalah keturunan Cina sedang keluarga Sino adalah keturunan Jawa. Namun, saat dosenku menunjukkan foto bayi mereka yang tertukar, Jang dan Dewi memang memiliki wajah yang tidak jauh beda. Kalau dimirip-miripkan sih mereka masih bisa menjadi keluarga (berdasarkan foto waktu bayi). Namun, setelah kedua bayi ini dikembalikan…waaaah…ternyata Jang lebih mirip keluarga Sino, begitu juga sebaliknya. Akhirnya, kedua keluarga ini malah ‘melebur’ menjadi keluarga besar.


-Lia Indra Andriana, Ponorogo-

dibaca oleh: 962 pengunjung