Dari Pilot ke Penulis Novel Laris

Frederick Forsyth (74) tidak pernah membayangkan akan dikenal sebagai salah satu maestro novel thriller. Dia lahir dalam keluarga pedagang. Bapaknya berjualan bulu binatang, sementara ibunya membuka toko pakaian. Namun, ketika kanak-kanak, dia mengagumi tentara dan tergila-gila dengan pesawat terbang.

“Saya baru berumur dua tahun, tetapi gambaran tentang prajurit yang hilir mudik di Ashford membeku dalam ingatan. Saya terpukau oleh tentara dan tank serta semua perlengkapan perang. Ketika saya beumur lima tahun, pada 1943, Bapak membawa saya ke markas pejuang di Hawkinge. Di sana, saya dibuat heboh oleh para pilot petempur. Salah seorang di antara mereka mengangkat dan memasukkan saya ke kokpit pesawat Spitfire. Itu pengalaman yang luar biasa.”

Setelah masa-masa perang berakhir, Forsyth mendapatkan beasiswa untuk belajar di salah satu sekolah favorit khusus anak laki-laki di Inggris, Tonbridge. Dia pun harus meninggalkan keluarganya dan menumpang di rumah yang tidak terlalu disukainya.

“Itu masa yang tidak menyenangkan dalam hidup saya,” kenang Forsyth dengan tekanan nada sedih.

Forsyth mengatakan penghuni rumah tempat dia tinggal menumpang terobsesi akan olahraga. Namun, dia mengakui bahwa dia benar-benar bukan penggemar olahraga atau atlet yang baik.

“Saya satu-satunya pelajar di rumah itu dan itu menyebabkan sejumlah penindasan,” katanya.

Ketika itu, atap kamar tidur Forsyth dipenuhi tiruan pesawat tempur Perang Dunia II. Pada suatu hari, dia melihat iklan di majalah Angkatan Udara tentang beasiswa dari RAF (Royal Aircraft Force). Program itu bertujuan menjaring pemuda untuk mengembangkan pesawat dan bergabung dengan angkatan udara sebagai pilot.

Sebagai usaha awal, Frederick Forsyth memilih klub penerbangan di Bluebell Hill, dekat Rochester.

“Masalahnya, bagaimana caranya ke sana. Saya baru 16 tahun dan tidak mau belajar saat liburan sekolah. Bapak membelikan motor Vespa, yang baru saja diperkenalkan di Inggris, untuk saya. Saya menyimpannya di bangsal Tonbridge yang saya sewa dengan murah. Saya menyimpan baju penerbang yang juga menjadi baju untuk mengendarai motor,” kata Forsyth, menceritakan usahanya untuk menjadi pilot.

Di Tonbridge, pelajaran penerbangan sangatlah terbatas. Namun, itu tidak menyurutkan semangat Forsyth.

Mengingat dia tidak menggemari olahraga, Forsyth mengejutkan semua orang di sekolahnya ketika tiba-tiba secara sukarela mengikuti kegiatan lari lintas alam. Namun, sebenarnya dia mempunyai maksud lain.

“Menggunakan celana pendek, saya berlari ke bangsal dan mengganti pakaian dengan baju penerbang sebelum berangkat ke Bluebell Hill untuk mendapatkan instruksi penerbangan selama berjam-jam.”

Setelah itu, Forsyth kembali ke bangsal, menanggalkan pakaian penerbang dan memakai celana pendek lagi, lalu berlari ke sekolah. Dia melakukannya kurang lebih dua puluh kali.

Frederick Forsyth meninggalkan sekolah pada umur 17 tahun dan setengah mati ingin bergabung dengan RAF. Namun, dia masih belum cukup umur dan memilih pergi ke Spanyol untuk belajar bahasa asing keempat. Sebelumnya, dia menguasai bahasa Prancis, Jerman, dan Rusia.

Akhirnya, Forsyth meraih cita-citanya dan menjadi pilot termuda di RAF. Ketika itu, dia berumur 19 tahun. Setelah itu, dia membidik ambisi selanjutnya untuk menjadi jurnalis.

“Saya tidak punya hasrat menulis, tetapi saya ingin keliling dunia sebagai koresponden luar negeri. Saya membayangkan Lord Beaverbrook, yang memiliki dan menjalankan The Daily Express waktu itu, akan dengan senang hati membayar saya,” kata Frederick Forsyth.

Waktu itu, ayahnya membawa Forsyth menemui editor Kentish Express, yang memberitahunya untuk magang di harian setempat, bukan koran mingguan.

Setelah tiga tahun bekerja untuk Eastern Daily Press di Norfolk, Forsyth pergi ke London dan bergabung dengan Reuters. Dia sedang berada di kantor Paris pada awal tahun 1960-an, di pusat percobaan pembunuhan terhadap Presiden de Gaulle. Pada saat itulah gagasan untuk menulis the Day of the Jackal tercetus. Namun, baru tujuh tahun kemudian buku itu ditulis.

Sepulang dari peliputan perang di Biafra, Frederick Forsyth tidak punya rumah dan uang. Dia tinggal di rumah seorang temannya, tidur di sofa, dan mengetik The Day of the Jackal di meja dapur. Dia menulis novel yang kemudian dianggap sebagai karya klasik itu hanya dalam 35 hari.

“Saya tidak punya uang sepeser pun. Saya seperti tentara bayaran. Saya menulis demi uang,” katanya.

Forsyth menawarkan The Day of the Jackal ke penerbit dan tanpa mengira itu akan terjual ke seluruh dunia. Dia langsung menyanggupi untuk menerbitkan tiga buku dengan berjanji bahwa dia memiliki ide yang melimpah, tetapi sebenarnya tidak.

“Saya bertanya kepada diri sendiri, apa lagi yang saya ketahui? Saya tahu tentang gerakan bawah tanah Nazi di Jerman dan sedikit tentang tentara bayaran, jadi saya mencoba membuat sinopsis dan kami sepakat,” kata Frederick Forsyth mengacu pada dua novelnya yang diterbitkan Serambi, selain The Day of the Jackal, The Odessa File dan The Dogs of War.

Frederick Forsyth menulis dengan sangat cepat. “Dua belas halaman sehari, tiga ribu kata, tujuh hari seminggu. Tetapi, risetnya membutuhkan waktu lama. Ya, saya harus memaksakan diri untuk menulis. Memang, terdengar tidak menyenangkan.”

Pengalaman bekerja sebagai koresponden luar negeri memberi Forsyth prasyarat yang sempurna untuk menjadikan ceritanya terasa meyakinkan dan dan autentik. Oleh karena itu, ketika membaca karya-karyanya, kita hampir bisa dipastikan akan terpikat oleh detail teknis yang membumbui cerita. Keterampilan jurnalistik menjadi ciri khas yang membuat novel-novelnya berbeda.[]

dibaca oleh: 2282 pengunjung