Membaca Korupsi di Maroko

Saat membaca novel ini, tanpa sadar  yang terbayang di benak saja adalah kantor dinas pekerjaan umum, instansi pemerintah di Indonesia yang bertanggungjawab mengelola proyek-proyek infrastruktur. Dalam benak saya, Murad adalah insinyur lulusan universitas terbaik di Indonesia yang harus hidup sederhana gara-gara bersikap lurus dan menolak kompromi dengan praktek korupsi yang merupakan praktek yang normal dalam banyak tender-tender proyek pemerintah. Deskripsi yang kuat oleh penulis dan juga terjemahan yang bagus akan membawa pembaca novel ini untuk melihat dan mendengar apa yang terjadi di balik dinding-dinding kantor Dinas Pekerjaan Umum.

Melalui tokoh Murad, Tahar Ben Jelloun hendak mendeskripsikan bagaimana korupsi yang secara sistematis dipraktekkan.  Dilema yang dihadapi oleh Murad menunjukkan betapa sulit bagi  orang jujur bekerja di instansi yang korup. Asisten dan atasannya justru  terus mendesak dirinya untuk menerima uang guna memuluskan tanda tangannya untuk menyetujui pembangunan infrastruktur.  Karena logika korupsi berkuasa di kantornya, maka Murad justru menjadi penghalang bagi jaringan praktek korupsi yang telah mengakar dan bekerja dengan sistematis.  Memilih sikap  menolak kompromi terhadap praktek korupsi membuat Murad yang lulusan Perancis mandek karirnya dan dipandang sebagai batu sandungan oleh anak buah dan pimpinannya.

Akibat dari pilihan hidupnya yang menolak korupsi, Murad tidak hanya menanggung beban ekonomi yang berat. Dia dan keluarganya harus hidup sederhana. Pilihan ini bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani oleh Murad karena istri dan keluarganya seakan memojokkannya karena pilihan itu. Sampai pada suatu ketika Murad akhirnya “kalah”, menerima uang dan menjadi bagian dari jaringan korupsi itu. Murad mengambil uang sogok yang kemudian dipergunakan untuk membawa anaknya berlibur, keinginan yang sejak lama tidak terlaksana karena gaji yang diterima oleh Murad tidak pernah cukup.

Tahar mendeskripsikan Murad sebagai sosok manusia biasa, bukan pahlawan. Ketika tekanan dari rumah dan di kantor tidak kuasa ditolak,  Murad pun tergoda untuk mengambil uang sogok dan turut menjadi bagian dari jaringan korupsi.  Istrinya, Hilma dan keluarganya memandang penting  kekayaan material sehingga memojokkan Murad dan menyalahkannya mengapa Murad tidak bisa kaya seperti saudara-saudara mereka yang lain atau rekan-rekan Murad di kantor. Di kantor, karena posisinya yang sangat penting untuk memberikan rekomendasi bagi pembangunan, Murad sering menghadapi tekanan dari pimpinan atau sikap yang tidak kooperatif dari asistennya.

Tahar juga memberikan deskripsi menarik tentang bagaimana jaringan korupsi bekerja. Begitu Murad mau mengambil amplop, maka untuk setiap permohonan harus ada amplopnya. Bahkan suatu ketika ada permohonan perijinan tidak disertai amplop, Murad pun bertanya-tanya  dalam hati. Ternyata amplop disusulkan kemudian oleh asistennya. Cerita ini menunjukkan kepada kita daya rusak korupsi. Begitu permohonan ijin tidak ada amplopnya,  maka sebuah permohonan walaupun sudah memenuhi syarat tidak akan dikabulkan. Karena dalam praktek korupsi yang sistemik,  logika utama yang berlaku adalah adanya amplop. Tanpa suap, maka tidak akan ada pelayanan.

