Puas dan Puasa

Saya hampir memutuskan tidak akan berpuasa pada bulan suci Ramadan tahun ini. Keputusan itu baru akan saya ambil jika saya tidak menemukan makna baru mengenai puasa. Bukankah puasa hanya diwajibkan kepada orang beriman atau yang yakin? Tidakkah keyakinan kita akan bertambah teguh jika ditopang oleh pemahaman?

Tahun lalu, saya mencari arti puasa sambil tetap bersepeda ke tempat kerja selama Ramadan. Saya menemukan bahwa sepeda dan puasa disatukan dalam satu kayuhan bernama kesederhanaan. Berbekal pengertian itu, saya pun semakin menikmati berpuasa dan bersepeda saat itu.

Seminggu sebelum Ramadan sekarang, di tengah pengembaraan pikiran yang enggan dibatasi dinding kereta api ekonomi Bandung Raya, saya bermain-main kata sekadar untuk menghibur diri dan tersenyum-senyum sendiri. Tiba-tiba, “puas” dan “puasa” meloncat, seperti sepasang lumba-lumba beratraksi ke luar permukaan air.

“Puas dan puasa hanya berbeda satu huruf.” Rangkaian kata itu terlontar dari suatu bagian dalam diri saya. Entah di mana tepatnya letak bagian itu. Kata-kata itu juga seperti diteriakkan dari gua yang gelap dan dalam, sementara deru kereta bercanda dengan desir angin kering-dingin kemarau.

“Mungkin karena tidak pernah puas, jadi kita diperintahkan berpuasa?” tanya suara itu.

“Jadi, puasa itu latihan supaya kita bisa belajar merasa puas?” balas suara lain dalam diri saya.

Menyela percakapan itu, sebuah suara berat dan seperti menggeram terdengar bernyanyi dalam hati:

When you want more than you have, you think you need

And when you think more than you want, your thoughts begin to bleed

Itulah sepenggal lirik salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Eddie Vedder dalam film Into the Wild yang berkisah tentang pencarian spiritual seorang pemuda Amerika. Pendek kata, menurut Eddie dalam lagu itu, pikiran kita seolah-olah terluka dan berdarah jika kita serakah.

Pikiran orang serakah tidak pernah tenang karena selalu merasa kurang. Orang itu selalu dihantui pikiran dan perasaan ingin memiliki sesuatu yang tidak dibutuhkannya.

Barangkali, lawan kata “serakah” adalah “qana’ah”.

“Para sufi menyebut kekayaan jiwa sebagai qana’ah (merasa puas),” tulis Jalaluddin Rakhmat dalam Tafsir Kebahagiaan yang diterbitkan oleh Serambi. Lebih lanjut, Kang Jalal mengutip Rasulullah bersabda, “Qana’ah adalah harta yang tidak pernah habis.”

Orang serakah ibarat orang yang kehausan, lalu meminum air laut. Semakin banyak minum, dia merasa semakin dahaga. Sebaliknya, orang qana’ah bisa dikatakan seperti orang yang memiliki mata air jernih dan segar. Dia tidak perlu takut kehausan. Bahkan, dia bisa berbagi air itu dengan yang membutuhkan.

Di akhir Ramadan, umat muslim diwajibkan membayar zakat fitrah. Orang yang telah berlatih merasa puas selama sebulan diharuskan berbagi kebahagiaan. Apakah ini berarti bahwa puncak kepuasan hanya dapat diraih jika kita berbagi?    

Selain itu, umat muslim Indonesia lazim menganggap puasa Ramadan akan menjadikan diri seolah-olah terlahir kembali, suci seperti bayi. Berkaitan dengan puas dan puasa, saya memperhatikan dan menduga bayi tidak memiliki keinginan berlebihan. Hanya saat membutuhkan, seorang bayi menangis dan tangisan itu terhenti setelah dia mengasup air susu ibu. Belum pernah terdengar berita karena tidak puas dengan air susu ibunya, seorang bayi berumur dua bulan serakah minta dibelikan udang saus padang.

Jika mungkin, untuk memahami sepenuhnya makna “puas”, saya ingin menggali ingatan ke masa-masa awal kehidupan saya. Ketika itu, saya merasa tercukupi dengan hanya mengasup air susu ibu. Barangkali pula, saya tidak bisa benar-benar menjadi puas (being satisfied) atau terpuaskan. Namun, saya dapat berlatih merasa puas dengan puasa.***

dibaca oleh: 1734 pengunjung