Midnight's Children untuk Pembaca Indonesia

Makalah untuk diskusi buku Midnight's Children di Komunitas Salihara, 8 Oktober 2010

Untuk kali ini saja, ada baiknya kita mulai dengan pertanyaan: Mengapa buku ini diterjemahkan? Mengapa, kira-kira, penerbitnya merasa kita perlu membacanya? Salman Rushdie, patut diduga, memiliki banyak musuh di negeri ini--mereka yang membencinya demi perkara Ayat-Ayat Setan, kebanyakan tanpa merasa perlu membaca karyanya yang kental bagai kari. Di sisi lain, Midnight's Children--novel kedua yang ditulisnya jauh sebelum Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan)--mendapat penghargaan kesusastraan sangat tinggi dan, sejauh ini umum dianggap karya terbaik Rushdie. Kita agaknya memang perlu membacanya, sebagai peminat sastra, maupun sebagai patriot yang percaya bahwa sejarah kita adalah sejarah kolonialisme dan kemerdekaan sebuah bangsa.

Cara pembelajaran sejarah kita justru membuat buku ini semakin relevan untuk disimak. Ialah, sebuah cara yang sungguh memberi tekanan pada penjajahan dan perjuangan bangsa. Proklamasi 17 Agustus 1945 dirayakan seumpama klimaks perjalanan sejarah. Sebuah bangsa lahir setelah mengalahkan setan-setan penjajah nan keji. Bukan berarti seluruh gambaran itu salah, tapi pendekatan yang cenderung ideologis terbukti menyebabkan sulitnya perbedaan versi terjadi secara terbuka dan mencerdaskan. Di sinilah kita bisa melihat sumbangan sastra sebagai upaya membongkar ideologi. Dan sastra melakukannya dengan langkah-langkah yang membedakan dirinya dari "sejarah".

Midnight's Children biasa disebut sebagai novel post-kolonialis. Itu bisa juga berarti: sastra yang menggunakan bahasa penjajah namun dengan logika bangsa terjajah (antara lain dengan mencampurkan dongeng), untuk menceritakan pengalaman penjajahan dan menyoal perkara identitas. Novel ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang anak yang lahir tepat di malam kemerdekaan India: jam pertama hari 15 Agustus 1947. Anak yang lahir bersama kelahiran bangsa India. Anak itu adalah alegori terhadap India sendiri.

Salman Rushdie lahir tahun 1947. Tidak persis di hari Kemerdekaan India, dua bulan lebih dini, tetapi tak heranlah jikapun ia merasa perjalanan hidupnya pararel dengan perjalanan India. Tidak aneh pula, meskipun lucu, jika tokoh utama novel ini menyiratkan kemiripan dengan penulisnya: hidung besar, kepala botak di bagian belakang... (tapi deskripsi macam ini lebih cocok dilakukan dalam tulisan jurnalistik picisan ketimbang kritik sastra).

Tokoh novel ini bernama Saleem Sinai, yang lahir di Mumbai (a.k.a. Bombay) dari keluarga Muslim asal Kashmir. Ini pun mengingatkan kita pada latar belakang Rushdie. Seperti Saleem si tokoh utama, Salman dan keluarganya terusir dari India sehubungan dengan perpecahan India dan Pakistan. Ia harus melepaskan ke-Indiaannya dan menjadi Pakistan. Tapi tidak seperti Rushdie, Saleem Sinai, setelah perjalanan hidup yang ganjil, terpulangkan kembali ke India, tempat ia harus menghadapi masa lalu yang menentukan nasib. Nah, jika kebotakan Salman Rushdie terjadi karena urusan genetik, kebotakan Saleem Sinai memiliki makna simbolis. Kebotakan itu adalah kehilangan yang terjadi oleh kekerasan, seperti kehilangan Pakistan yang dialami India. Begitu juga, jika hidung besar penulis adalah urusan keturunan, ukuran hidung tokoh ciptaannya tidak percuma. Itulah hidung yang bisa mengendus pikiran orang-orang. Dengan hidung itulah Saleem bisa masuk dan menceritakan pikiran orang lain. Dua contoh itu--kebotakan dan hidung besar--langsung mengajak kita melihat bagaimana pengarang menciptakan makna dari referens yang barangkali sia-sia dalam kehidupan nyata. Novel ini dipenuhi dengan pembangunan kembali makna-makna atas referens yang bukan sia-sia belaka: peristiwa dan tokoh-tokoh sejarah: Jawaharlal Nehru yang mengirim ucapan selamat pada kelahiran "anak-anak tengah malam", peristiwa pembantaian Amritsar, perang Hindu dan Muslim, pemberlakukan Keadaan Darurat oleh Indira Gandhi, penggusuran daerah kumuh oleh Sanjay Gandhi, dst. Pertanyaannya: makna yang seperti apa yang dibangun? Ini sering menjadi sumber ketidaksukaan terhadap Rushdie, lepas dari kepiawaian sastranya.

