Alpha Male Syndrome: Virus Baru dalam Kepemimpinan dan Penyembuhnya

Dalam dunia manajemen, kepemimpinan berbasiskan spiritual sedang menjadi tren (Edisi Khusus Swa 2005, Tren Konsep Managemen 2005). Berbagai buku seperti ESQ Leadership, Heroic Leadership (tentang kisah kelanggengan organisasi Serikat Jesuit), Life Excellence, adalah segelintir diantaranya. Buku Alpha Male Syndrome adalah buku kepemimpinan yang bukan berbasiskan spiritual dan lebih menyoroti kepemimpinan dari segi mental-psikologis. Namun, apakah lantas buku ini kurang menarik?

Bagi saya, kategorisasi sifat kepemimpinan alpha yang diajukan Kate dan Eddie dalam buku ini sungguh menarik dan punya daya praktis yang kuat. Buku kepemimpinan berbasiskan mental-psikologis ini selevel deninkan.”

Mengapa lelaki alpha, bukan wanita alpha juga? Ini sekadar karena data statistik menurut pengarang menunjukkan alpha di pucuk perusahaan lebih banyak berasal dari kaum adam. Untungnya, pengarang buku tidak menafikan adanya wanita alpha dan bahkan membahas sejumlah di antaranya.

Salah satu keunggulan buku ini memang adalah diikutsertakannya pembahasan terhadap banyak contoh kasus dari berbagai pemimpin perusahaan di berbagai industri Contoh dari kasus-kasus terkenal yang ditangani pengarang buku ini adalah Michael Dell (Dell) dan Meg Whitman (eBay). Selain itu, buku ini memiliki sasaran pembaca yang luas. Sasaran pertama adalah mereka yang memang memiliki kualitas alpha, baik kaum alpha yang belum menjadi atasan maupun kaum alpha yang sudah menduduki posisi atasan di perusahaan supaya mereka bisa memperbaiki diri. Sasaran kedua adalah bagi bawahan kaum alpha itu sendiri supaya mereka bisa mendapatkan cara menghadapi bos alpha.

Keunggulan lainnya, seperti disebut sebelumnya, adalah diberikannya kategorisasi alpha beserta tes-tes pengukurnya. Menurut pengarang, ada empat kategori alpha: komandan (commander), visioner (visionary), strategis (strategist), dan pelaksana (executor) yang masing-masing memiliki kelebihan yang, jika tidak dikelola, hanya akan merusak dan menjadi kelemahan (liabilities). Komandan misalnya tegas, pandai memotivasi, tapi seringkali kasar. Visioner itu kreatif, berpandangan jauh ke depan, tapi sering tidak realistis dan menganggap penentang visinya sebagai musuh. Strategis itu rasional, berbicara hanya berdasarkan fakta dan data, tapi sering dingin dan merasa diri lebih pintar (intellectual bully) serta tahu segalanya. Eksekutor sangat pandai melakukan pekerjaan dengan detil dan cermat, tapi sering tidak bisa melakukan pendelegasian (micromanage). Berbekal kategorisasi teknis ini, para pembaca diajak untuk memperbaiki kualitas alpha-nya supaya bisa lebih konstruktif bagi perusahaan.

Bagi saya yang lebih menarik lagi adalah kategorisasi ini sebenarnya bisa diaplikasikan untuk meneropong dunia perpolitikan. Sukarno misalnya adalah seorang alpha komandan dengan sub-alpha visioner dan Hatta adalah alpha visioner dengan sub-alpha strategis. Suharto adalah alpha tipe eksekutor. Gus Dur adalah seorang alpha visioner. SBY adalah alpha komandan dengan sub-alpha strategis, sedangkan Jusuf Kalla adalah alpha eksekutor.  

* Penulis adalah magister filsafat dan co-author Open Sesame Innovation.

dibaca oleh: 4858 pengunjung