Politik Identitas, Teologi, dan Satanisasi Musuh*

Perang selalu identik dengan luka, air mata, dan dendam. Pelbagai motif bisa dijadikan alasan. Mulai dari ekonomi, teritori sampai budaya. Pertanyaannya, bagaimana perang bisa menjelma suci. Bagaimana mungkin darah yang bercecer bisa menebar harum dupa altar.. Jawabnya adalah teologi. Perang menjadi suci bila merupakan kehendak Tuhan. Pembunuhan menjadi halal karena ditujukan pada musuh-musuh Tuhan. Siapa saja musuh-musuh Tuhan itu? Tak lain adalah mereka yang tak sepaham. Mereka yang menggendong paham spiritual yang aneh dan tak sejalan. Kebencian mulai dari pelenyapan wajah yang lain sebagai sesama manusia. Yang lain menjadi si kafir yang harus diperangi.


Yang baik dan yang jahat oleh perang suci bisa dipelintir sedemikian rupa. Agama bisa mengamini tindakan pelenyapan nyawa manusia. Charles Kimball dalam bukunya When Religion Becomes Evil (2002) menyampaikan lima tanda-tanda yang jahat merasuki agama. Pertama, klaim kebenaran absolut; kedua, kepatuhan buta; ketiga, penetapan sebuah waktu suci-ideal; keempat, tujuan mengamini sarana, dan kelima, perang suci. Kelimanya bekerja merata di semua agama, khususnya agama monoteis.


Buku Perang Suci (Serambi, 2003) karya Karen Amstrong ingin menunjukkan bahwa keempat tanda pertama bertautan erat dengan tanda kelima, perang suci. Perang suci lahir saat sebuah ajaran mengabsolutisir dirinya, memaksakan kepatuhan buta lewat teologi dengan mengandalkan gagasan-gagasan apokaliptik. Sarana menjadi tak lagi dipersoalkan. Tujuan yang suci menipiskan imoralitas sarana. Perang pun menjadi halal. Amstrong melacak gejala ini dalam rajutan sejarah manusia sampai pada perang salib di awal abad ke-10. Perang yang menurut Amstrong memiliki hubungan baik analogis maupun kausal dengan perang-perang suci di abad ini.


Perang salib menurut Amstrong dipicu oleh Eropa yang mengalami neurosa identitas. Identitas yang memerlukan pendefinisian yang lain sebagai bukan eropa. Sasaran pertama adalah Yunani dengan peradabannya yang tinggi dan membuat iri. Saat kekaisaran Byzantium dengan Gereja Timurnya seakan menjadi ganjalan bagi supremasi Eropa Barat. Setelah itu, muslim pun menjadi bulan-bulanan. Mereka dipersepsi sebagai para penolak babi yang tinggi peradabannya dan yang paling gawat: menguasai kota suci Yerusalem. Pembangunan identitas Kristen baru yang sejati pun dicanangkan di Biara Ordo Benedektin Cluny di Burgundy. Reformasi Cluny, begitu gerakan pembangunan identitas itu biasa disebut. Reformasi ini menghasilkan sosok seperti Paus Urban yang terkenal dengan maklumat perang sucinya.


Paus Urban-lah yang berpidato memohon penghentian pertarungan kekuatan antar ksatria Eropa guna bersatu padu menumpas musuh bersama, kaum muslim. Ia menyerukan pembebasan dua lapis yaitu pembebasan kaum Kristen di Asia Kecil dari Turki dan pembebaskan kota suci Yerusalem dari cengkraman kaum kafir. Perjalanan menuju Yerusalem bukan perjalanan biasa. Ia adalah perjalanan ziarah yang diamini Tuhan demi penggenapan firman-firmannya. Aroma apokaliptik pun menyengat kuat. Gagasan-gagasan mengenai kota Yerusalem Surgawi dan kemunculan sang anti krist menyertai perang salib. Ia adalah perjalanan peralihan hidup menuju pribadi baru. Sebuah pribadi baru yang seharga sebuah tindak pengorbanan diri yang fatal demi Tuhan.


Apabila perang salib diwarnai pelbagai motif teologis, perang muslim-Yahudi justru pada awalnya bersifat sekuler. Kaum Yahudi diaspora yang menuntut dibentuknya sebuah nasion bagi kaum mereka, berhadapan dengan penduduk Palestina yang sudah terlebih dulu menduduki tanah yang dijanjikan Tuhan itu. Kaum muslim Palestina itu sendiri pada mulanya tidak melihat zionisme sebagai gerakan teologis. Mereka melihatnya sebagai gerakan kolonialisme baru yang diamini Barat. Timur tengah yang bersatu menentang zionisme bukan perjuangan teologis melainkan perjuangan menolak infiltrasi asing di wilayah mereka.


Amstrong sendiri berkeyakinan bahwa stereotip Islam sebagai "agama pedang" adalah proyeksi rasa cemas barat yang berlebihan. Gagasan perang suci di Islam bukan gagasan yang populer pada awalnya. Butuh waktu yang lama bagi kaum muslim untuk menyadari bahwa perang salib adalah bermotifkan teologi. Tak ada retorika penuh amarah soal hilangnya tanah suci dan tak ada sumpah untuk merebut kembali tanah suci atas nama Allah. Timur Tengah saat itu adalah timur tengah yang sangat tenang dan damai.


