Kehendak Hidup Bermakna

Krisis makna hidup
senantiasa melintasi setiap fragmen peradaban
dan menyentuh setiap sisi roda sejarah
dengan cirinya masing-masing.
Tyler Durden


Suatu ketika, Sa'di—seorang pujangga Persia—berjumpa dengan seorang Arab-padang-pasir yang sedang duduk ditemani setumpuk perhiasan. Tubuhnya lusuh. Matanya kunyu. Orang itu berkata, "Aku baru saja tersesat di padang pasir dan menghabiskan seluruh makananku. Kupikir aku pasti mati ketika tiba-tiba kulihat sebuah tas tergeletak di pasir. Takkan pernah kulupa betapa gembiranya saat aku menduga tas tersebut berisikan gandum kering dan minuman segar. Tapi, sungguh takkan pernah kulupakan pula betapa sedih dan kecewanya saat kutahu ternyata tas tersebut dipenuhi oleh mutiara ini."(1)
Kisah ini sederhana tapi sarat makna. Sa?di hendak menggambarkan sosok yang berhasil meraih harta, tapi jiwanya tetap hampa. Orang yang tersesat di padang sahara itu hanya bisa duduk lunglai dan menatap kosong hamparan pasir yang ganas tak bertepi. Setumpuk mutiara di sampingnya jelas-jelas tak memenuhi kebutuhan asasinya: pertama , "gandum makna" dan "air kehidupan" untuk memulihkan tenaganya; kedua , penunjuk arah agar tak terus tersesat dalam belantara ketidakpastian. Sa'di tak hanya menyindir ihwal keterlimpahan material sekaligus kegersangan spiritual orang pada zamannya, tapi juga zaman kita: bukankah kesuksesan dan kekayaan yang kita raih tidak serta-merta menghadirkan hidup bermakna dan bahagia? Tak jarang kita malah kehilangan waktu, kehilangan orang-orang yang kita cintai. Lebih dari itu, kehilangan arah dan makna hidup.
Stephen Covey, dalam buku bestseller -nya, The 7 Habits of Highly Effective People , pernah menuturkan pengalamannya secara mengejutkan: "Saya telah menetapkan dan mencapai cita-cita karier saya dan memperoleh keberhasilan profesional yang luar biasa. Akan tetapi, hal ini mengorbankan kehidupan pribadi keluarga saya. Saya tidak lagi mengenal istri dan anak-anak saya dengan baik. Saya bahkan tidak yakin, apakah saya mengenal diri saya sendiri dan apa yang sebenarnya penting bagi saya. Saya harus bertanya kepada diri sendiri, apakah keberhasilan ini sepadan"
Ada begitu banyak yang harus dikerjakan. Dan tidak pernah cukup waktu. Saya merasa tertekan dan diburu-buru sepanjang hari, setiap hari, tujuh hari seminggu. Saya sudah mengikuti seminar-seminar tentang manejemen waktu dan saya telah mencoba setengah lusin sistem perencanaan yang berlainan. Memang saya sedikit terbantu, tetapi saya masih tidak merasa menjalani kehidupan yang bahagia, produktif, dan damai seperti yang saya inginkan. Saya benar-benar sibuk. Akan tetapi, kadang saya bertanya-tanya apakah yang saya kerjakan sekarang akan sangat berarti dalam jangka panjang. Saya benar-benar ingin merasa punya makna dalam kehidupan saya, bahwa entah bagaimana segalanya akan berbeda karena saya ada di sini." (2)
Gelegak nurani Stephen Covey itu sebenarnya menggambarkan gejala hidup tidak bermakna. Karena hidup baru bermakna jika orang tak bertanya lagi hidup buat apa dan mau apa lagi selanjutnya . Kehampaan makna hidup inilah yang disebut oleh Viktor Frankl sebagai neurosis noogenic . Yakni, berbagai gejala gangguan neurosis yang bermula dari hidup tak bermakna berupa ?perasaan bosan, jenuh, hampa, putus asa, kehilangan minat dan inisiatif, hidup dirasakan sebagai suatu rutinitas belaka, tugas sehari-hari dirasakan sangat menjemukan, kehilangan gairah kerja, merasa tak pernah mencapai kemajuan, sikap acuh tak acuh, menipisnya rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan, serta merasa tak berdaya menghadapi kehidupan.? Gejala ini mereka alami meskipun taraf sosial, ekonomi, dan pendidikan mereka serba baik.(3)
Neurosis noogenic senantiasa terjadi dalam setiap fase sejarah umat manusia. Gejala tersebut menyembul dari pertanyaan manusia tentang keberadaannya di muka bumi ini?pertanyaan mengenai hidup itu sendiri (yang tak pernah dimintanya). Tapi, k onon gejala ini sebagian besar banyak diidap oleh manusia modern?terutama masyarakat kontemporer perkotaan?disebabkan ritme kehidupan yang begitu cepat serta dominannya semangat materialisme.