Tahar juga menggambarkan deskripsi yang menarik bagaimana korupsi bisa menjebak seseorang ke dalam lingkaran setan tidak berkesudahan. Ketika Tahar menukar uangnya di bank, pertama kali tidak ada masalah. Tetapi begitu dia menukarkan uang untuk kedua kalinya, pegawai bank pun menanyakan dari mana sumber uang itu, apalagi karena uang yang hendak ditukarkan adalah uang kertas dolar baru. Pegawai seperti Murad jelas tidak  akan memiliki uang sebesar itu kecuali dia mendapatkan sumber lain. Maka kisah selanjutnya bisa ditebak, Murad harus mengeluarkan uang untuk “menutup mulut” pegawai bank itu.  Korupsi menjerat seseorang bukan hanya melalui peningkatan taraf hidup, tetapi juga  pengeluaran ekstra lainnya untuk menutupi praktek korupsi.  Demikian juga ketika Murad dituduh menggelapkan mesin tik yang tidak terpakai di kantornya oleh pengawas internal. Bisa diduga, tuduhan yang akhirnya diabaikan itu  harus ditutup oleh praktek korupsi. Kantor Murad harus menyediakan uang  kepada pengawas agar mengalihkan pemeriksaan kepada penggelapan aset yang tidak ada nilainya dan kemudian menutup kasusnya. Di balik itu, walaupun tidak diungkap oleh Tahar, berlaku logika praktek korupsi juga.

Situasi serupa juga terjadi di Indonesia.  Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), auditor pemerintah tidak  lepas dari praktek korupsi. Dalam kasus korupsi yang melibatkan Walikota Bekasi  dan Walikota Tomohon, terungkap adanya penyuapan terhadap auditor BPK. Dalam korupsi yang sistemik, korupsi yang melibatkan pengawas internal menjadi bagian dari praktek korupsi dengan tujuan untuk menutup rapat skandal tersebut.  Jejaring korupsi akan membesar ketika ada pihak lain terlibat dan “minta bagian”. Kasus jaksa yang minggu lalu ditangkap oleh KPK ketika memeras seorang pegawai BRI menunjukkan bagaimana praktek korupsi telah menjalar ke penegak hukum. Juga sejumlah pengakuan oleh pegawai pemerintah terhadap praktek pemerasan oleh penegak hukum sudah menjadi rahasia umum. Dari sini kita bisa melihat bagaimana praktek korupsi dilakukan secara “berjamaah”. Tidak mungkin korupsi dilakukan seorang diri karena bila hasil korupsi tidak dibagi, maka tidak akan ada perlindungan terhadap pelakunya dan dengan cepat kasusnya akan terbongkar.

Dari novel ini juga tampak bagaimana penegakan hukum tidak berjalan di Maroko. Barangkali karena penegak hukumnya juga bisa disuap karena dengan membandingkan korupsi sistemik yang terjadi di Indonesia, hal itu sangat mungkin. Juga tidak ada inisiatif dari pemerintah untuk memberantas korupsi seperti dengan menaikkan gaji atau melakukan reformasi birokrasi. Dari novel ini maka kita bisa melihat korupsi adalah fenomena global. Korupsi bukan persoalan unik yang hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negeri lain seperti Maroko.

Beberapa catatan

Dari novel korupsi ini, ada beberapa catatan yang perlu didiskusikan. Pertama, korupsi dalam novel ini dipahami sebagai persoalan moral dan dipandang hitam putih. Orang-orang yang digambarkan sebagai koruptor adalah orang yang bermoral bejat dan memiliki perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.  Fakta ini perlu dicermati dengan kritis karena yang terjadi di Indonesia, para koruptor justru adalah orang yang dianggap religius dan berperilaku baik. Sejumlah sosok koruptor adalah orang yang dipandang oleh masyarakat berperilaku baik, sangat dermawan dengan menyumbang kegiatan agama dan memberikan bantuan untuk orang-orang yang sedang kesulitan.  Orang yang melakukan korupsi tidak bisa dipandang hitam putih. Bahkan pandangan yang sempit atas nama moral hanya akan menutup mata kita terhadap kejahatan besar yang hendak disembunyikannya itu. Oleh karena itu akan sangat menarik bila ada buku atau tulisan yang bisa memberikan deskripsi atau biografi kritis para koruptor. Seperti apa kehidupan mereka sehari-hari, peran apa yang mereka mainkan dalam panggung kehidupannya dan seperti apa nasibnya ketika korupsi terbongkar.

