Nyanyian Seruling Bambu

Dengarkan nyanyian sangsai seruling bambu
Mendesah selalu,
sejak direnggut dari rumpun rimbunnya dulu,
Alunan lagu sedih dan cinta membara
“Rahasia nyanyianku, meski dekat
Tak seorang pun bisa mendengar dan melihat
Oh, andai ada teman yang tahu isyarat
Medekap segenap jiwanya dengan jiwaku!
Ini nyala cinta yang membakarku,
Ini anggur cinta mengilhamiku.
Sudilah pahami betapa para pencinta terluka,

Dengar, dengarkanlah rintihan seruling…!”
Menurut Reynold A Nicholson, syair Rumi tentang seruling bambu ini selalu dihubungkan dengan kebaktian religius Tarekat Maulawi, tarekat yang dirujukkan kepada Maulana Jalaluddin Rumi. Musik dan tarian merupakan ciri khas dari tarekat yang kini berpusat di Turki ini. Dan dalam upacara religius mereka, seruling bambu merupakan alat musik utama.
Rumi, masih menurut Nicholson, mempergunakan seruling bambu sebagai simbol jiwa yang kosong dari keinginan sendiri dan dipenuhi oleh ruh Ilahi. Jiwa yang diberkahi ini, selama kehadirannya di dunia ini, teringat akan persatuan dengan Tuhan yang telah dinikmatinya di alam keabadian. Jiwa ini rindu akan pelepasan dari dunia ini. Di alam dunia, jiwa seperti orang asing dan terbuang.
     Seruling bambu, ketika ia telah terlepas dari rumpunnya, maka ia bisa menampilkan sebuah suara yang merdu; dengan nada pasundan, dengan nada Minangkabau, dengan gaya Madura. Ia bisa masuk ke hotel-hotel berbintang dan menjelajahi berbagai kota megah di seluruh dunia. Namun bila dikaitkan dengan rimbunnya, maka ia telah terlepas, telah mati.
Seandainya disuruh memilih, mana yang lebih baik bagi seruling bambu, tetap berada dalam rimbunnya atau menjadi seruling? Bagi Rumi, seruling akan memilih kembali ke rimbunnya. Di sanalah keberadaannya yang asli. Bunyi-bunyian indah yang keluar dari dirinya ketika menjadi seruling tak lebih dari bunyi rintihan dan desahannya.
     Bagi Rumi, rintihan kepedihan seruling bambu dipergunakan sebagai alat untuk membangkitkan imagi bahwa manusia berada di dunia ini seperti keberadaan seruling yang terlepas dari rimbunnya, merintih, menangis, dan rindu untuk kembali ke tempat aslinya. Ketika mendengarkan suara seruling manusia diingatkan bahwa ia telah lama terpisah dari Tuhannya. Mungkin ia sejahtera secara materi, mungkin ia mengelami kegemerlapan, namun semua itu tak ada artinya bila dibandingkan dengan kenikmatan bersama rimbunnya.
     Rintihan seruling Rumi tentang alam keabadian ini agaknya bukan dilandaskan pada sebuah pemikiran yang, katakan dalam bahasa modern, rasional dan argumentatif. Bila kita berpikir dengan akal, seperti yang dikemukakan oleh seorang “Nabi” yang ber- nubuwwat tentang kematian Tuhan, Nietzsche, maka untuk apa berpikir tentang alam lain di luar alam ini. Bagi Nietzsche, kenikmatan hidup itu bukanlah ketika kita menyandarkan persoalan kita di dunia ini ke tempat lain yang jauh, tapi dengan merestuinya.
     Kata Nietsche, “Ketika Anda berada di suatu samudra tanpa batas, dan kapal anda diombang-ambingkan oleh ombak besar, ketika Anda tidak tahu arah, ketika Anda tidak mungkin mendapat pertolongan, ketika hujan lebat sebentar lagi akan turun, maka cara Anda untuk mendapat kebahagiaan adalah merestui seluruh kondisi itu, jangan membantah, dan nikmati apa adanya.”
     Seandainya Rumi bertemu dengan Nietzsche, mungkin Rumi tidak bisa menjelaskan bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Demikian pula sebaliknya, Nietzsche mungkin juga tak akan bisa meyakinkan Rumi bahwa Tuhan itu telah mati. Logika kedua orang ini akan habis bila digali untuk menjelaskan apakah Tuhan itu ada atau tidak.
Seusai pertemuan mistis itu Rumi berkata, “Cinta, hanya Cinta yang dapat membunuh apa yang tampaknya telah mati. Iman, yang melampaui lompatan spekulasi, dapat mengerti merdunya setiap suara yang tak serasi. Musik ‘kan melambungkan jiwa ke dunia Sana.”  

dibaca oleh: 4057 pengunjung