Midnight's Children kerap digambarkan sebagai "sebuah cerita mengenai kegagalan mimpi-mimpi tentang kemerdekaan. Terutama mimpi kolektif tentang perbaikan kehidupan sosial." Rumusan ini bisa berarti demikian: pengarang membangun makna mengenai gagalnya "proyek emansipasi" yang ditawarkan kemerdekaan India. Novel ini bernada pesimistis mengenai sebuah bangsa yang lahir demi optimisme dan cita-cita luhur setelah sekian dekade di bawah penjajahan bangsa Eropa. "Kegagalan itu oleh Rushdie digambarkan sebagai bagian dari nasib buruk yang sudah ditakdirkan sejak kemerdekaan negara itu diproklamirkan pada tengah malam 15 Agustus 1947." Saya tertarik pada persoalan kegagalan ini. Pernyataan mengenai "kegagalan" adalah tidak netral pada dirinya. Kegagalan mengasumsikan sebuah ideal, yaitu suatu keberhasilan. Tapi, tidakkah kesuksesan, kejayaan, itu sendiri juga adalah sebuah fiksi? Sebuah mimpi? Di sinilah kita bertemu kembali dengan persoalan mendasar kesusastraan, dan sejarah: perbedaan antara fakta dan fiksi.

Fakta dan fiksi

Dalam pengantarnya, Salman Rushdie menulis: "Di Barat orang cenderung membaca Midnight's Children sebagai novel fantasi, sedangkan di India orang memandangnya novel realis, hampir menyerupai buku sejarah." Ini sebetulnya sebuah komentar menarik yang bisa dibaca secara post-kolonialis. Apakah fakta dan apakah fiksi? Dan jika perkara itu berhubungan dengan terjadinya sebuah bangsa, seperti Indonesia atau India, kita pun teringat pada Ben Anderson, dalam bukunya Imagined Communities, yang menggambarkan betapa sebuah bangsa adalah sebuah bangunan bayangan. Indonesia, atau juga India, adalah sebuah proses keragaman dan perseteruan yang tidak lahir sebagian suatu bangsa karena alasan alamiah. Keduanya lahir oleh imajinasi, yang dimungkinkan oleh pengalaman kolonialisme.

Tapi, pertanyaan besar lalu muncul: jika imajinasi itu adalah fiktif, bukankah darah yang tertumpah untuk memperjuangkan bangsa yang merdeka itu fakta? Tak di Indonesia, tak di India. Ribuan, barangkali jutaan, mati dan terluka oleh cita-cita. Maka, di mana batas antara fiksi dan fakta?