Kedua, novel ini belum menyentuh kompleksitas korupsi dan disederhanakan pada motif penyuapan yang dilakukan untuk menutupi kebutuhan hidup yang dirasa sangat berat karena gaji sebagai pegawai pemerintah kecil. Dari sudut pandang ini, maka solusi bagi pemberantasan korupsi adalah peningkatan gaji yang biasanya disertai dengan reformasi birokrasi untuk mencegah terjadinya korupsi. Tetapi kasus Gayus atau penggerebekan Bea Cukai di Tanjung Priok oleh KPK menunjukkan bagaimana pendekatan itu tidak berjalan. Secara finansial,  penerimaan yang didapat dari praktek korupsi tidak akan sebanding dengan berapa pun kenaikan gaji yang sanggup dibayar oleh pemerintah.

Pandangan yang sederhana tentang korupsi dalam novel ini juga tidak bisa menjelaskan berbagai kasus korupsi politik yang terjadi di Indonesia. Kasus korupsi politik tidak didorong oleh motif personal untuk memenuhi kebutuhan hidup. Justru banyak kasus korupsi yang terungkap dilakukan oleh mereka yang secara finansial bukan hanya mapan tetapi berlebih. Lalu untuk apa korupsi? Korupsi dilakukan untuk membiayai ambisi politik atau memelihara dukungan konstituen.  Dalam korupsi politik, bisa jadi koruptor hidup sederhana karena uang yang diambil dialirkan untuk partai politik dan konstituten yang memberikan basis dukungan politik.

Ketiga, modus yang diungkap dalam novel ini masih berupa korupsi “tradisional”, yakni dengan menyelipkan amplop dalam dokumen yang harus ditandatangani oleh Murad. Cara ini tradisional karena dalam berbagai kasus yang terjadi di Indonesia, korupsi dilakukan tanpa disadari oleh pejabat publik yang bersangkutan. Bentuknya tidak hanya segepok uang, tetapi berbagai fasilitas dan kenikmatan, mulai dari yang sederhana dan secara pelan-pelan menjebak seseorang menjadi koruptor karena  tidak mampu lagi menolak pelayanan yang melenakan dari sesungguhnya bersumber dari praktek korupsi.

Keempat, novel ini mengundang  kritik keras karena  bias gender. Dalam novel ini, yang mendorong Murad melakukan korupsi adalah karena Hilma istrinya beserta keluarganya yang tidak puas dengan kondisi ekonomi dan menyalahkan Murad mengapa tidak seperti orang lain yang secara finansial lebih mapan.. Istri dan perempuan dipandang sebagai sumber dari korupsi karena meminta suami membawa lebih banyak rejeki seperti rekan-rekan mereka yang lain. Pandangan ini sangat stereotype dan bias gender karena menempatkan perempuan sebagai sumber masalah.

Terlepas dari berbagai catatan, novel yang ditulis oleh Tahar Ben Jelloun menambah keberadaan pustaka di Indonesia yang menolak praktek korupsi. Dengan membaca novel ini, diharapkan pembaca mengerti bahwa ketika memilih untuk turut melakukan korupsi, ada sejumlah konsekuensi yang harus ditanggung seperti yang dialami oleh Murad.  Melalui novel ini, pembaca juga bisa membandingkan bagaimana proses pemberantasan korupsi di Indonesia. Dengan melihat negara lain, akan tampak sejumlah kemajuan yang telah dicapai oleh Indonesia meskipun harus disadari juga besarnya skala korupsi membuat kemajuan itu tampak kecil. Namun demikian sekecil apa pun kemajuan yang telah diraih harus diapresiasi agar masyarakat tidak frustrasi dan kehilangan harapan.

dibaca oleh: 2440 pengunjung