Jejak Perjalanan Buku

Pada mulanya berupa tanah liat yang dibakar, mirip pembuatan batu bata saat ini. Itulah buku yang digunakan penduduk pinggir Sungai Eufrat di Asia Kecil pada 2000 SM. Terbayang betapa terbatas isinya dan betapa susah proses pembuatannya. Tapi begitulah manusia sejak dahulu tak bisa lepas dari bacaan. Sebab, kata Aristoteles, “Sesungguhnya setiap manusia menghasrati pengetahuan.“

Sesuai dengan asal usul istilah buku yang diambil dari kata Biblos (bahasa Yunani) atau Liber (bahasa Latin) yang berarti kulit kayu, kegiatan penulisan kemudian dilakukan di atas kulit kayu. Penduduk Mesir Kuno memanfaatkan batang papirus yang banyak tumbuh di pesisir Laut Tengah dan di tepi sungai Nil untuk membuat buku gulungan. Itulah cikal-bakal kertas gulungan seperti yang kita kenal sekarang.

Orang Romawi juga menggunakan model gulungan dengan kulit domba yang disebut perkamen. Hingga 300 M, buku berupa gulungan ini masih dipakai. Bentuk buku berubah menjadi lembar-lembar yang disatukan dengan sistem jahit yang disebut codex. Baru pada 105 M, Ts’ai Lun di Cina menciptakan kertas dari bahan serat yang disebut hennep. Serat ini ditumbuk, dicampur, dan diaduk dengan air hingga menjadi bubur, lalu dicetak dan dijemur. Setelah mengering, bubur berubah menjadi kertas (Basuki, 1991).

Pada pertengahan abad ke-8, kertas mulai diperkenalkan ke dunia Islam, tepatnya di Samarkand, Asia Tengah. Setelah Peperangan Talas tahun 751, orang-orang muslim menawan beberapa orang Cina yang ulung membuat kertas. Para tahanan itu segera diberi fasilitas untuk memperlihatkan keterampilan mereka. Orang-orang Cina pertama kali membuat kertas dengan memanfaatkan kulit pohon murbei, sekitar tahun 150. Namun, keterampilan mereka dalam membuat kertas yang diperkenalkan di Samarkand tidak bisa diteruskan menjadi proses pembuatan kertas, terutama karena kulit pohon murbei tidak ditemukan di negeri-negeri Islam.

Karena itu, orang muslim mengganti kulit pohon murbei dengan pohon linen, kapas, dan serat. Mereka juga menggunakan bambu untuk mengeringkan lembaran kertas basah dan memindahkan kertas ketika masih lembab; melakukan proses fermentasi untuk mempercepat pemotongan linen dan serat dengan menambahkan pemutih atau bahan kimiawi lainnya; dan menggunakan palu penempa, yang melibatkan para pekerja ahli yang menginjak ujung dari sebatang balok miring yang mendorong sebuah palu besar untuk menggiling bahan-bahan yang hendak dihaluskan (Sardar, 2003).

Sebuah kincir air—yang ditemukan tahun 1151 di Jativa, sebuah pusat pembuatan kertas yang terkenal di Spanyol-Islam—kemudian digunakan untuk menggerakkan palu penempa. Akhirnya, orang-orang muslim memperkenalkan proses pemotongan kertas dengan menggunakan kanji gandum; sebuah proses yang menghasilkan permukaan kertas yang cocok untuk ditulis dengan tinta.

Industri kertas kemudian menyebar dengan cepat dari Samarkand. Di Baghdad didirikan percetakan kertas pertama pada 793 semasa khalifah Harun al-Rasyid (w. 809). Tak lama kemudian, pabrik-pabrik kertas segera didirikan di Damaskus, Tiberia, Tripoli, Kairo, Fez, dan Sicilia Islam, Jativa, dan Valencia di Spanyol-Islam dan berbagai belahan dunia Islam lainnya.

Pembuatan kertas ini disebut-sebut sebagai salah satu kejadian paling revolusioner dalam sejarah Islam dan “tonggak dalam sejarah manusia” (Hassan dan Hiil, 1986).[1] Bukan saja memberi rangsangan luar biasa untuk menuntut ilmu, kemudahan memperoleh dan menggunakan kertas juga telah menjadikan buku mudah didapat dan harganya relatif murah. Hasil akhirnya adalah revolusi budaya yang didasarkan pada produksi buku dalam skala yang tidak pernah terjadi sebelumnya: Mempercepat produksi dan penyebaran manuskrip-manuskrip di seluruh kekhalifahan Abbasiyah dan sekitarnya, mempercepat pertukaran ide dan pengetahuan, serta mendorong riset-riset dan tulisan-tulisan intelektual lebih lanjut (Lyons, 2013).