Mengenai peliknya batas antara fakta dan fiksi, fantasi dan realitas, Ignas Kleden pernah menuliskannya dalam jurnal Kalam (11/1998), "Fakta dan Fiksi Tentang Fakta dan Fiksi: Imajinasi dalam Sastra dan Ilmu Sosial". Ia mengajak kita kembali menengok akar kata yang berhubungan dengan perkara ini. Fiksi berasal dari kata kerja benda Latin fictio, yang dibentuk dari kata kerja fingere, yang artinya lebih dekat dengan membuat, membentuk, mengkonstruksi, menciptakan. Bukan aspek khayalinya yang ditekankan oleh kata kerja ini. Bukan aspek non-real, melainkan aspek konstruksinya. Fiksi adalah sesuatu yang dibangun, seperti mimpi dan cita-cita, yang dari sana manusia bisa mengarahkan tindakannya sehingga menjadi nyata. Dalam hal ini, fiksi memiliki potensi transformatif dalam kenyataan. Sedangkan fakta adalah ketika sesuatu, atau mimpi itu, atau fiksi itu, telah diwujudkan dalam tindakan nyata. Fakta berasal dari kata Latin factum, yang adalah bentuk past participle dari kata kerja facere--artinya menjadi, menjadikan, membuat.

Memang, penjelasan ini pun tidak akan selalu membatasi secara memuaskan di segala "medan makna". Misalnya, novel Ayat-Ayat Setan adalah fiksi. Tapi, bagi sebagian orang, penghinaannya terhadap Nabi Muhammad adalah fakta. Fatwa mati bagi Rushdie oleh Ayatollah Khomeini juga fakta. Lagi, di mana batas-batas antara fiksi dan fakta? Maka, di sini saya ingin mengambil kembali penjelasan mengenai "medan makna". Pengetahuan kita selalu mengandaikan batas-batasnya sendiri. Yaitu, "dengan dihilangkannya keragu-raguan mengenai segi-segi tertentu dari kenyataan itu, sekurang-kurangnya buat sementara waktu" atau yang disebut epoche. Inilah yang dimaksud Alfred Schutz, dari aliran fenomenologi, dengan meminjam William James, sebagai "daerah makna terbatas": suatu daerah makna berbeda dari daerah makna lainnya karena mereka memberi tekanan yang berbeda kepada kenyataan dengan cara menghilangkan keraguan tentang segi-segi tertentu (yang berbeda-beda), sekali lagi, sekurang-kurangnya untuk sementara waktu. Dengan cara inilah terbentuk daerah-daerah makna seperti halnya ilmu pengetahuan, agama, politik, fantasi dan imajinasi.

Agama kerap kali membangun maknanya dengan menghilangkan keraguan nyaris sama sekali. Ini yang, oleh banyak orang, dinamakan iman. Politik--seperti partisi India dan Pakistan, atau pemisahan Jawa Tengah dan Timur, atau juga pemekaran propinsi--juga bekerja atas penghilangan keraguan bahwa ada masalah dalam pemisahan itu. Khomeini menjatuhkan fatwa mati pada Rushdie sebab pemimpin Iran itu telah menghilangkan keraguan bahwa sebagai tindakan sosial Rushdie telah menghina Islam dengan Ayat-Ayat Setan. Fiksi itu dianggap fakta penghinaan dengan penghilangan kemungkinan lain. Sementara itu novel bekerja dengan cara lain, yang juga melibatkan proses menghilangkan dan mendistorsi pula.

Dunia fiksi, kata Schutz, tidak mungkin terbentuk terlepas dari rujukan kepada dunia sehari-hari. Tanpa rujukan sama sekali, dalam bentuk apa pun--relasi, oposisi, distorsi, atau manipulasi lainnya--terhadap dunia sehari-hari, maka dunia fiktif tidak mungkin terbentuk. Meski demikian, ada perbedaan besar antara trayektori medan makna agama dan medan makna "phantasms" (yang di dalamnya, bagi Schutz, termasuk fantasi, imajinasi, novel). Agama selalu mencoba memfaktakan fiksinya. Dengan frase yang lebih tidak problematis: agama selalu disertai program untuk mewujudkan visinya.

