Mudik Elektrik

"Saya nggak pernah mudik, Mas. Gitu-gitu aja. Mendingan di sini, jualan. Dapat duit lumayan banyak," kata Eko, penjual pecel lele di trotoar Jalan Ahmad Yani Karawang, yang barangkali rekor tidak mudiknya sudah jauh melampaui Bang Toyib.

Eko mungkin hanya seorang dari sekian-sedikit muslim di Indonesia yang menganggap mudik lebaran sekadar ritual-tradisi tanpa makna. Apa sih yang kita dapat dari mudik?

Lain Eko, lain lagi mayoritas muslim Indonesia yang bisa jadi menganggap mudik lebih wajib ketimbang puasa Ramadan maupun zakat fitrah. Bagi mereka, mudik merupakan kesempatan langka yang terjadi sekali setahun. Di momen liburan lebaran inilah para mudiker bisa menumpahkan kerinduan mereka akan kampung halaman.

Kerinduan menjadi daya dorong yang luar biasa bagi para mudiker. Demi mudik, mereka rela antre membeli tiket, berdesak-desakan dalam bus, kereta, atau kapal laut, dan bermacet-macetan sepanjang perjalanan. Bahkan, tidak jarang kita menyaksikan satu sepeda motor ditumpangi tiga orang lengkap dengan segala macam bawaan yang angkaribung. Bila perlu, tabungan setahun dihabiskan saat mulih ke udik (mudik).

Manusia memang memiliki kecenderungan untuk kembali ke asal. Rindu pada keadaan diri yang murni sebelum terpengaruhi segala yang dialami dalam perjalanan hidupnya.

Tidak hanya manusia, Allah pun rindu melihat manusia kembali pada kondisi awalnya: makhluk yang menyanggupi diri menjadi pemakmur Bumi, makhluk yang ditunjuk mewakili sifat-sifat-Nya yang agung. Untuk mengobati kerinduan-Nya, Allah menghadirkan bulan Ramadan setiap tahun. Sebulan itu, Allah menyaksikan kaum muslim—baik ikut-ikutan maupun dengan keyakinan—berpuasa, berzakat, berbondong-bondong memadati masjid, berusaha memenuhi salat fardu, dan memperbanyak bacaan alquran serta sedekah.

Allah menjadikan Ramadan sebagai “pengingat tahunan” bagi hamba-hambanya. Melalui momen Ramadan dan Idul Fitri ini, Allah mengingatkan manusia, khususnya umat Islam yang beriman, untuk menghidupkan dan mendengarkan kembali suara hati yang secara tidak langsung adalah "Suara Tuhan". Bukankah sejatinya setiap manusia—tak peduli apa pun agama dan bangsanya—memiliki kecenderungan untuk berbuat dan mencintai kebaikan? Allah rindu manusia tidak hanya mudik secara fisik, tapi juga mudik secara elektrik: mengenal dan mengacuhkan kembali getaran sifat-sifat asal yang ditiupkan-Nya. Jadi, ayo kita mudik secara elektrik.

Selamat mulih ke udik. Selamat kembali ke asal.
Tidak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi.

Mohamad Sidik Nugraha
mencari esensi dari sebuah eksistensi

dibaca oleh: 2349 pengunjung