Karunia Ramadan (2): Demi Kemanusiaan

Ramadan. Pada bulan suci ini, bagi umat Islam yang berusaha taat beribadah, terjadi pembalikan. Di saat makan dan minum biasanya menjadi keharusan, ia diharamkan. Di saat tidur menjadi kebutuhan, terjaga dan sembahyang amat dianjurkan. Bahkan, hubungan suami istri yang bernilai ibadah sepanjang waktu, menjadi terlarang pada sebagian hari.

Manusia itu pelupa. Ia lupa pernah berhadapan dengan Sang Pencipta sebelum lahir ke dunia, hingga derita kesadarannya sepanjang hidup menjadi seperti harga yang harus dibayar untuk menggapai kembali ingatan terhadap janji kudus itu, yakni untuk mengesakan-Nya saja. Manusia pun lupa bahwa dalam dirinya telah ditiupkan Ruh-Nya, sehingga bersama Tuhan, ia bisa mengontrol dirinya, sehingga kalau saat kehancuran yang alamiah itu datang, ada yang tetap, yang tidak hancur, yang kembali kepada Yang Abadi. Payahnya untuk hal-hal ini, lupanya nyaris absolut. Mungkin, dalam Ramadhan, manusia kembali ingat.

Janji-Nya itu, bahwa tanda-tanda-Nya tidak hanya tertera dalam Kitab Suci dan ufuk cakrawala, tetapi juga di kedalaman diri, di mana itu ya? Mungkin ia tertimbun jauh di bawah hal-hal sumir seperti kenikmatan makan dan minum, kenikmatan seksual, dan kenikmatan-kenikmatan fatamorgana lainnya, yang sudah dipenuhi kerak dan lumut dalam kesadaran. Mungkin bulan suci bisa menjadi saat menjernihkan kesadaran dan hati. Kalau pun rasa jernih itu sudah lama terlupa, semoga bisa teraba lagi dia, setelah keramaian di perut, hati dan kepala, dibuat reda sesaat. Detoksifikasi, kata ahli kesehatan. Minimalisasi, kata ahli filsafat. Relaksasi dan purifikasi, kata ahli jiwa.

Atau, sederhana saja sebetulnya. Dalam Ramadan, paling tidak, manusia bisa menjadi seperti rumput yang hijau karena rumput memang hijau, menjadi seperti langit yang biru karena langit memang biru, menjadi seperti angin yang lembut karena angin memang jarang ribut, atau menjadi seperti cadas yang diam perkasa karena memang begitulah cadas sejak dulu kala. Dalam Ramadan, manusia berkesempatan menjadi manusia yang suci, karena fitrah manusia memang suci. Simpel saja.

Simpel namun sulit. Sulit tetapi indah. Apalagi jika kita berpuasa dan menemukan indahnya dahaga kepada kesucian. Lantas kita terpesona. Bisa ya, puasa fisik menghasilkan dahaga batin, dan dahaga itu indah? I thought it would be on the way around, saya kira akan sebaliknya!

Ramadan di negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia atau Malaysia, sudah tentu ramai. Meski susah mencari kesederhanaan di tengah-tengah baju-baju Lebaran yang memenuhi pertokoan, mencari ketenangan di tengah bisingnya macet kendaraan menjelang saat berbuka, atau meredakan jantung yang seperti akan turut meloncat keluar setiap melihat harga barang di pasar atau tiket kendaraan lintas kota yang melonjak semua, semua itu adalah wujud antusiasme penduduk menyambut Ramadan dan Lebaran. Itu adalah budaya yang menghangatkan Ramadan, hingga berkahnya bisa dinikmati sebanyak mungkin orang. Ada libur Lebaran. Bahkan ada sekolah-sekolah yang meliburkan diri selama Bulan Suci dan mewajibkan murid-muridnya untuk mengikuti Pesantren Kilat. Televisi dan radio pun berlomba menyiarkan acara unggulan paket Ramadan dan Lebaran. Ramai dan bahkan agak bising, tetapi kehangatan itu perlu.

Tidak ada yang salah dari Australia, tempat saya menetap sementara ini. Seperti negara-negara maju lainnya, ia sedang berusaha menjadi negara multikultur yang baik. Konon, negara ini menjadi negara migran kedua terbesar di dunia, dan di bawah Undang-Undang Antirasdiskriminasi, orang kulit putih, kuning, sawo matang, cokelat tua, hingga hitam-legam, lalu-lalang hampir di setiap pusat perbelanjaan. Mereka semua sudah menerima sertifikat warganegara Australia tetapi masih tetap akrab dalam kebudayaan dan agama asal.