Novel tidak begitu. Novel, umumnya, tidak disertai juklak untuk mewujudkan ide-ide menjadi kenyataan. Kata "umumnya" perlu ditekankan lagi di sini, sebab pada dasarnya novel selalu terbuka untuk menjadi apapun. Agama tanpa anjuran tak menjadi agama. Tapi novel yang disertai juklak ideologis toh tetap bisa menjadi novel. Midnight's Children, juga karya-karya Rushdie yang lain, justru berjalan dalam trayek yang sebaliknya. Alih-alih memfaktakan fiksi, ia memfiksikan kembali fakta-fakta. Dalam proses ini, sekali lagi, sebagaimana proses pemaknaan yang lain, melibatkan seleksi, distorsi, dan eliminasi. Kita barangkali perlu mengingat bahwa proses-proses ini--seleksi, distorsi, eliminasi--adalah proses yang netral pada dirinya. Mereka tidak dengan sendirinya jahat, sebagaimana cenderung kita duga selama ini. Kesesuaian dengan medan makna, serta program perwujudannyalah yang akan menentukan apakah proses-proses ini sah atau tidak.

Di sini kita kembali bertemu dengan pertanyaan yang diajukan di awal: jika sebuah novel, seperti juga kitab ideologi dan agama, melakukan seleksi, distorsi, dan eliminasi--artinya melakukan manipulasi--maka untuk membangun apa? Makna apa dan bagaimana yang sedang dibangun oleh sebuah novel? Makna apa dan bagaimana yang dibangun oleh Midnight's Children?

Satire dan political correctness

Salah satu kecaman argumentatif yang pernah disusun di Indonesia terhadap Midnight's Children dimuat di jurnal Kalam pula (6/1995). Dengan membandingkan novel ini dengan tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer, kritik itu mencangkup kegagalan Midnight's Children memberi pemahaman atas peristiwa-peristiwa sejarah yang ditulis di dalamnya. I Gusti Agung Ayu Ratih berpendapat: Kejelian Rushdie dalam memilih berbagai simbol dan metafor untuk menggambarkan kejadian-kejadian penting dalam sejarah India memang sangat mengagumkan, seperti yang diamati oleh banyak kritikus sastra. Akan tetapi sebagai suatu pernyataan yang berarti tentang sejarah India, buku ini sangat tidak memadai. [...] apa yang dinyatakan oleh para pengagum karyanya perlu dipertimbangkan kembali.

Midnight's Children memang dapat terasa politically incorrect. Ia "seperti" tidak punya keberpihakan pada orang tertindas, dalam arti tidak memberi mereka makna dan moda yang mengangkat mereka dari ketertindasan mereka. Ia tidak memberi harapan. Kaum nasionalis pasti tidak menyukainya karena novel ini menghancurkan mimpi dan proyek nasionalisme. Kaum kiri juga cenderung jengkel dengan penggambaran partai komunis sebagai segerombol tukang sulap dan sirkus miskin nan semrawut. Kaum agama juga tidak dihibur. Agama sekadar digambarkan sebagai fakta sosial, jika bukan persoalan sosial-kultural, dan bukannya solusi seperti yang dibayangkan kaum agama sendiri. Kaum kapitalis juga diolok-olok, tapi biasanya kaum ini tidak begitu cari pujian barangkali sebab mereka hanya peduli pada profit dan tak peduli pada makna lain. Pembaca yang mencari telos tidak akan mendapatkannya.

Mencela Midnight's Children karena tak adanya fiksi (baca: visi) terpadu dan terarah mengenai sejarah dan dunia adalah menggugat raison d'etre-nya. Ini hampir seperti mengajak orang merevisi segala apresiasi estetik atas sebuah patung dengan alasan bahwa patung adalah berhala dan haram hukumnya. Ini akan mengembalikan kita pada persoalan adanya medan makna yang bisa saling bertubrukan dalam penekanan keutamaan dan penghilangan keraguannya. Sebab Midnight's Children adalah satire dari semua itu. Ia adalah penelanjangan atas mitos-mitos. Ia memang adalah desakralisasi. Jika Barthes (dalam Mythology) melakukannya lewat analisis, Rushdie melakukannya lewat satire. Analisis membuat kita faham, tetapi satire membuat kita tergelitik. (Sayangnya, gelitik perut bisa menyebabkan rasa lucu yang menyenangkan, maupun rasa ingin meludah). Analisis bekerja di kepala, tetapi satire bekerja di perut kita. Maka, pertama-tama, sebelum membuka novel ini, jika pembaca sudah mendengar terlalu banyak dan memang ingin membukakan diri padanya juga, maka katakanlah: aku menunda ideologi dan cita-citaku, setidaknya untuk sementara waktu. Dengan begitu, insyaallah, kita bisa mengapresiasi kualitas sastranya dan berpetualang dalam realisme magis yang ditawarkannya.

