Psikologi Kaum Fundamentalis*

Pada 6 Oktober 1981, Sadat memimpin parade militer besar untuk merintangi kemenangan Mesir atas Israel . Salah seorang prajurit meloncat dari mobil truk, berlari menuju Sadat. Ia mengira tentara itu mau memberikan penghormatan kepadanya. Ia berdiri tegap. Dan Letnan Satu Islambouli memuntahkan peluru dari senapan mesinnya, tepat ke arah tubuh Sadat. Hanya dalam waktu 50 detik, Sadat dan tujuh orang lainnya terkapar mati, dan sekitar 28 lainnya teluka.


Karen Armstrong menceritakan peristiwa di atas sebagai pengantar untuk menampilkan profil seorang fundamentalis Islam di Mesir-Abd al-Salam Faraj, pembimbing spiritual Jihad Islambouli. Segera setelah peristiwa itu, Faraj menerbitkan risalah kecil, Al-Faridhah, "yang memberikan informasi cukup bagus tentang apa yang diperbincangkan para muslim militan tentang keprihatinan, kecemasan, dan ketakutan mereka. Faraj berpendapat bahwa kaum muslim mempunyai tugas yang sangat mendesak. Tuhan telah memmerintahkan Nabi Muhammad mendirikan sebuah negara yang benar-benar islami. Faraj memulai risalahnya dengan mengutip Alquran yang menunjukkan bahwa hanya tiga belas tahun setelah wahyu pertama turun kepada Muhammad, Tuhan tampak semakin tidak sabar dengan kaum muslim yang lalai untuk memenuhi perintah-perintah-Nya. "Apakah kini belum waktunya" bagi kaum muslim untuk bertindak? Tuhan bertanya dengan marah. Tentunya, dia semakin tidak sabar setelah penantian empat belas abad! Karena itu, kaum muslim harus melakukan "semua upaya yang mungkin" untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Mereka tidak boleh seperti generasi sebelumnya yang membayangkan bahwa mereka dapat mendirikan Negara Islam lewat perdamaian, tanpa kekerasan. Jalan satu-satunya adalah jihad, perang suci" ( Berperang Demi Tuhan , Armstrong, hal. 529?530).


Dengan menegaskan bahwa jihad menggunakan kekerasan adalah jalan satu-satunya untuk menegakkan kehendak Allah, Faraj telah menyederhanakan persoalan. Penderitaan umat Islam terjadi karena negara diperintah oleh orang-orang yang sudah "murtad dari Islam". Mereka dibesarkan di meja imperialisme, baik itu ajaran perang salib, komunisme, dan zionisme. Mereka tak membawa apa-apa dari Islam selain nama, meskipun mereka salat dan puasa dan menyatakan diri sebagai muslim.? Untuk menjalankan perang melawan rezim kafir tidak diperlukan kekuatan yang cukup, sebab jika kita menolong Allah, Dia pasti menolong kita. Jatuhkan sistem jahiliah dan semua persoalan selesai dengan sendirinya.


"Seperti banyak fundamentalis lainnya," kata Armstrong selanjutnya, "Faraj adalah seorang literalis. Dia membaca kata-kata kitab suci seolah-olah sebuah kebenaran dan dapat diaplikasikan begitu saja secara langsung pada setiap kehidupan. Hal ini malah memperlihatkan bahaya lain menggunakan mitos kitab suci sebagai satu cetak biru untuk tindakan praktis" dalam pemberontakan mereka melawan hegemoni rasionalisme ilmiah, fundamentalis Suni ini meninggalkan akal dan harus menerima kebenaran yang pahit bahwa meskipun pembunuhan Sadat dalam rangka-sebagaimana yang mereka anggap-menaati perintah Tuhan, Tuhan ternyata tidak intervensi dan mendirikan Negara Islam.?


Dengan melihat contoh Faraj, kita melihat beberapa karakteristik kaum fundanmentalis. Pertama , mereka merumuskan ideologi sebagai ancaman terhadap agama yang mereka percayai. Kedua , mereka membagi dunia ke dalam dua bagian-yang ikut bersama kita dan termasuk kaum mukmin dan yang menentang kita yang kita sebut kaum kafir. Ketiga , mereka terikat oleh doktrin dan praktik masa lampau. Mereka merujuk pada "masa lalu" yang indah. Perujukan pada teks-teks keagamaan melahirkan hanya satu penafsiran yang benar; penafsiran yang sangat harfiah.