Modernitas telah mendamparkan kita?meminjam ungkapan teoritikus ilmu sosial dari Inggris, Anthony Giddens?ke sebuah dunia yang tunggang langgang ( Runaway World , 1999). Kita terengah payah, gagap tak siap berkejaran dengan perubahan yang membuat hari ini segera usang. Ada begitu banyak tawaran. Kita ditarik ke berbagai arah tanpa tahu sepenuhnya standar apa yang mau kita pakai untuk memilih gaya hidup tanpa merasa "kuno".(4)
Dunia tunggang langgang dengan jutaan tawaran mengejar kita, juga penuh dengan risiko yang menggelisahkan. Bukan hanya terror bom yang bisa membunuh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, tetapi juga polusi udara, air dan tanah. Bedanya, bom mencederai sejumlah orang dalam waktu cepat, polusi membunuh secara perlahan.
Perubahan lingkungan dan gaya hidup boleh jadi juga merupakan penyebab berjenis penyakit yang tak dikenal sebelumnya. Kita belum lupa dunia yang panik oleh wabah SARS beberapa waktu lalu. Kita juga paham bahwa ketergantungan pada bahan bakar minyak menyebabkan hampir semua orang modern rentan terhadap krisis minyak dunia,yang bisa memicu perang.
Pada saat bersamaan, dalam dunia karier, kita berdebar memikirkan kemungkinan pemutusan hubungan kerja. Bukan semata akibat krisis ekonomi, melainkan karena jenis pekerjaan baru muncul dan hilang dengan cepat sehingga tiba-tiba saja keahlian kita menjadi usang. Sepanjang sejarah, belum pernah umat manusia berhadapan dengan situasi tak pasti dalam skala sebesar sekarang.(5)
Di tengah sahara ketidakpastian itu, gelegak hasrat untuk hidup bermakna itu banyak kita puaskan dengan ragam kesenangan yang bersifat materialistik: gaya hidup hedonistik-konsumeristik dan keberagamaan dogmatik-fundamentalistik.
Banyak definisi soal hedonisme, dan akan saya jelaskan di bab berikutnya. Cukuplah di sini kita memahami salah satu bentuknya lewat contoh nyata: Coba setel televisi Anda dan pilihlah salah satu saluran yang mana saja antara pukul 19.00 dan pukul 21.00. Ada banyak tawaran kesenangan. Ada musik yang dilengkapi goyang tubuh yang kian hari kian sensual. Ada tawaran dapat uang hanya dengan menebak jawaban bagi pertanyaan yang sebagian besar tidak mencerdaskan. Ada dunia rekaan sinetron yang hampir tak ditemukan dalam ketegangan kehidupan sehari-hari. Ada kisah sensasional para selebriti. Tayangan-tayangan itu pun ditaburi janji iklan bagi improvement kilat laksana silap (kulit lebih putih dalam lima hari, tubuh lebih langsing dalam seminggu, rambut lebih berkilap sekali keramas dengan sampo produk tertentu).(6)
Demikan pula dengan konsumerisme. Dalam budaya konsumeris, barang-barang diburu dengan harga absurd karena memberi kita klaim pada rasa pede dan eksklusif. Lantaran eksklusif, maka juga prestise dan status. Orang tidak hanya merasa naik mobil, tetapi Jaguar; tidak hanya merasa mengenakan pakaian, tetapi memakai Armani. Mengonsumsi barang bukan lagi karena butuh atau kualitasnya, melainkan karena konsumsi barang dapat mengatasi masalah-masalah kehidupan: mengobati kesepian, menaikkan harga diri, dan menjamin kebahagiaan keluarga.
Lebih ironis lagi, agama, perspektif Weber,(7) yang mestinya memberi acuan makna untuk mendekati dunia dan masyarakat tidak lagi berfungsi. Wajar bila akrab kita dengar teriakan: Sprituality Yes! Religion No!(8)Sebuah jargon yang mengindikasikan mandulnya agama dalam mensuplai kebutuhan-kebutuhan spritual masyarakat masa kini. Sebaliknya, agama secara kasat mata justru menjadi sumber kekerasan dan kecupatan (fanatisme).