Realisme-magis dan bagaimana novel membangun maknanya sendiri Realisme-magis dalam sastra biasa berhubungan dengan postkolonialisme. Pertemuan rasionalisme modern bangsa penjajah dengan mitologi tradisional bangsa terjajah melahirkan ketakjuban baru pada penggabungan keduanya. Kira-kira begini: rasionalisme telah membuat orang Eropa lupa bahwa mereka dulu juga hidup dari mitos dan takhayul. Di tanah jajahan mereka bertemu kembali dengan hal-hal nan terlupakan itu dari bangsa terjajah. Bangsa terjajah menyerap nilai-nilai rasional Eropa, tapi tidak (atau belum sempat) membuang dongeng dan takhayul nenek moyang. Sebaliknya, mereka mengintegrasikan logika itu ke dalam bentuk penulisan modern yang mereka serap dari pendidikan kolonial, yang seringkali datang bersama penghilangan bahasa lokal pula. Inilah yang terjadi pada banyak pengarang Amerika Latin, Afrika Selatan, dan India, yang kehilangan kemampuan menulis dalam bahasa lokal mereka, seperti antara lain Gabriel Garcia Marquez dan Salman Rushdie.

Pengalaman pertemuan dan kehilangan dalam perjumpaan peradaban bangsa penjajah dan terjajah itu menjadi pembuka silsilah Saleem Sinai, si tokoh utama dalam Midnight's Children. Kakeknya digambarkan sebagai seorang dokter yang pulang belajar dari Jerman. Adaam Aziz, lelaki Khasmir bermata biru dan berhidung besar ini kehilangan imannya pada tuhan yang dikenalnya dulu. Tapi, pengarang tidak menggambarkannya sebagai sebuah proses bertahap, melainkan dalam sebuah peristiwa sepele yang mendadak. Sebuah peringkasan simbolis yang umum diambil dalam film juga. Suatu hari di awal musim semi yang masih beku, Adaam Aziz hendak salat. Itulah saat ketika hidungnya terantuk sesuatu yang keras membeku di bawah hamparan sajadah. Hidung besar itu pun berdarah. Kecelakaan kecil itu berdampak besar: Adaam bersumpah tidak akan pernah lagi "mencium bumi untuk Tuhan atau manusia mana pun".

Namun, keputusan ini membuat sebuah lubang di dalam dirinya, kekosongan di dalam ruang batin yang sangat penting, membuatnya rentan terhadap perempuan dan sejarah.

Ini adalah sebuah pengakuan ketidakutuhan, semacam sebuah disclaimer atau peringatan awal bahwa seluruh novel mendasari diri pada sebuah pengalaman kehilangan yang tak terdamaikan. Keretakan yang tak terdamaikan ini boleh mengingatkan kita pada keretakan dalam pengertian psikoanalisa yang terjadi ketika seorang anak lahir, terpisah dari rahim ibunya. Kehilangan yang tak tak terhindarkan dalam setiap proses kelahiran. Kehilangan yang membuat manusia mencari sumber kenikmatan dan rasa aman yang terletak di luar dirinya. Dan itu, tentu saja: cinta dan cita-cita. Dalam novel ini: perempuan dan sejarah.