Sejak abad ke-8 hingga abad ke-15, industri penerbitan mendominasi kerajaan Islam.[2] Bukan sekadar industri, melainkan sebuah institusi penting dalam mengekspresikan kebudayaan Islam—sebuah institusi yang menjamin bahwa mencari ilmu dan buku bukanlah monopoli sekelompok orang tertentu, tapi bisa dilakukan oleh siapa pun yang menghendakinya. Ia juga menjamin bahwa para sarjana dan penulis, baik secara ekonomis atau dari sudut pengakuan, akan memetik buah hasil karyanya.Tak kalah pentingnya, buku juga telah memfasilitasi bagaimana orang bersitegang yang beradab. Bukan melalui unjuk kekuatan, tetapi melalui adu argumen dan ketajaman analisis. Terjadilah tidak saja demokratisasi pengetahuan, tapi juga diversifikasi pengetahuan. Sains, filsafat, kedokteran, arsitektur, kesenian, sastra, dan kritisisme tumbuh subur.

Perpustakaan pribadi dan publik pun tumbuh pesat. Salah satu yang terbesar dan terkenal di Baghdad adalah Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), sebuah kombinasi dari lembaga penelitian, perpustakaan, dan biro penerjemahan yang didirikan Harun al-Rasyid tahun 830. Selama berabad-abad, ia dikunjungi para sarjana terkemuka, seperti al-Kindi (w. 866), al-Khawarizmi (w. 850), yang kelak menjadi peletak aljabar modern, juga Ishaq ibn Hunain (w. 910), seorang dokter terkenal yang menulis risalah kedokteran di perpustakaan tersebut.

Di kota itu berdiri pula perpustakaan Universitas Nizhamiyyah (dibangun tahun 1065) dan perpustakaan Universitas Mustanriyyah (tahun 1227). Perpustakaan serupa juga dijumpai di Damaskus, Kairo, Syiraz, Fez, Samarkand, Bukhara, dan Kordoba. Begitulah, selama lebih dari 800 tahun, peradaban muslim sepenuhnya menjadi peradaban buku.

Setelah beberapa abad kemudian, kertas baru dikenal di Eropa. Pabrik kertas pertama di Eropa dibangun tahun 1189 di Perancis, tahun 1276 di Fabrino, Italia, dan pabrik berikutnya dibangun di Nuremberg, Jerman, tahun 1390.

Setelah penemuan kertas, pada abad ke-15 ditemukan mesin cetak pertama kali oleh Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg dari Jerman.Gutenberg berhasil mengatasi kesulitan pembuatan buku dengan cara ditulis tangan. Gutenberg menemukan cara mencetak buku dengan rangkaian huruf-huruf logam yang diolah dengan mesin cetak. Buku pun dapat dicetak dengan cepat dan banyak. Teknik cetak versi Gutenberg bertahan hingga ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna pertengahan abad ke-20, yakni pencetakan offset.

Belakangan, mesin-mesin offset raksasa mampu mencetak ratusan ribu eksemplar dalam waktu singkat. Proses setting (menyusun huruf) dan lay-out (tata letak halaman) dipermudah dengan komputer. Lalu ditemukan mesin penjilidan, mesin pemotong kertas, scanner, dan juga printer laser. Maka, buku sekarang dicetak dengan mudah dan cepat, dijilid dengan sangat bagus, serta dengan hasil cetakan yang baik dan desain yang indah.

Kini, mulai marak buku tanpa kertas (buku digital atau buku elektronik [e-book]). E-book setidaknya memiliki tiga kelebihan: (i) lebih simpel dan fleksibel, karena tidak menyita tempat, mudah disimpan, dan bisa dibaca di mana saja dan kapan saja; (ii) lebih tahan la­ma dan tidak mudah rusak; (iii) lebih murah karena tanpa biaya cetak. Kemudahan buku di era digital ini terangkum dalam ungkapan, “Kini perpustakaan berada di ujung jari Anda!”

Menelusuri jejak lahir peradadan buku ini, memantik kita untuk bersyukur telah ditakdirkan menikmati buku seperti kita kenal sekarang dan berterima kasih kepada jutaan orang yang telah berkontribusi dari berbagai generasi. Tentu saja, ungkapan syukur terbaik adalah dengan turut turun tangan meningkatkan budaya tulis dan baca, apa pun latar belakang dan profesi kita. Selamat Hari Buku Sedunia---Qamaruddin SF

-----------------------------------------
[1] Ahmad Y. Al-Hassan dan Donald R. Hill, Islamic Technology: An Illustrated History, (Cambridge: Cambridge University Press, 1986), hlm. 190.

[2] Tentang industri penerbitan Islam, lihat Johannes Pederson, The Arabic Book, (Princeton: Princeton University Press, 1984);

dibaca oleh: 1805 pengunjung