Maka, berdirilah masjid-masjid indah di daerah kantung-kantung budaya Turki dan Arab. Tempat wudunya bahkan dilengkapi kursi-kursi permanen berkilap, air panas dan dingin, sabun cair, gelondongan handuk kertas, dan mesin pengering tangan. Seorang perempuan Australia yang putih kulit, rambut, dan saya rasa juga, hatinya - kendati adiknya masih tinggal di benua nenek-moyangnya di Eropa dan ia berpandangan bahwa “Tuhan” itu tergantung anggapan seseorang – mempresentasikan hasil riset S3-nya yang menarik. Di salah satu negara bagian Australia, ternyata ada masjid yang telah didirikan oleh migran Afghanistan 100 tahun yang lalu. Dengan senyumnya yang juga putih, dia berargumentasi, bahwa kehadiran berbagai macam orang, termasuk orang-orang Afghanistan yang Islamis itu, sudah lebih lama dari anggapan umum, dan mereka tidak melemahkan, tetapi sebaliknya, memperkaya dan memperkuat budaya Australia kontemporer. Kini, penghormatan bagi perempuan muslim pun makin nyaring disuarakan oleh beberapa akademisi yang bukan hanya muslim, di seminar maupun konferensi.
Tetapi, ketenangan memang harus amat utama. Adzan dikumandangkan di dalam mesjid, tetapi tidak lewat pengeras suara, seperti juga tidak ada pengeras suara yang bisa dipakai untuk memperluas jangkauan suara dari dalam gereja, sinagog, pura, atau tempat ibadat lainnya. Cuti Lebaran tentu boleh diminta, tetapi tidak ada libur nasional. Karena waktu kerja, sekolah dan libur diberlakukan sama setiap tahun menurut kalender masehi yang berbeda dengan kalender hijriah, ujian yang kebetulan diadakan di bulan puasa atau bahkan di siang hari setelah salat Id, kadang terjadi. Bahkan jujur saja, saya masih berdoa semoga menjelang hari raya Idul Fitri kali ini tidak ada media Australia lagi yang menyiarkan kontroversi hubungan antara umat Islam dan terorisme seperti yang terjadi tahun lalu, ketika bom London masih hangat.

Terasing? Demikianlah. Orang yang menjadi minoritas Islam di negara asing, tampaknya harus terasing dua kali. Ketidaktahuan dan ketidakmengertian itu seperti ikan mati. Amat dingin rasanya.
 
Tetapi, bukankah keterasingan juga merupakan pembalikan dari keinginan untuk selalu diterima, dimengerti dan bahkan dikagumi? Lagi pula, ia bukan sesuatu yang sengaja diciptakan atau mudah saja dihilangkan. Ia ada, terus mengikuti, seperti bayang-bayang sepanjang badan. Maka, seperti godaan lapar di siang hari bulan suci, mungkin godaan yang musti dikekang adalah godaan untuk mengenyahkan keterasingan itu, baik dengan cara mempertaruhkan keimanan hingga seakan-akan manusia mungkin selamat tanpa Allah sebagai sandaran, atau sebaliknya, membanggakan diri sebagai bagian minoritas elit pilihan Tuhan.

Tuhan Maha Berkehendak. Adalah terlalu berani jika seseorang sampai merasa tahu betul semua Kehendak-Nya. Kemahakasihsayangan-Nya menjamin bahwa Ia adalah hak semua orang. Adalah menyakitkan jika sekelompok orang sampai merasa bahwa Tuhan pasti menyayangi mereka lebih dari yang lain. Kemahaadilan-Nya adalah sebuah rahasia yang melampaui waktu. Jadi membingungkan jika sampai ada yang merasa layak untuk mengklaim secara apriori bahwa Neraca-Nya ada di tangannya saja.
Singkatnya, di penghujung bulan suci ini, di penghujung segala pembalikan, mampukah teringat Tuhan dengan sebaik mungkin? Mungkinkah teringat janji manusia di hadapan-Nya, dengan sepenuh diri? Mungkinkah terbuka kesadaran seorang manusia, bahwa semua ciptaan-Nya adalah tanda-tanda-Nya yang harus dijumpai dan disapa dengan takzim dan hormat? Mungkinkah ditemukan, kerendahatian itu?

Setelah bulan suci ini, saya ingin menjadi manusia, seadanya saja. Kompetensi di bidang ilmu agama, kompetensi di bidang kompleksitas filsafat, tidak punya saya. Saya hanya tahu bahwa Tuhan telah menyempurnakan Islam sebagai agama untuk manusia, dan mengutus para nabi hingga Rasulullah yang juga manusia. Karenanya, jika saya harus beramal dengan Nama-Nya dan demi Islam yang diridai-Nya, saya berharap Ia memperkenankan saya untuk berkata dan bertindak, demi kemanusiaan yang saya kenal.

Dan kemanusiaan yang saya kenal adalah kemanusiaan yang menyukai kedamaian dan pertumbuhan ke arah yang lebih baik, sebagai syarat tegaknya kebenaran. Ia tidak suka disakiti, dijahili atau diperlakukan semena-mena. Ia menemukan kebahagiaan sejati dalam cinta, ketulusan dan ampunan, dan bukan kebencian, prasangka dan dendam. Ia hanya sanggup terasing, jika Allah sudi mengampuni, melindungi dan menjadi Pendamping. Kemanusiaan yang saya kenal, adalah kemanusiaan seorang ibu biasa, yang rendah hati.
Kemanusiaan yang saya kenal itu Anda kenal juga bukan? Selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga hadir kejernihan yang sejati.[]
Sydney, September 2006

* Kandidat doktor Law Faculty dari Sidney University dan penulis buku Mencari Senyum Tuhan (Serambi:2008)

dibaca oleh: 2282 pengunjung