Ketenangan itu terhenti saat kaum muslim sadar bahwa pembelaan diri adalah suatu yang mutlak perlu. Dan ini disahkan agama. Di bawah kepemimpinan Sultan Nurudin teologi Jihad pun dikembangkan. Perilaku brutal para serdadu perang salib-lah yang memicu legitimasi kekerasan secara teologis dalam Islam. Karena, prasyarat sebuah perang suci tidak dimiliki kaum muslim saat itu. Tak ada pemujaan tanah suci. Tak ada ajaran apokaliptik. Yang hadir nyata hanyalah upaya pemerdekaan rakyat tinimbang pembebasan tanah suci dari yang kafir. Perang salib telah mengilhami pergeseran motif sekuler menjadi religius dalam konflik arab-israel dewasa ini. Itulah kaitan analogis antara perang salib dan jihad muslim-yahudi.


Selain hubungan analogis,. Amstrong juga menunjukkan hubungan kausal antara perang salib dengan perang-perang suci modern. Suasana sebelum perang salib—saat sebelum Paus Urban II memaklumatkan perang salib—adalah suasana yang tenang dan tenteram antara Kristen, Islam dan Yahudi. Namun, setelah pembantaian demi pembantaian berdarah kaum Yahudi dan Muslim oleh para ksatria salib, suasana berubah 180 derajat.


Fantasi moral bergeser menjadi fantasi rival. Fantasi moral adalah imajinasi manusia tentang bernilainya keyakinan orang lain tanpa ia sendiri menjalankannya. Fantasi rival, sebaliknya, adalah proyeksi imajiner tentang yang jahat demi purifikasi diri. Untuk mengukuhkan identitas Kekristenan sebagai umat terpilih (baik metafisis, epistemologis maupun aksiologis), maka proyeksi imajiner diarahkan pada kaum Yahudi dan Muslim sebagai yang jahat. Suasana yang tegang antar keyakinan pun mulai terjalin. Bukankah ketegangan antara Islam dan Yahudi berakar pada antisemitisme yang dikembangkan Eropa Barat. Konflik tak akan berlangsung apabila proyek nation building Yahudi tidak bekerja di timur tengah.


Pencarian identitas yang berjangkar pada teologi menghasilkan sebuah upaya pembangunan imperium kebenaran. Sebuah upaya yang berdampak cukup memprihatinkan karena melumat “kaum tak benar”. Sebuah upaya yang tidak sekadar bekerja keluar melainkan juga kedalam. Selain Gereja Timur, Sekte sempalan Cathari yang menolak segala ide tentang kota suci dan seluk beluk yang menyertainya juga menjadi bulan-bulanan fantasi rival Gereja Katolik. Karen Armstrong membuktikan bahwa dalam sejarah gerakan pencarian jati diri murni selalu mengambil korban saudara sendiri. Setelah yang lain dihabisi, lalu rekan seiman yang bidah pun dikejar-kejar. Sebuah imperium kebenaran tak mentolerir setetes pun ganjalan epistemologis terhadap bangunan-bangunan sucinya.


Dalam buku Perang Suci, Amstrong tidak ingin sekadar menceritakan sejarah perang suci dengan ekses-eksesnya. Melainkan, ia hendak mengatakan sesuatu tentang apa yang terjadi saat ini. Ia mau mengatakan bahwa perang suci selalu berangkat dari upaya penjangkaran identitas dengan menggaet teologi. Penjangkaran identitas Kristen Eropa menghasilkan kesadaran identitas Yahudi dan Islam. Kesadaran yang berujung pada upaya-upaya pemurnian diri dimana perang suci sebagai konsekuensi logisnya. Proyek politik identitas Yahudi di Timur Tengah menghasilkan kesadaran pan-arabisme yang kemudian dimasuki teologi. Politik identitas telah menggeser motif sekuler menjadi teologis.


Tak ada momen-momen yang lebih berbahaya saat yang sekuler menjelma teologis. Saat teologi masuk, kekerasan pun menjadi banal. Kekerasan tidak lagi dirasakan kekerasan. Kekerasan adalah sesuatu yang mendapatkan keabsahan langit. Langit turun mengamini yang jahat. Wajah sesama manusia tak lagi tampil dalam keutuhan manusiawinya melainkan sekadar alat demi gilang-gemilangnya akhir suci sebuah sejarah. Demi penggenapan kehendak Allah, pelenyapan nyawa sesama menjadi halal. Keterasingan dari realitas adalah hasil dari banalisasi kekerasan oleh teologi.


Konflik yang terjadi di timur tengah saat ini menjadi begitu brutal dan sulit diselesaikan salah satunya karena inflitrasi teologi. Pembelaan diri pun bisa kemudian bergerak perlahan menjadi agresi. Saat Yahudi dilihat sebagai musuh teologis ia menjelma sebagai ancaman permanen. Ancaman politis akan selesai setelah persoalan politik berhasil dibereskan. Namun ancaman teologis takkan pernah selesai oleh pengakuan politis. Sebelum imperium kebenaran tegak berdiri, perjuangan akan terus dilanjutkan. Dengan kata lain, sebuah ancaman teologis-permanen tak bisa direspon selintas-datang. Pertahanan terbaik adalah menyerang. Karena hanya dengan menyerang, ancaman bisa dilokalisir dan dinetralisir. Buah dari pemahaman ini adalah politik balas-dendam yang senantiasa berulang.



* Tulisan isi penah disampaikan saat diskusi buku PERANG SUCI, kerja sama Serambi dan British Council di Jakarta

dibaca oleh: 1573 pengunjung