Kehilangan ini juga bisa dibaca dalam kelahiran sebuah bangsa baru. India, yang lahir setelah tercerabut dari rahim tradisinya sekaligus rahim kolonialisme. Ini diwujudkan dengan sangat jitu dalam kelahiran Saleem Sinai, cucu Adaam Azis, kelak. Tapi sebelum tiba pada kisah Saleem, "lubang" selanjutnya menjadi hal yang penting dalam novel ini. Adaam Azis, sang dokter muda, mengenali calon istrinya dalam proses perjumpaan aneh. Gadis yang kelak menjadi istrinya itu adalah putri seorang juragan. Si ayah meminta dokter muda itu memeriksa penyakit misterius putrinya. Tapi, demi kesopanan terhadap seorang dara, dokter muda itu hanya boleh memeriksa pasiennya melalui sebuah lubang pada seprai, bagian tubuh yang dikeluhkan, yang setiap kali selalu berganti. Si dokter muda itu pun mulai jatuh cinta pada fragmen-fragmen dari tubuh yang tak pernah ia lihat secara utuh. Pengertian didapatnya dari penggabungkan imajinatif bagian-bagian yang terlihat dari lubang seprai itu. Ini pun sebuah rumusan metaforis untuk cinta pada dan pengertian mengenai sebuah bangsa yang pada awalnya adalah imajiner. Di sini pun yang imajiner bukan datang dari kosong. Yang imajiner datang dari sesuatu yang telah ada, yang dimengerti secara sepotong-sepotong sebelum imajinasi kita merangkai fragmen-fragmen itu.

Midnight's Children terdiri dari tiga pembabakan, yang disebut di situ sebagai tiga "buku". BUKU SATU-lah yang paling bernafaskan postkolonialisme: yaitu perihal kelahiran sebuah bangsa, disertai segala kehilangan dan keinginan menemukan kembali yang hilang itu. Tapi sebuah bangsa baru yang lahir dari penjajahan lahir dari dua rahim pula, dan karenanya medapat ciri sekaligus kehilangan rasa aman dari keduanya. Ini digambarkan dari kelahiran "kembar" dua bayi tengah malam: Saleem Sinai dan Shiva. Mereka adalah dua kelahiran yang terjadi dari rumah yang sama. Rumah Methwold. Sangat jelas, Rumah Methwold adalah metafor dari kolonialisme dalam aspek peradabaannya.

Rumah Methwood adalah peradaban Inggris yang dibangun di tanah jajahan dan, menjelang pengesahan kemerdekaan India, akan diwariskan kepada bangsa yang sebelumnya dijajah. Tuan Methwold adalah representasi aristokrasi Inggris. Tapi, sebelum angkat kaki, Tuan Methwold rupanya suka main gila dengan istri seorang pemain akordion yang kerap tampil di rumah itu. Maka, di rumah itu ada dua kehamilan menjelang kemerdekaan. Kehamilan putri Adaam Azis, yang telah diboyong suaminya ke Mumbai dan menempati satu vila di Rumah Methwold. Serta, kehamilan istri pemain akordion dalam hubungan gelap. Peradaban Inggris telah menghasilkan anak haram dengan peradaban India. Si anak jadah akan lahir dari keluarga Hindu kelas bawah. Yang satu lahir dari keluarga Islam kelas menengah. Di luar representasi kelas ini (yang agaknya lebih menggambarkan latar pengarangnya), ini adalah representasi konflik Hindu dan Muslim yang membayangi India sejak dikandung dan beberapa tahun kemudian meletus dalam perpecahan India Pakistan. Lahirlah kedua anak itu, dari rumah yang sama, di rumah sakit yang sama, pada jam pertama kelahiran India. Tapi, seorang suster beragama Katolik yang patah hati pada seorang pemuda satu gereja yang murtad jadi komunis, menukar takdir kedua bayi yang sama bermata biru dan berhidung besar. Ia berpikir dengan mengganti identitas bayi-bayi itu ia menyumbang pada penyelesaian konflik antara Hindu dan Muslim. Begitulah, cucu dari darah Adaam Azis yang Khasmir terlahir sebagai Shiva dari keluarga Hindu miskin. Dan anak haram Tuan Methwold dengan istri-tak-setia pemain-akordion-Hindu terlahir sebagai Saleem Sinai dari keluarga Muslim kelas menengah.

