Mo Yan, Inspirasi dan Kontroversi

Bagi seorang sastrawan, pahitnya pengalaman hidup mungkin terasa manis jika akhirnya berbuah Hadiah Nobel Sastra. Mo Yan, yang tahun ini meraih penghargaan bergengsi itu, mengakui bahwa penderitaan yang pernah dialaminya merupakan bahan bakar untuk berkarya. 


Setelah terpaksa putus sekolah saat SD-nya ditutup karena kekacauan politik, Mo Yan bekerja menggembalakan ternak. Bahkan, saat benar-benar tidak mampu membeli apa-apa, dia harus memakan kulit pohon dan gulma untuk bertahan hidup pada masa Revolusi Kebudayaan di China.


"Kesepian dan kelaparan menjadi kekayaan saya dalam berkreasi,” kata novelis yang salah satu bukunya, Big Breasts and Wide Hips, diterbitkan oleh Serambi.  


Dalam banyak bukunya, Mo Yan memadukan fantasi dan satir yang oleh media pemerintah dicap “provokatif dan vulgar”. Nama-nama seperti Gabriel Garcia Marquez, D. H. Lawrence, dan Ernest Hemingway disebut memberi pengaruh pada karya-karya lelaki bernama asli Guan Moye itu.


“Seorang penulis seharusnya menunjukkan sikap kritis dan geram terhadap sisi gelap masyarakat dan sifat buruk manusia, tetapi semestinya tidak menggunakan ekspresi yang seragam,” kata Mo Yan dalam sebuah pidato di Frankfurt Book Fair 2009.     


“Sebagian orang mungkin ingin berteriak (berunjuk rasa) di jalan, tetapi kita harus memaklumi orang-orang yang bersembuyi di dalam kamar mereka dan menggunakan tulisan untuk menyuarakan pendapat mereka.”


Penulis yang satu ini tampaknya tidak mau—dan mungkin memang tidak perlu—mencari sumber cerita yang muluk-muluk.


“Saya akan terus berada di jalur yang telah dan sedang saya jalani, membumi, menggambarkan kehidupan manusia sehari-hari, menggambarkan luapan perasaan manusia, menulis dari sudut pandang manusia biasa.” 


Kontroversi


Agaknya, kurang meriah jika sebuah penghargaan bergengsi tidak diwarnai silang pendapat. Begitu pula dengan Nobel Sastra 2012 yang pada Kamis (11/10/12) dianugerahkan kepada Mo Yan. Sejumlah aktivis dan penulis menganggap lelaki yang kini berumur 57 tahun itu, tidak pantas mendapatkan hadiah tersebut.


"Dia (Mo Yan) menyanyikan nada yang sama dengan rezim yang tidak demokratis. Sebagai penulis yang berpengaruh, dia tidak menggunakan pengaruhnya untuk menyuarakan kalangan intelektual dan tahanan politik, tetapi malah melayani kepentingan pemerintah dengan menuliskan pidato,” kata Teng Biao, seorang pembela hak asasi manusia.


Yu Jie, seorang esais sekaligus teman dekat Liu Xiaobo—peraih  Nobel Perdamaian 2010 yang ditahan oleh pemerintah China—berpendapat lebih pedas.


“Kemenangan Mo Yan bukanlah kemenangan bagi sastra. Ini kemenangan bagi Partai Komunis.” 


"Sebagian kalangan menentang pemberian Hadiah Nobel kepada Mo Yan karena dia menjabat Wakil Ketua Asosiasi Penulis China dan membantu pemerintah dalam melakukan penyensoran. Namun, sebagian lagi mendukung dan berpendapat bahwa karya sastra tidak seharusnya dihubung-hubungkan dengan politik, tetapi dihargai berdasarkan nilainya tersendiri,” kata Murong Xuecun, nama pena dari Hao Qun, penulis yang lantang berbicara tentang penyensoran di China.


Mo Yan sendiri berpendapat bahwa penyensoran merupakan pemicu kreativitas. Meskipun dianggap dekat dengan penguasa, karyanya seperti The Garlic Ballads malah tidak luput dari larangan terbit. Di sisi lain, dia dinilai cerdik karena mampu mengangkat masalah-masalah yang peka tanpa harus terpotong tajamnya pisau sensor.  


“Dalam kehidupan kita mungkin ada isu-isu yang tajam dan peka yang tidak diinginkan disentuh oleh sensor. Pada saat seperti itulah seorang penulis dapat menyuntikkan imajinasinya sendiri untuk memisahkannya dari dunia nyata atau memberinya penekanan—memastikan isu itu lebih jelas, dramatis, dan terkesan sebagai kejadian nyata.”


Pemerintah China mengabaikan kontroversi yang berkembang di balik Nobel Sastra 2012 dan lebih menekankan bahwa penghargaan itu menandakan bahwa China sekarang semakin diakui sebagai bangsa yang besar. “China memenangi banyak dan banyak lagi penghargaan dari dunia. Kita dapat mengatakan bahwa penghargaan ini bukan hanya untuk Mo Yan, melainkan untuk seluruh rakyat China.”*** 


Moh. Sidik Nugraha, dari berbagai sumber

dibaca oleh: 2364 pengunjung