Ini Dia Tiga Syarat Industri Kreatif!

Dalam era ekonomi pengetahuan seperti sekarang ini, kekuatan ide atau gagasan kreatif tidak bisa dianggap main-main. Tak kurang dari pakar inovasi ternama James Canton (2007) mengemukakan bahwa 1/3 dari PDB global saat ini berasal dari apa yang disebut industri kreatif. Selain itu, industri kreatif dianggap sebagai industri masa depan yang dapat menopang dunia kala terhantam oleh krisis global akibat pergerakan liar instrumen-instrumen kertas investasi rumit seperti instrumen sekuritas dan derivatif.

Maka itu, kehadiran dari apa yang dinamakan pusat-pusat industri kreatif sejatinya merupakan hal yang niscaya. Sebab, kreativitas memang seyogianya tidak diperlakukan sebagai kelebatan ilham semata. Sebaliknya, kreativitas harus dikelola dan dilembagakan, seperti lewat format pusat industri kreatif, agar lebih terarah dan lebih berdayaguna. Singkat kata, supaya efektif.

Tiga T

Oleh karena itu, sudah saatnya bagi Indonesia untuk mulai berupaya membangun kantong-kantong pusat industri atau ekonomi kreatif di negeri ini. Namun, supaya proyek pusat industri kreatif ini tidak terjerumus menjadi proyek mercusuar belaka, kita sebelumnya harus mencamkan pendapat teoretikus inovasi termasyhur Richard Florida. Dalam bukunya, The Rise of Creative Class (2004), Florida mengatakan bahwa inovasi atau kreativitas dalam satu wilayah hanya bisa tumbuh subur atau eksplosif apabila wilayah itu memiliki tiga T: tolerance (toleransi), technology (teknologi), dan talent (sumber daya manusia berbakat).

Berdasarkan ini, satu proyek pusat industri kreatif mesti memperhatikan tiga aspek. Pertama, toleransi. Maksudnya, wilayah tempat pusat industri kreatif itu akan didirikan harus memiliki karakteristik komunitas yang toleran terhadap ide-ide yang baru, berbeda, dan bahkan kontroversial. Karena itu, lokasi yang cocok adalah tempat yang karakteristik masyarakatnya tidak homogen, baik dari segi suku, agama, ras, golongan, atau pemikiran. Dengan lokasi semacam ini, risiko intoleransi dapat diminimalkan dan potensi toleransi dimaksimalkan.

Kedua, teknologi. Pusat industri kreatif itu idealnya memiliki teknologi penunjang untuk membantu perwujudan ide-ide kreatif menjadi satu produk konkret yang bisa dilempar ke pasar demi mencetak laba besar. Karenanya, perlu dipikirkan stimulasi demi mendatangkan teknologi yang dibutuhkan. Misalnya saja, apabila ada teknologi yang tak bisa diproduksi oleh industri dalam negeri dan harus diimpor, pemerintah dapat memberikan insentif bebas bea masuk (import duty) bagi teknologi yang akan digunakan di pusat atau kawasan industri kreatif. Insentif seperti ini tentu meringankan beban serta menggairahkan para perusahaan kreatif yang beroperasi di kawasan tersebut.

Ketiga, talenta atau sumber daya manusia (SDM). Satu pusat industri kreatif mesti memiliki SDM berbakat unggul dan memiliki beragam pikiran cemerlang dari berbagai bidang ilmu. Sebab, dalam era globalisasi dewasa ini pengkhususan ilmu menjadi kabur. Sebagaimana diungkapkan Frans Johansson dalam Medici Effect (2007), abad ke-21 adalah eranya pemikiran titik-temu (intersectional) di mana pertemuan dari berbagai arus pemikiran gemilang akan bermuara pada satu cetusan inovasi yang luar biasa.

Dari perspektif ini, sebagai contoh, industri film tidak hanya membutuhkan SDM-SDM lulusan sekolah film semata, tapi juga membutuhkan SDM-SDM dari bidang lain, seperti sejarah untuk membantu akurasi skenario misalnya. Oleh sebab itu, pusat industri kreatif yang akan didirikan sebaiknya terdiri dari industri-industri yang mempekerjakan SDM yang heterogen demi tercapainya titik-temu inovasi yang dahsyat. Misalnya saja, ada satu cabang Indonesia dari perusahaan digital global terkemuka yang mempekerjakan banyak orang dari disiplin humaniora demi memberikan perspektif yang lebih manusiawi terhadap produk mereka yang serba otomatis! Nah, tipe-tipe perusahaan semacam inilah yang wajib diundang masuk untuk menghuni pusat industri kreatif yang bakal berdiri.

Belajar dari Amerika

Selanjutnya, untuk merealisasikan ikhtiar pembangunan industri kreatif itu secara lebih mantap, kita bisa belajar dari Amerika Serikat. Di negara Abang Sam itu, para pemerintah negara bagiannya menjalankan sejumlah langkah konkret demi membantu industri-industri kreatif. Satu, hampir setiap negara bagian memberikan insentif pajak dan lahan murah bagi pengembangan perusahaan-perusahaan teknologi kreatif dan inovatif. Juga, negara-negara bagian di sana juga mendirikan satu pendanaan untuk meluncurkan dan mengembangkan perusahaan-perusahaan dimaksud.

Dua, hampir setiap negara bagian mengucurkan dana kepada konsorsium industri-universitas yang mengincar industri dan teknologi spesifik. Sebagai contoh, negara bagian New York bersama perusahaan-perusahaan swasta telah menginvestasikan $4,5 miliar untuk nanoteknologi.

Tiga, pemerintah AS merancang kurikulum baru untuk universitas dan bahkan sekolah menengah untuk melatih teknisi dan karyawan siap pakai bagi industri yang dibidik. Alasan utamanya, menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus memberikan sumbangan pemikiran-pemikiran beragam demi melahirkan pemikiran titik-temu yang inovatif itu tadi.

Terakhir, beberapa negara bagian AS bahkan mengalokasikan subsidi langsung untuk bisnis prioritas. Misalnya, negara bagian Tennesse bersama DuPont berinvestasi pada produsen bahan bakar nabati (BBN/bio-fuel), sementara New Mexico memberikan pinjaman bebas-bunga untuk film yang diproduksi di sana.  

Akhirul kalam, keberadaan pusat industri kreatif di Indonesia adalah hal yang niscaya karena kreativitas bukanlah masalah wangsit yang datang seketika, melainkan sesuatu yang harus dilembagakan. Mengabaikan pelembagaan industri kreatif sama saja membiarkan luput suatu potensi sumber daya ekonomi yang luar biasa besarnya. Tentu kita berharap di masa depan Indonesia akan memiliki banyak versi Silicon Valley (Lembah Silikon) khasnya sendiri yang mampu melahirkan karya-karya inovatif dan kreatif raksasa pengguncang dunia. Semoga saja!

*Penerjemah Serambi, Pengamat Manajemen dan Penulis Buku Inovasi The Mantra.
Pernah dimuat di Kontan, Rabu, 29 Februari 2012

dibaca oleh: 2257 pengunjung