Di sinilah salah satu puncak kepiawaian Rushdie. Ia seperti seorang pesulap yang membuat pembaca menikmati ilusi sekalipun pembaca telah mengetahui itu sebagai sebuah ilusi. Narator dalam novel ini adalah Saleem Sinai, dan kita percaya bahwa Adaam Azis yang berasal dari Kashmir, dokter muda yang kehilangan iman dan mencari penggantinya dalam pengertian di balik lubang seprai, itu adalah kakeknya meskipun kita tahu itu bukan kakeknya. Kita tak pernah merasa bahwa Tuan Methwood adalah ayahnya meskipun kita tahu bahwa bangsawan Inggris itu ayahnya. Lebih gawat lagi, kita mengenali Saleem Sinai sebagai Saleem Sinai, padahal kita tahu bahwa dia adalah Shiva. Dan Shiva sesungguhnya adalah Saleem Sinai. Salman Rusdhie sungguh mewujudkan simulakrum antara yang riil dan imajiner, yang fakta dan yang fiksi, yang bagi saya menggelitik pembaca Indonesia untuk memikirkan kembali pendekatan politik identitas.

Pola-pola realisme-magis lebih banyak muncul pada BUKU DUA. Saleem Sinai dan semua anak yang terlahir pada jam pertama kelahiran India itu, termasuk juga Shiva, memiliki kelebihan supranatural. Saleem Sinai bisa mempertemukan mereka dalam "konferensi anak-anak tengah malam" yang ikut membicarakan persoalan-persoalan besar India--dengan cara pandang anak-anak yang segar dan ganjil. Di sanalah Saleem bertemu dengan Shiva, yang samar-samar menakutkan dia, tanpa ia tahu betul bahwa mereka adalah identitas yang tertukar. Ketakutan itu menarik. Ketakutan itu bagaikan sebuah rasa tidak aman (lagi-lagi sebuah lubang dan keretakan). Rasa tidak percaya diri pada keutuhan identitas.

Di lini lain, Saleem Sinai tetap bertumbuh sebagai anak pada umumnya. Peristiwa-peristiwa hidup pribadinya bersimpulan dengan peristiwa-peristiwa sejarah India pasca-kemerdekaan, sebagai sebuah kelanjutan dari pertalian kehidupan kakeknya dengan peristiwa sejarah India pra-kemerdekaan. Peristiwa yang paling besar adalah perpecahan India-Pakistan, yang mengakibatkan perpisahan keluarga besar mereka pula.

Cerita bergulir menjadi semakin fantastis, dalam arti kehidupan pribadi Saleem Sinai semakin menempel pada titik-titik krusial sejarah India-Pakistan. Saleem terlibat dalam konspirasi pemisahan Bangladesh dari Pakistan. Bagian ini agaknya menunjukkan kelekatan hati Salman Rushdie pada India daripada Pakistan. Ia lebih terganggu oleh apa yang dilakukan Indira Gandhi terhadap India daripada perebutan kekuasaan berdarah di Pakistan. Pakistan seperti sudah meluncur ke nasib yang ditentukannya sendiri sehingga tak perlu dibicarakan. Musuh utamanya adalah Indira Gandhi, yang dalam novel ini menjadi paling bertanggungjawab atas runtuhnya cita-cita kemerdekaan.

Nyonya perdana menteri ini disebut sebagai Si Janda jahat, yang memang sejak awal mengincar anak-anak tengah malam sebab mereka memiliki kemampuan khusus. Pada akhirnya, pada BUKU TIGA, Si Janda memang berhasil menangkapi peserta konferensi anak-anak tengah malam dan melakukan pengebirian terhadap mereka. Metafor dari pengebirian terhadap pemikiran dan ide-ide segar mengenai kemerdekaan itu sendiri. Saleem Sinai lepas dari rumah pengebirian itu sebagai sosok yang baru, yang telah dikalahkan dan menjadi biasa-biasa saja. Hidupnya, untuk sementara, diselamatkan oleh pekerjaan membuat acar. Dan acar ini, tentu saja, adalah metafor dari preservasi sejarah.