Baik gaya hidup hedonistik-konsumeristik maupun keberagamaan dogmatik-fundamentalistik, jelas-jelas melahirkan kebahagiaan semu dan membuat pengalaman hidup seseorang menjadi terasing. Semu, karena kebermaknaan-hidup yang berdimensi ?dalam? dan spiritual dipuasi dengan kesenangan yang berdimensi ?dangkal? dan material. Kaum beragama pun acap terperangkap pada formula kebaikan dan kebenaran yang materialistik, yang tak hanya menekankan ritual-folmal, tapi juga terbagi habis bagi kelompok sendiri (sepaham atau seagama).
Terasing, karena dalam budaya hedonis dan konsumeris kita didorong, secara sadar atau tidak, memilih gaya hidup hasil rekayasa kepentingan para pemilik modal yang mau menumpuk laba secepatnya. Kita menjadi objek dan korban dari para "pedagang kesenangan". Dalam keberagamaan dogmatik-formalistik, hidup diatur secara paksa oleh dogma-dogma dan tak jarang hanya melanjutkan tradisi turun-menurun orangtua kita. Dalam perspektif Erich Fromm, orang terasing karena ia tidak mengalami dirinya sendiri sebagai pusat dunianya dan pencipta aktivitas-aktivitasnya sendiri?tetapi semua tindakan dan dampaknya menjadi majikannya yang ia taati atau ia sembah.(9) Atau, meminjam istilah filosof-sufi Muslim, Seyyed Hossein Nasr, manusia modern sedang berada di wilayah pinggiran eksistensinya, dan bergerak menjauhi pusat dirinya. Sedangkan pusat atau esensi dirinya itu bersifat spiritual (ruhani).(10)
Pembaca yang budiman. Kitalah-masyarakat modern-yang disindir Nashruddin Hoja dalam kisahnya. Suatu malam Nashruddin tampak sedang mencari sesuatu di bawah lampu jalan di luar rumahnya. Tiba-tiba datang sahabatnya yang kemudian bertanya," Apa yang sedang kamu cari, wahai Nashruddin?" "Aku mencari kunciku yang hilang," jawab Nashruddin. Sahabatnya pun ikut membantu mencarikan kunci tersebut. Setelah beberapa saat mereka mencari-cari dan tetap tidak kunjung menemukannya, bertanyalah sahabat Nashruddin, "Sebenarnya di manakah kuncimu hilang" "Di rumah," jawabnya. "Lalu kenapa kamu tidak mencarinya di dalam rumah saja?" Nashruddin pun menjawab," Habis di rumah gelap, maka aku mencarinya di luar saja yang lebih terang."
Jika rumah Nashruddin betul-betul rumah fisikal, tentu tidak bakal ada orang yang akan menjadi sedemikian tolol seperti Nashruddin. Rumah, dalam tasawuf, sering dijadikan simbol dari kedirian manusia. Tetapi, rumah itu tak selalu terang. Ketika waktu beranjak malam dan kecemasan menghalangi bulan, ruh iman kadang-kadang bergetar mau padam. Tak jarang kala diri digelapkan oleh serba materi, kita pun lari mencari ?kunci? di luar diri: menghindari masalah dengan nelarutkan diri dalam gemerlap kehidupan materialistik.


>(1) J. Fadiman dan R. Frager, Essential Sufism (San Fransisco: Harper San Fransisco, 1997), h.54-55
(2) Stephen Covey, The 7 Habits of Highly Effective People , .......
(3) Hanna Djumhana Bastaman, ?Makna Hidup Bagi Manusia Modern? dalam Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam , Muhammad Wahyuni Nafis (editor), Paramadina, 1996
(4) Karlina Supelli, Carpe Diem, makalah tak diterbitkan.
(5) Karena itulah abad ini kerap disebut Abad Sains dan Teknologi ( The Age of Science and Technology ) sekaligus Abad Kecemasan ( The Age of Anxiety ).
(6) Karlina Supelli, op cit
(7) Peter Berger menyebut agama sebagai suatu usaha manusia untuk membentuk kosmos yang kudus dan bermakna. Lihat RB. Riyo Mursanto, Peter Berger dan Realitas Sosial Agama .
(8) Jargon ini diteriakkan oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdance dalam bukunya Megatrend 2000
(9) Khoirul Rosyadi, Cinta dan Keterasingan , Yogjakarta: LkiS 2000,Cet.I, hal 5.
(10) Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ; Spiritual Intelliengence: The Ultimimate Intelligence ( Great Britain : Bloomsbury Publishing 2000, h. 6 Kembali


dibaca oleh: 3784 pengunjung