Dua Jam Bersama PROFESOR KHALED ABOU EL FADL

"Saya memilih Serambi karena dua hal: prestisius dan berani (prestigious and courageous). Saya mendengar ada sejumlah penerbit yang prestisius di Indonesia. Tetapi, saya lebih memilih penerbit yang berani. Ya, berani menerbitkan gagasan-gasasan saya yang tidak populis terhadap kondisi dunia saat ini." Itulah tutur jujur sang profesor Hukum Islam dari UCLA—yang disebut-sebut sebagai pemikir muslim paling progresif—saat berkunjung ke kantor Serambi pekan lalu (21/07/05). Lebih jauh, ia mengatakan bahwa umat Islam kini sedang terjangkiti oleh fundamentalisme dan terpojokkan oleh isu-isu terorisme.... "Jadi, bantulah saya untuk memerangi semua itu."

     Mendengar pujian itu, kami jelas tersipu, terharu, sekaligus tertantang. Tersipu karena bangga diberi kesempatan menerbitkan karya-karyanya yang cemerlang" Atas Nama Tuhan: Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif (Speaking in God's Name), Melawan "Tentara Tuhan" (And God Knows His Soldiers), dan Musyawarah Buku: Menyusuri Keindahan Islam dari Kitab ke Kitab (Conference of Books: Searching the Beauty of Islam)? dan terharu melihat komitmen tulusnya untuk mencerdaskan umat dan membebaskan mereka dari keberagamaan yang despotik dan konservatif. Tertantang, karena kami belum bisa berbuat banyak dalam menyebarluaskan gagasannya sambil berapologi? Buku Anda tidak bestseller di sini. Sebab, khalayak pembaca Anda terbatas pada kaum terpelajar dan peminat kajian keislaman yang terbuka terhadap gagasan-gagasan baru. Tapi, justru di antara merekalah penulis dan public speaker bermunculan—yang akan dan telah mengulas dan memperluas pemikiran Anda di berbagai media." Selain itu, tegas Qamaruddin SF—editor-in-chief Serambi—karya-kaya Khaled memuat gagasan besar dan berdimensi jangka panjang. Insya Allah, beberapa tahun ke depan, buku-bukunya akan menjadi bacaan wajib (daras) di seluruh perguruan tinggi Islam di Tanah Air.

     Berkenaan dengan tujuh karyanya yang telah terbit, Khaled berkata, "Saya ini seperti seorang ayah bagi buku-buku saya, yang selalu mencermati bagaimana pembaca merespons tiap-tiap dari mereka. Jadi, kalau ada salah satu buku saya yang kurang mendapatkan respons, saya agak sedih dan berusaha mencarikan solusinya." Sedangkan terkait dengan kerja sama dengan Serambi untuk karya-karya berikutnya, beliau mengatakan bahwa Insya Allah, bila kesehatannya membaik, dia akan benar-benar menyibukkan Serambi dengan karya-karyanya.

     Khaled tergolong penulis yang ketat dalam mengawasi penerjemahan karya-karyanya. Dia bercerita bahwa sebuah koran di Timur Tengah pernah menerbitkan secara berkala tulisan-tulisannya. Namun, Khaled meminta agar penerbitan itu dihentikan karena dia menganggap penerjemahnya tidak mampu menangkap ruh dari tulisannya. Khaled mengatakan bahwa ia menulis tidak semata-mata berdasarkan pada hard facts yang ada, "Saya selalu menulis dengan menangkap apa yang keluar dari hati saya." Kepada Serambi ia mewanti-wantikan agar penerjemah mampu menangkap bukan hanya pesan yang terkandung dalam tulisannya, melainkan juga kalam balîgh yang ia tuturkan lewat bahasa, spirit, dan kedalaman rasa yang ia ungkapkan dari lubuk hatinya.

     Pada kesempatan ini, Khaled juga menghadiahkan sebundel naskah berisi 50 artikel setebal 1.000 halaman lebih kepada Serambi. Artikel-artikel itu telah dipubliksikan di berbagai jurnal, buku, dan media massa. Dia juga menawarkan kepada kami untuk menerbitkannya dan, mengingat tebalnya halaman, menyerahkan pola dan bentuk penerbitannya kepada kami. "Yang terpenting, gagasan-gagasan saya dapat tersebar seluas-luasnya ke penjuru dunia ... saya tidak butuh uang royalti," tutur tutur Profesor yang segera "diluruskan" oleh sekretarisnya, Naheed Fakoor, atas nama profesionalisme.

     Di penghujung sua, Khaled memendarkan aura keulamaannya lewat doanya nan teduh: "Semoga Allah memberkati kita semua sehingga dapat terus bekerja sama. Semoga Serambi semakin besar dan terus mempertahankan keberaniannya dalam mengusung pemikiran-pemikiran baru dan maju."

     Semoga kesehatanmu segera pulih, wahai Prefesor, sehingga dunia dapat terus mereguk progresivitas nalar dan kearifan gagasan yang engkau tuangkan!

dibaca oleh: 984 pengunjung