Midnight's Children berseberangan secara diametral dengan novel realisme-sosialis yang penuh visi untuk membangun dunia baru. Ia tidak memberi harapan, termasuk harapan palsu. Ia tidak memberi pemahaman, sebab setiap pemahaman melakukan penyederhanaan atau epoche-nya. Penyederhaanaan yang dilakukan Midnight's Children tidak bertujuan memberi pemahaman melainkan, sebaliknya, mengguyah ide-ide stabil kita. Seperti dikatakan di awal, ia adalah satire yang menggunakan eliminasi, seleksi, hiberbolisme, dan program distorsi yang lain untuk membangun makna yang ditawarkannya. Yaitu membongkar apa yang kita percaya sebagai sakral. Seperti mitos nasionalisme, keutuhan bangsa, kekuasaan.

Pertanyaannya: setelah membongkar lalu apa? Tapi pertanyaan ini sesungguhnya berada di luar wilayah sastra. Novel dan puisi tidak harus menanggung beban membangun visi utuh mengenai dunia seperti agama dan ideologi. Yang bisa dijawab sebuah novel adalah yang berada dalam cakupannya saja. Yaitu bagaimana ia membangun makna dengan unsur-unsur yang di dalam dirinya dan bukan dengan perbandingan dengan dunia di luar novel itu. Dengan kata lain, pembacaan yang lebih strukturalis. Tuduhan seperti, misalnya, bahwa Midnight's Children melecehkan sosialisme dan komunisme dengan penggambarannya atas kaum komunis dan sosialis sebagai tukang sulap, penjinak ular, badut dan pemain sirkus yang kacau barangkali bisa dibandingkan dengan bagaimana Rushdie sendiri bermain sebagai tukang sulap dalam novel ini dengan menciptakan ilusi dan simulakra. Artinya, makna tukang sulap dalam Midnight's Children (bahkan karya lain Rushdie) barangkali bukanlah makna pejoratif. Menurut saya, ia justru memiliki simpati pada pekerjaan-pekerjaan pencipta ilusi demikian. Pengolokannya atas banyak pihak setara dengan pengolokannya terhadap diri sendiri pula. Tidak seperti kecenderungan realisme-sosialis yang membikin representasi buruk hanya atas musuh ideologi, Midnight's Children membikin ejekan terhadap semua pihak termasuk tokoh utama dan nilai-nilainya.

Dan akhirnya, bagi saya, novel ini menunjukkan simpatinya terhadap orang miskin, atau mereka yang tersingkirkan. Bukan dengan cara yang tertebak dan eksplisit dengan memberi kaum miskin makna dan harapan (yang sering palsu). Simpati itu justru terlihat dari apa yang paling sedikit diceritakan. Yang hilang. Yaitu Saleem Sinai yang sesungguhnya. Ialah Shiva, yang ditukar dan terjerembab dalam kemiskinan nyaris tiada akhir. Dialah nemesis bagi si borjuis, yang sesungguhnya mendapatkan kemewahan bukan karena haknya. Borjuis yang, seperti kebanyakan borjuis dan kaum kaya, merebut hak-hak itu dengan memiskinkan orang lain. Seperti Saleem Sinai palsu, si anak haram, merebutnya dari Saleem Sinai asli.

Seorang yang lahir dari kelas menengah atau lebih, seperti Salman Rushdie dan saya, tidak bisa benar-benar bicara atas nama orang miskin. Kecuali jika kelak ia jatuh miskin. Seorang yang punya pilihan tak bisa sungguh bicara atas nama orang yang tak punya pilihan. Dalam hal khusus ini, saya menghargai Midnight's Children karena ia tidak berpretensi. Ia memilih jalan untuk menyatakan simpatinya dengan cara yang otentik pada dirinya. (*)

dibaca oleh: 2908 pengunjung