Menurut Armstrong, "Fundamentalisme-fundamentalisme itu merupakan mekanisme pertahanan yang muncul sebagai reaksi atas krisis yang mengancam. Fundamentalisme melawan orang yang kebijakan dan kepercayaan sekulernya memusuhi agama. Kaum fundamentalis tidak menganggap pertempuran ini sebagai pertarungan politik biasa, melainkan sebagai peperangan kosmis antara kebaikan dan kejahatan. Mereka sangat mencemaskan ancaman pemusnahan, sehingga mereka membentengi identitas mereka dengan cara membangkitkan kembali doktrin-doktrin dan praktek-praktik masa lampau."


Karakteristik kaum fundamentalis seperti itu terdapat dalam semua agama besar di dunia. Buku Berperang Demi Tuhan (Serambi-Mizan: 2001) adalah sebuah studi fundamentalisme yang "resourceful". Saya tidak ingin memberikan analisis kritis pada buku ini selain berusaha sesingkat mungkin melengkapi urainnya dengan perspektif psikologis. Apakah karateristik psikologis dari kaum fundamentalis? Apakah fundamentalisme sebuah orientasi keberagamaan atau sebuah psikopatologi?

Karakteristik Psikologi Fundamentalisme


Pada mulanya, para psikolog yang mengamati kebangkitan Fundamentalisme Kristen di Amerika mengukur fundamentalisme dari keyakinan pada doktrin-doktrin ortodoksi agama Kristen: the inerrancy of the Bible, the virgin birth of Christ, the substitutionary atonement of Christ, the physical resurrection of Christ, the anticipated bodily return of Christ to earth . Dengan ukuran seperti ini, sangat sulit membedakan fundamentalisme dari ukuran ortodoksi Kristen. Dengan demikian diperlukan ukuran yang berbeda untuk setiap agama. Altemeyer dan Hunsberger, sebagai gantinya, menggunakan ukuran fundamentalisme berdasarkan pola berpikir ( mindset ) dan bukan pada doktrin keimanan. Orang yang memiliki skor fundamentalisme yang tinggi akan setuju dengan pernyataan seperti ?Di antara seluruh umat manusia di bumi ini satu kelompok punya hubungan istimewa dengan Tuhan karena mereka paling beriman pada kebenaran yang diwahyukan-Nya dan berusaha sekeras mungkin mengikuti hukum-hukum-Nya.? Orang yang sama akan tidak setuju dengan pernyataan seperti ?Agama dan filsafat yang berbeda mempunyai versi kebenaran masing-masing dan boleh jadi benarnya dengan caranya masing-masing.?


Fundamentalisme, menurut Altemeyer dan Hunberger, berarti "The belief that there is one set of religious teaching that clearly contains the fundamental, basic, intrinsic, essential, inerrant truth about humanity and deity; that this essential truth is fundamentally opposed by forces of evil which mush be vigorously fought; that this must be followed today according to the fundamental, unchangeable practices of the past; and that those who believe and follow these fundamental teachings have a special relationship with the deity."


Apa yang disebutkan di atas hampir mirip dengan penjelasan Armstrong. Ia boleh jadi pengutipnya tanpa menyebut sumbernya; atau paling tidak terilhami oleh keduanya. Fundamentalisme ditegakkan pada empat asumsi: (1) kebenaran mutlak agama; (2) pertarungan antara kebenaran mutlak ini dan kekuatan jahat; (3) dasar-dasar agama yang tidak berubah sepanjang masa; (4) hubungan istimewa antara sekelompok "elite" umat manusia dengan Tuhan.


Robert Crapp (1986) menyajikan fundamentalis sebagai religion of authority, yang ia bandingakan dengan dua macam keberagamaan lainnya: religion of becoming dan religion of spontaneity . Semua cirri religion of authority-authority? priestly order, integrative affiliation, legalistic ethic?ada pada fundamentalisme. Ciri-ciri itu ditegaskan lebih ekstrem dalam fundamentalisme dengan kejelasan dan kesederhanaan . "Line of authority are explicitly drawn, beliefs are specified without ambiguity, rules of conduct are direct and relevant, and rewards and punishments are known. devotees are clear on what gets them to heaven or send them to hell. Confession has its own rules; grace and forgiveness are dispensed according to specific regulations." (Crapps, hal. 305).


