Mengubah Masa Kini, Memimpikan Masa Depan

London — Di mata saya, kita telah melakukan proses dialog antaragama tanpa memperhatikan kenyataan yang ada dunia dewasa ini. Dunia kita telah mengalami perubahan besar-besaran, terutama selama 10 tahun terakhir ini. Kita mengalami krisis demi krisis: sosial, kewarganegaraan, dan kebudayaan.

Seiring dengan usaha kita menjadi wakil agama-agama dari umat manusia, kita harus menghadapi kenyataan ini, memikul tanggung jawab ini. Jika kita berbicara tentang harapan, kita harus memulainya dengan bersikap realistis dan bertanggung jawab. Jika kita ingin berubah, kita harus memulai dan mengubah cara kita berhubungan dengan orang lain, cara kita berhubungan dengan dunia yang kita tinggali. Ketika kita bicara tentang harapan dan impian, ada Rasul SAW yang memimpikan masa depan dan mengubah masa kini. Bukan sebaliknya. Dengan memimpikan masa kini Anda tak mengubah apa pun. Karena itu, mimpikan masa depan, ubahlah masa kini. Inilah yang harus lakukan dengan nilai-nilai kita, dengan ajaran-ajaran kita.

Sebagai seorang Muslim, saat mencoba berdialog dengan orang lain, baik yang beragama Kristen, Yahudi, Buddha, Hindu, atau penganut kepercayaan, saya, dan banyak orang seperti saya, sering dipandang sebagai orang-orang naif, tukang mimpi, jauh dari kenyataan. Benarkah? Jika banyak yang menganggap kami seperti itu, psikologi dasar mengajarkan kita untuk bertanya kepada diri sendiri apakah memang ada kebenaran dalam pandangan ini. Saya pikir ada. Wacana kita terkadang jauh terpisah dari kenyataan. Kita bicara tentang cinta tetapi begitu kita berusaha mendorong cinta di dunia ini, kesulitan menghadang. Mencintai sulit untuk dilakukan. Kita bicara tentang perdamaian, tetapi begitu muskil rasanya mendapatkan perdamaian, pribadi maupun kolektif. Kita bicara tentang pentingnya keluarga, tetapi orang menginginkan jawaban tegas tentang cara membangun sebuah keluarga di dunia ini, sekarang ini, dalam kenyataan yang penuh krisis sosial dan prikologis. Kita hidup di sebuah dunia yang membutuhkan jawaban-jawaban.

Kita tidak aman dan was-was. Di Amerika Serikat, ada rasa ketakutan yang besar pasca 11/9. Di Israel, Palestina, India, dan bagian-bagian lain dunia, rasa takut ada di mana-mana. Apa yang kita sedang saksikan tidak hanya berada dalam alam pikiran saja. Rasa takut juga dirasakan oleh para politisi dan pemuka agama, orang-orang yang beriman. Jika kita bersungguh-sungguh dan memahami makna agama, kita harus berurusan dengan rasa takut. Baru kita dapat mulai memahami bahwa kita hidup di sebuah dunia di mana emosi didahulukan, dan emosi tidak mempunyai hubungan apapun—bahkan berlawanan dengan spiritualitas.

Emosi merupakan reaksi permukaan. Bukan permukaan dalam arti yang buruk, tetapi reaksi pertama yang muncul ketika sesuatu terjadi. Spiritualitas adalah sesuatu yang berbeda. Ia membahas tentang upaya, sesuatu yang Anda alami jauh di lubuk hati Anda. Spiritualitas adalah cara untuk menguasai emosi-emosi Anda, bukannya ditaklukkan oleh, atau menyerahkan diri Anda kepada berbagai emosi Anda. Karena itu sangat penting untuk menggali ajaran-ajaran spiritual kita. Cara apa yang mereka ajarkan kepada kita untuk menguasai emosi-emosi kita?

Mengapa begitu penting untuk melihat sesuatu dari luar emosi-emosi kita? Karena emosi-emosi itu membuat kita terjebak dalam oposisi "kami" x "mereka", sehingga kita harus mempertahankan identitas kita. Pola pikir seperti itu sangat buruk, Betapa kejinya jika kita memandang orang lain sebagai musuh kita, yang selalu melindungi diri mereka dari Anda, demikian pula sebaliknya. Pola pikir ini tak memungkin bagi sebuah dialog.

Spiritualitas tidak ada hubungannya dengan kenaifan. Spiritualitas tidak ada hubungannya dengan mimpi. Ia berhubungan dengan pemikiran kritis yang memungkinkan kita mengambil jarak dari emosi-emosi kita dan mencoba memahami dunia. Belajar mendengarkan, itulah hakekatnya. Emosi menutup telinga kita.

Beberapa minggu lalu, saya berada di Sarajevo. Di sana, sepuluh tahun setelah perang, seorang warga Eropa Timur bertanya kepada seorang warga Eropa Barat: "Saya ingin bertanya tentang satu hal: Kami adalah umat Muslim, dan setelah apa yang telah terjadi, bagaimana saya bisa mempercayai Anda?"

Pertanyaan tentang kepercayaan ini sangat mendasar. Bagaimana kita memberikan komitmen bagi terciptanya rasa saling percaya? Kita harus membuat jaringan di tingkat lokal untuk memahami strategi global dan ideologi rasa takut ini dan menciptakan ruang bagi rasa saling percaya.

Ketika kita melakukan hal tersebut, kita sedang mengubah masa kini dan memimpikan masa depan.

###

* Tariq Ramadan adalah penulis MUHAMMAD, RASUL ZAMAN KITA (Serambi: 2007). Dia seorang profesor Kajian Islam dan peneliti senior di St Antony's College, Oxford University dan Yayasan Lokahi, London.

dibaca oleh: 3681 pengunjung