Ciri ini memberikan kepastian dan rasa aman. Kaum fundamentalis membangun konsep Tuhan, moralitas, dan lembaga agama yang pasti dan karena itu bersifat absolut, tidak berubah-rubah, berlaku sepanjang masa. Kemutlakan pandangan kaum fundamentalis ini tidak jarang menimbulkan gangguan psikologis yang mirip-mirip compulsive behavior . Para psikolog menyebutnya scrupulosity . DSM-IV memasukkannya dalam kelompok anxiety disorder , yang didefinisikan sebagai "a condition involving continuous worry about religious issues or compulsions to perform religion ritual" . Bersama dengan scrupulosity , secara kognitif mereka terikat dengan pandangan-dunia yang konkret dan menghindari abtraksi. Dari sinilah timbul kecenderungan untuk menafsirkan teks-teks agama secara harfiah, dan "leaving no roo for methaphorical interpretation."

Fundamentalisme dan Orientasi Keberagamaan


Sampai bagian di atas, saya sudah menulis dengan ketegasan. Pada bagian berikutnya, saya mohon izin untuk membuat sketsa saja (Sketsa ini insya Allah dijelaskan dalam prestasi).


Erich Fromm membuat dua macam orientasi keagamaan: authoritarian religion dan humanistic religion . Fundamentalisme lebih dekat dengan orientasi yang pertama. Karakteristik otoritarian adalah sebagai berikut:


Surrender is the keynote in AR. In AR God is everything, a symbol of power, force, domination, and the human being nothing, poor, powerless, insignificant, able to gain power only through total surrender to the all-powerful God. The mood of authoritarian religion is sorrow and guilt .

Projection is the principal factor in AR. God is an idol, a thing to of our making onto which we project all our power and to which we then submit. We are estranged from our powers of freedom reason. AR is masochistic, self destructive, and self-humiliating.

AR is faith in the having mode. We possess an answer that affords complete certainty. We get such an answer from the others who have the authority to say the truth (and the only truth).

AR is based on ethics. Some "agency above the human being lays down the rules for conduct."

Kita dapat menghubungkan fundamentalisme dengan tiga orietasi keberagamaan lainnya: intrinsik/ekstrinsik (Allport) dan quest (batson). Fundamentalisme erat kaitannya dengan keberagamaan ektrinsik dan berkorelasi negatif dengan quest. Di dalam makalah ini tidak cukup ruang untuk membicarakan ketiganya. Kita juga menghilangkan pembicaraan tentang hubungan antara fundamentalisme dan psikopatologi (yang dapat menjadi makalah tersendiri.) Dalam makalah ini, cukuplah dikatakan bahwa fundamentalisme, dengan segala karakteristiknya, mempunyai dampak psikologis pada penganutnya; yang baik dan buruknya bergantung pada prediposisi psikologis dari yang bersangkutan.


Saya setuju dengan kesimpulan Armstrong dalam akhir bukunya:


"Fundamentalisme hanya merupakan salah satu dari pengalaman agama modern, dan seperti sudah kita lihat, fundamentalisme mendapatkan keberhasilan tertentu ketika meletakkan kembali secara tepat agama pada agenda internasional, namun sering kali melupakan sebagian nilai-nilai tersuci dalam keimanan. Kaum fundamentalis telah mengubah mitos agama mereka menjadi logos, baik dengan menyatakan bahwa ajaran agama mereka secara ilmiah benar, atau dengan mengubah metologi mereka yang rumit menjadi satu ideologi yang efisien. Jadi, mereka telah menyatukan dua sumber komplementer dan jenis ilmu pengetahuan yang biasanya dianggap bijaksana oleh manusia pramodern. Pengalaman kaum fundamentalis memperlihatkan kebenaran pengetahuan konservatif ini. Dengan menegaskan bahwa ajaran Kristen adalah faktual dan dapat dibuktikan secara ilmiah, fundamentalis Protestan Amerika telah menciptakan karikatur agama dan sains. Orang Yahudi dan muslim yang telah mejelaskan agama mereka dengan cara sistematis dan rasional untuk berkompetisi dengan ideologi sekuler yang lain juga telah mendistorsikan tradisi mereka, menyempitkannya menjadi satu ajaran melalui proses penyaringan secara semena-mena. Akibatnya, kedua kelompok mengabaikan ajaran yang lebih toleran, komprehensif, kasih sayang, sambil memperkuat teologi kemarahan, kebencian, dan dendam. Terkadang, keadaan ini bahkan menyebabkan sekelompok minoritas menyelewengkan agama dengan memanfaatkannya untuk menjatuhkan sanksi kematian. Bahkan mayoritas fundamentalis, yang menentang aksi teror semacam itu, cenderung eksklusif dan mengecam mereka yang tidak sepaham dengan pandangan mereka"



*Tulisan ini pernah disampaikan dalam diskusi buku Berperang Demi Tuhan karya Karen Armtrong yang diselenggarakan Serambi dan Paramadina, Jakarta

dibaca oleh: 1888 pengunjung